Opini
Gaza Dibunuh Sunyi: Monopoli Bantuan Mematikan
Ada bunyi yang tak terdengar di Gaza, tetapi dampaknya sama mematikannya dengan ledakan. Ia tidak menggetarkan kaca, tidak menyalakan sirene, tidak memaksa kamera berlari. Bunyi itu datang dari gudang yang terkunci, dari truk yang tertahan, dari formulir izin yang berputar-putar seperti labirin tanpa pintu keluar. Di sana, hidup diperlambat. Diukur. Dihargai. Saya rasa inilah absurditas paling telanjang dari zaman kita: ketika perang tak hanya membunuh lewat bom, tetapi juga lewat kalkulator.
Kita semua tahu bom membunuh. Itu pengetahuan dasar, nyaris klise. Namun laporan tentang monopoli bantuan Gaza memaksa kita mengakui sesuatu yang lebih mengerikan: bahwa kematian juga diproduksi melalui prosedur, tarif, dan daftar perusahaan “yang disetujui”. Bukan lagi soal peluru, melainkan soal siapa yang memegang kunci roti, bahan bakar, dan akses hidup. Di titik ini, kekerasan menjadi administratif—rapi, bersih, dan sangat efisien.
Dalam laporan yang menjadi landasan tulisan ini, terungkap bagaimana segelintir perusahaan Palestina—dengan restu Israel—bersama mitra logistik di Sinai, menguasai jalur masuk barang ke Gaza. Mekanisme itu diberi nama yang terdengar teknokratis: “goods coordination”. Nama yang menenangkan, seolah sekadar urusan gudang dan jadwal. Padahal, di baliknya, ada biaya per truk yang melonjak hingga puluhan ribu dolar. Ada laba yang menetes dari setiap keterlambatan. Ada kelaparan yang dipelihara.
Di sinilah monopoli bantuan Gaza berubah dari isu teknis menjadi persoalan etis dan politis. Bantuan kemanusiaan, yang seharusnya menyelamatkan nyawa tanpa syarat, direduksi menjadi komoditas. Ia dijual per truk, dipungut per izin, diperas per koordinasi. Kita diminta percaya bahwa ini sekadar “biaya logistik”. Tetapi logistik apa yang pantas dibangun di atas perut kosong anak-anak dan rumah sakit tanpa listrik?
Saya teringat pengalaman sehari-hari yang dekat: ketika listrik padam di rumah, kita panik mencari genset. Ketika harga gas naik, dapur terasa sunyi. Sekarang bayangkan semua itu terjadi bersamaan—dan disengaja. Di Gaza, bahan bakar bukan sekadar energi; ia adalah oksigen bagi rumah sakit. Ketika ia ditahan, kematian bukan lagi kebetulan. Ia adalah konsekuensi yang dapat diprediksi. Dan dalam hukum kemanusiaan, konsekuensi yang dapat diprediksi adalah niat yang disamarkan.
Argumen sering diarahkan untuk mengaburkan tanggung jawab: “Kami hanya perantara,” “Kami mengikuti aturan,” “Tidak ada alternatif.” Saya rasa ini adalah sindiran paling pahit: bahwa ketidakadilan kerap bersembunyi di balik frasa-frasa sopan. Ketika satu perusahaan menjadi satu-satunya pintu, dan pintu itu memungut tarif mencekik, maka kelaparan menjadi kebijakan tak tertulis. Monopoli bantuan Gaza bekerja bukan dengan kekerasan langsung, tetapi dengan kelangkaan yang dikelola.
Data mempertegas kegelisahan ini. Jumlah truk yang masuk jauh di bawah kebutuhan. Gencatan senjata dijanjikan membawa ratusan truk per hari, tetapi realitasnya menyusut drastis. Alat berat untuk membersihkan puing ditahan. Bahan bakar dibatasi. Ini bukan sekadar kegagalan manajemen; ini pola. Dan pola adalah bahasa kekuasaan. Ketika pola itu mengarah pada penderitaan sipil yang sistematis, kita sedang menyaksikan kekerasan struktural dalam bentuk paling dingin.
Yang membuatnya lebih getir adalah kolaborasi lintas peran. Ada kekuatan pendudukan yang mengendalikan izin. Ada aktor regional yang membiarkan satu pintu dikuasai swasta. Ada elite bisnis—sebagian di antaranya berasal dari bangsa yang sama dengan korban—yang memanen rente. Ini bukan cerita hitam-putih; ini mozaik kepentingan. Tetapi mozaik itu punya pusat gravitasi: monopoli bantuan Gaza yang menjadikan hidup sebagai angka.
Satir paling tajam sering lahir dari ironi. Bantuan kemanusiaan dibicarakan dengan bahasa efisiensi, sementara efisiensi itu memproduksi kematian perlahan. Kita diajak bertepuk tangan karena “ada bantuan yang masuk”, padahal jumlahnya tak memadai dan harganya dibayar dengan nyawa. Seolah-olah setetes air cukup untuk memadamkan rumah yang terbakar. Seolah-olah prosedur bisa menggantikan empati.
Saya tidak menulis ini dari posisi netral. Tidak ada netralitas di tengah kelaparan yang disengaja. Ketika seseorang memegang kuasa atas jalur hidup dan memilih memungut rente, ia telah memilih sisi. Ia mungkin tidak menekan pelatuk, tetapi ia menutup gudang. Ia mungkin tidak menjatuhkan bom, tetapi ia menunda obat. Dalam etika politik, ini disebut kekerasan struktural. Dalam hukum, ia bisa menjelma sebagai keterlibatan—aiding and abetting—dalam kejahatan kemanusiaan.
Sebagian akan bertanya: bukankah ini menyederhanakan? Saya rasa justru sebaliknya. Kita terlalu lama menyederhanakan kematian sebagai akibat ledakan semata. Padahal, sejarah penuh dengan contoh pembunuhan tanpa peluru: embargo, blokade, kelangkaan. Semua itu bekerja pelan, senyap, dan efektif. Monopoli bantuan Gaza adalah wajah kontemporer dari praktik lama—kelaparan sebagai alat kontrol.
Ada konteks lokal yang sering luput. Gaza bukan ruang kosong; ia komunitas dengan pasar, keluarga, ritme hidup. Ketika harga melonjak karena biaya koordinasi, pedagang kecil tercekik. Ketika pasokan tak pasti, keluarga menjual barang terakhir. Ini seperti kampung yang hanya punya satu sumur, lalu sumur itu dipagari dan airnya dijual per ember. Siapa pun paham, ini bukan sekadar bisnis. Ini pemerasan.
Ironinya, dunia internasional sering mengaku terjebak. “Tidak ada jalur lain,” katanya. Namun keterjebakan yang dipelihara adalah pilihan. Tekanan politik bisa dikerahkan untuk membuka jalur publik, transparan, non-profit. Tetapi yang kita saksikan adalah adaptasi: lembaga donor menyesuaikan diri dengan sistem cacat, demi menyalurkan bantuan sesedikit itu. Adaptasi yang menyelamatkan citra, bukan nyawa.
Kata kunci utama ini perlu diulang—bukan sebagai mantra, tetapi sebagai peringatan: monopoli bantuan Gaza. Ia muncul dalam izin, biaya, kuota, dan keterlambatan. Ia beranak-pinak menjadi sinonim: kartel bantuan, rente kemanusiaan, kelaparan terkelola. Semua istilah itu menunjuk pada satu realitas: hidup dijadikan variabel dalam perhitungan keuntungan dan kontrol.
Di akhir hari, pertanyaannya sederhana namun menyakitkan: siapa yang bertanggung jawab? Tanggung jawab utama tetap pada kekuatan yang mengendalikan pintu dan kebijakan. Tetapi tanggung jawab tidak berhenti di sana. Mereka yang mengambil untung, mereka yang membiarkan, mereka yang menormalisasi—semuanya menyumbang pada mesin yang sama. Mesin itu tidak berisik, tetapi mematikan.
Penutupnya harus jujur dan tegas. Gaza dibunuh oleh dua tangan: satu memegang senjata, satu lagi memegang kunci. Selama kita hanya mengecam tangan pertama dan memaklumi tangan kedua, kematian akan terus diproduksi—tanpa ledakan, tanpa sorotan, tanpa rasa bersalah. Saya rasa sudah waktunya kita menyebutnya dengan nama yang tepat: monopoli bantuan Gaza bukan sekadar ketidakadilan; ia adalah kekerasan. Dan kekerasan, dalam bentuk apa pun, harus dihentikan.
