Opini
Gencatan Senjata Gaza dan Ilusi Perdamaian Barat
Hujan bendera Palestina berwarna merah, putih, dan hijau bergulung di bawah langit Eropa yang muram. Di London, di Berlin, di Bern—ribuan orang berjalan dengan wajah penuh tekad, bukan sukacita. Mereka tahu, di Gaza, suara ledakan mungkin berhenti sejenak, tapi penderitaan tidak. Dunia menyebutnya “gencatan senjata,” seolah ada kedamaian. Padahal yang benar, hanya jeda di antara reruntuhan, sepotong keheningan di atas kuburan massal. Ironi ini menampar logika siapa pun yang masih percaya bahwa kekerasan bisa disembuhkan dengan kata “ceasefire.”
Saya rasa, tidak ada kata yang lebih menipu dari “gencatan senjata.” Ia terdengar damai, padahal di baliknya ada perundingan dingin yang sama sekali tak memedulikan tubuh-tubuh kecil yang tak bernyawa di Gaza. Gencatan ini bukan hasil kompromi dua pihak yang setara, melainkan hasil tekanan dari kekuatan yang sejak awal berpihak. Sementara rakyat Palestina, yang hidup di bawah blokade selama bertahun-tahun, dipaksa bersyukur atas jeda yang bahkan tidak memberi mereka kesempatan bernapas lega.
Laporan dari Al Mayadeen menggambarkan adegan yang kontras: di satu sisi, warga Eropa meneriakkan “Free Palestine” dan “Stop the genocide.” Di sisi lain, pemerintah mereka tetap mengirim senjata, tetap membela kejahatan dengan bahasa diplomasi. Inilah absurditas yang terus berulang—Eropa menyalakan lilin untuk perdamaian, tapi tetap memasok bahan bakar bagi penjajahan. Seperti orang yang memadamkan api dengan bensin.
Ben Jamal, direktur Palestine Solidarity Campaign, mengaku lega atas gencatan senjata, tapi ia tahu lega itu rapuh. “Kami berbagi kelegaan rakyat Palestina,” katanya, “tapi juga ketakutan bahwa gencatan ini takkan bertahan.” Kalimat sederhana itu menohok: karena bagi rakyat Palestina, setiap penghentian serangan hanyalah pengumuman bahwa babak berikutnya sedang disiapkan. Kita semua tahu pola ini. Gencatan, provokasi, serangan, dan kembali gencatan. Sebuah siklus kekerasan yang dipoles dengan kata-kata indah oleh media Barat agar tampak manusiawi.
Ada pula ironi yang lebih pahit. Seorang keturunan penyintas Holocaust membawa spanduk bertuliskan: “descendants of Holocaust survivors against Gaza genocide.” Sebuah pernyataan yang menusuk, bukan hanya karena keberaniannya, tapi karena ia menyingkap kemunafikan moral Eropa. Mereka yang dulu bersumpah “tidak akan pernah lagi” kini menutup mata terhadap genosida baru yang berlangsung di hadapan mereka sendiri. Mungkin inilah tragedi paling getir dari sejarah: bangsa yang belajar dari luka masa lalu justru diam ketika luka yang sama terjadi pada orang lain.
Ribuan warga di London, Berlin, dan Vienna menolak lupa. Mereka tahu, perdamaian sejati tak akan lahir dari kata “ceasefire” yang disusun di ruang rapat diplomatik, tetapi dari pengakuan terhadap ketidakadilan yang sudah terlalu lama dibiarkan. “Ceasefire is the bare minimum,” kata seorang mahasiswa muda. Ia benar. Menghentikan tembakan bukanlah bentuk kebaikan, tapi kewajiban moral yang mestinya sudah ada sejak hari pertama peluru ditembakkan. Namun dalam dunia yang dikuasai logika kekuasaan, bahkan hal yang paling mendasar pun harus diperjuangkan di jalan-jalan dengan teriakan dan spanduk.
Sementara itu, media arus utama tetap menyiarkan gambar “kembali ke rumah” di Gaza, seolah rakyat Palestina pulang dari perang yang telah usai. Padahal yang mereka datangi bukan rumah, melainkan reruntuhan. Seorang perempuan tua dalam laporan berkata, “Mereka tidak kembali ke apa pun. Mereka kembali ke kurang dari tidak ada. Reruntuhan di atas mayat, di atas selokan.” Kalimat itu bukan metafora, tapi realitas yang dihapus dari layar televisi agar dunia bisa merasa nyaman.
Barat tampak lebih ingin menenangkan nuraninya sendiri daripada menyelamatkan Palestina. Gencatan senjata dijadikan kosmetik moral untuk menutupi borok kemunafikan. Sebab pada saat yang sama, mereka tetap menolak wacana penyelidikan independen terhadap kejahatan perang di Gaza, tetap menekan lembaga-lembaga HAM yang berani bersuara, dan tetap menyamakan kritik terhadap zionisme dengan antisemitisme. Semua demi menjaga narasi bahwa “demokrasi” masih berpihak pada kemanusiaan, padahal yang mereka lindungi hanyalah kepentingan ekonomi dan geopolitik.
Saya sering bertanya-tanya, mengapa dunia begitu cepat melupakan Gaza setiap kali senjata berhenti berbunyi. Mungkin karena kita terlalu terbiasa menilai penderitaan lewat ritme berita. Ketika ledakan berhenti, empati ikut padam. Padahal di Tepi Barat, penangkapan dan penyiksaan terus berlangsung; di Gaza, kelaparan tak mengenal gencatan. Api memang tampak padam di layar, tapi bara tetap menyala di bawah puing-puing. Dunia hanya memindahkan kamera, bukan menghentikan kekerasan.
Bagi banyak orang Eropa yang turun ke jalan, protes itu bukan lagi soal Palestina semata, tapi tentang kemanusiaan yang kehilangan makna. Mereka menolak menjadi warga yang pasif di tengah kejahatan yang dilakukan atas nama keamanan. Di Berlin, seorang buruh tua mengatakan dengan getir, “Pemerintah kami ada di sisi yang salah dari sejarah.” Pernyataan itu menggema di seluruh benua—karena mereka tahu, keberpihakan buta terhadap zionis bukan lagi bentuk solidaritas terhadap masa lalu, melainkan pengkhianatan terhadap masa depan.
Kita di Indonesia seharusnya belajar dari mereka yang masih berani turun ke jalan. Mungkin kita tak bisa menghentikan perang, tapi kita bisa menolak lupa. Kita bisa menolak narasi palsu yang menyebut perlawanan Palestina sebagai terorisme, sementara penjajahan disebut pertahanan diri. Di negeri ini, di mana suara keadilan sering tenggelam oleh politik pencitraan, sikap solidaritas adalah bentuk kewarasan terakhir yang tersisa.
Gencatan senjata Gaza mungkin terlihat seperti kabar baik, tapi hanya bagi mereka yang menonton dari jauh. Bagi rakyat Palestina, ia hanyalah jeda di antara kehilangan. Dan bagi dunia, ia adalah ujian moral: apakah kita akan kembali diam hingga babak berikutnya dimulai? Atau akhirnya berani berkata bahwa perdamaian sejati tak mungkin lahir dari ketidakadilan yang dibiarkan hidup begitu lama.
Saya percaya, kebenaran bukan milik siapa yang menang perang, tapi siapa yang tetap memegang nurani di tengah reruntuhan. Dan mungkin, selama masih ada yang berani meneriakkan “Free Palestine” di jantung kota London, nurani dunia belum sepenuhnya mati. Namun jika kita terus menyebut genosida sebagai “konflik,” dan gencatan senjata sebagai “perdamaian,” maka jangan heran bila suatu hari nanti sejarah menulis bahwa dunia memilih berpaling saat kemanusiaan sedang dibantai.

Pingback: Gencatan Senjata yang Mati di Tangan Israel - vichara.id