Opini
Gencatan Senjata Gaza: Damai yang Membunuh Perlahan
Hujan turun deras di Gaza, dan ironinya terasa menyesakkan: air yang seharusnya memberi kehidupan justru berubah menjadi vonis mati. Tenda-tenda pengungsian terendam, bangunan rapuh runtuh, bayi menggigil di malam yang tak mengenal belas kasihan. Di saat seperti ini, kata “gencatan” terdengar ganjil, bahkan absurd. Gencatan senjata Gaza katanya telah berlaku, tetapi senjata paling kejam kini bernama dingin, banjir, dan pembiaran. Saya rasa, di sinilah letak kebohongan paling telanjang dari sebuah perjanjian yang diklaim membawa damai.
Kita semua tahu, gencatan senjata Gaza diumumkan dengan bahasa diplomatik yang rapi. Ada tanggal, ada pernyataan resmi, ada konferensi pers yang tertata. Namun realitas di lapangan menolak tunduk pada kertas perjanjian. Rumah-rumah yang telah retak oleh bombardir kini runtuh oleh hujan. Ambulans dan tim penyelamat terhalang puing, bukan hanya oleh beton, tetapi oleh keputusan politik yang membiarkan akses kemanusiaan tersumbat. Dalam 24 jam, korban tetap bertambah. Ini bukan jeda kekerasan; ini perubahan bentuk kekerasan.
Angka-angka yang disampaikan otoritas kesehatan Palestina bukan sekadar statistik. Tujuh puluh ribu lebih martir sejak Oktober 2023, ratusan ribu terluka, dan ratusan korban baru bahkan setelah gencatan senjata Gaza diumumkan. Angka-angka ini seperti jam dinding yang terus berdetak di ruang diplomasi dunia. Bedanya, jarum jam itu berdetak di atas tubuh manusia. Kita diminta percaya bahwa waktu sedang berhenti, padahal darah masih mengalir.
Yang paling menyayat adalah kematian bayi dan anak-anak akibat dingin. Seorang bayi dua minggu, delapan bulan, sembilan tahun. Mereka tidak mati karena misil, tapi karena ketiadaan selimut, pemanas, dan ruang aman. Dalam bahasa sehari-hari, ini seperti seseorang mengunci pintu rumah tetangganya di tengah hujan badai, lalu berkata, “Saya tidak memukulnya.” Secara teknis benar, secara moral memalukan. Gencatan senjata Gaza, dalam praktiknya, membiarkan alam dan kelaparan menyelesaikan pekerjaan yang senjata tinggalkan.
Ada yang berkata, ini musibah alam. Hujan, badai, cuaca ekstrem. Tapi kita hidup di negeri tropis; kita tahu hujan tidak pernah membunuh sendirian. Yang membunuh adalah rumah yang rapuh, saluran air yang rusak, dan tenda yang tak layak. Di Gaza, semua itu bukan kebetulan. Itu hasil dari blokade berkepanjangan, penghancuran sistematis, dan larangan masuknya bahan dasar. Maka ketika hujan datang, ia tidak netral. Ia bekerja untuk kebijakan yang telah lebih dulu memiskinkan.
Ironi semakin tajam ketika operasi militer masih berlangsung. Drone masih menjatuhkan bahan peledak, artileri masih menyapa malam. Kata “gencatan” dipelintir menjadi jeda selektif—diam di satu tempat, bising di tempat lain. Kita diajak menerima definisi baru tentang damai: damai yang tidak menjamin keselamatan sipil, damai yang tidak membuka koridor kemanusiaan, damai yang tidak menghangatkan bayi. Gencatan senjata Gaza versi ini lebih mirip jeda iklan di tengah tragedi panjang.
Saya sering bertanya, dan mungkin Anda juga: ke mana para pemelopor gencatan ini? Mereka hadir saat pena menyentuh kertas, lalu menghilang ketika kertas itu terbakar oleh realitas. Diam mereka bukan kekosongan; diam adalah pernyataan. Dalam politik global, keheningan seringkali lebih keras daripada pidato. Jika kondisi ini tidak diinginkan, tekanan pasti sudah diberikan. Jika pelanggaran tidak ditoleransi, konsekuensi sudah dijatuhkan. Karena tidak terjadi, maka yang ada adalah penerimaan.
Di sinilah satir itu bekerja dengan kejam. Dunia berbicara tentang “kapasitas terbatas” lembaga kemanusiaan, seolah kapasitas adalah fenomena alam, bukan akibat pembatasan. Kita diberi narasi bahwa semua pihak “menahan diri”, sementara warga sipil menahan dingin dengan jaket tipis dan doa. Kita diajak percaya bahwa gencatan senjata Gaza adalah langkah maju, padahal yang maju justru antrean korban ke ruang jenazah.
Bagi pembaca di Indonesia, ironi ini dekat. Bayangkan banjir tahunan di kota-kota kita. Bayangkan jika pemerintah tahu tanggul jebol, tapi memilih rapat berhari-hari sambil berkata, “Situasi terkendali.” Kita tahu siapa yang disalahkan. Di Gaza, tanggul itu bernama akses obat, bahan bakar, dan tempat berlindung. Ketika tanggul sengaja tidak diperbaiki, banjir korban adalah hasil yang bisa diprediksi.
Ada yang akan menuduh tulisan ini emosional. Mungkin benar. Tapi emosi bukan lawan dari akal sehat ketika fakta-fakta menunjukkan pola. Berulang, dapat diprediksi, dan tetap dibiarkan. Dalam bahasa kebijakan publik, itu bukan kegagalan; itu desain. Gencatan senjata Gaza dirancang cukup tenang untuk meredam kemarahan global, namun cukup longgar untuk membiarkan tekanan struktural terus bekerja. Sebuah keseimbangan yang dingin, efisien, dan kejam.
Saya rasa kita semua tahu, perjanjian apa pun yang membiarkan bayi mati kedinginan telah kehilangan hak moralnya. Tidak ada istilah teknis yang bisa menutupi itu. Tidak ada kalimat diplomatik yang bisa menghangatkan tubuh yang menggigil. Ketika obat tidak boleh masuk, ketika bahan bakar dibatasi, ketika tenda-tenda dibiarkan tanpa perlindungan, maka gencatan senjata Gaza berubah menjadi metafora kosong—indah di mulut, hampa di tangan.
Yang lebih menyedihkan, dunia tampak nyaman dengan metafora itu. Ada konferensi, ada resolusi, ada pernyataan prihatin. Pratinjau kepedulian. Sementara di lapangan, warga menyebut musim dingin sebagai “perang baru”. Perang tanpa peluru, tapi dengan dampak yang sama mematikan. Ini bukan hiperbola; ini kesaksian. Dan kesaksian seperti ini seharusnya memaksa dunia bersuara, bukan berbisik.
Akhirnya, kita sampai pada pertanyaan yang tidak nyaman: apakah ini yang diinginkan? Mungkin bukan dalam bentuk keinginan eksplisit, tetapi dalam bentuk penerimaan dingin terhadap konsekuensi. Dan dalam etika, menerima konsekuensi yang mematikan adalah keterlibatan. Gencatan senjata Gaza, jika terus dibiarkan seperti ini, bukan jembatan menuju damai, melainkan lorong sempit menuju tragedi yang dinormalisasi.
Tulisan ini tidak menawarkan solusi instan. Ia menawarkan kejujuran. Bahwa damai tanpa perlindungan sipil adalah sandiwara. Bahwa gencatan tanpa akses kemanusiaan adalah jeda palsu. Dan bahwa keheningan dunia bukanlah kebetulan, melainkan pilihan. Kita boleh tersenyum getir, marah, atau lelah. Tapi setidaknya, jangan ikut diam.
