Connect with us

Opini

Gaza dan Wajah Baru Kejahatan Dunia Modern

Published

on

A cracked mirror reflecting scenes of war and destruction in Gaza — shattered buildings, fleeing families, and distant tanks. In the foreground, a dust-covered dove struggles to fly, symbolizing the death of peace and the collapse of humanity amid violence.

Gaza hari ini bukan sekadar zona perang. Ia adalah teater terbuka dari kehancuran moral peradaban modern. Setiap reruntuhan bangunan, setiap tubuh kecil yang tak sempat diselamatkan dari puing-puing, adalah monumen atas kebisuan global. Dunia menyebutnya konflik. Padahal, apa yang sedang berlangsung di Gaza bukan lagi perang, melainkan eksperimen brutal tentang sejauh mana manusia bisa menormalisasi kejahatan—asal dilakukan dengan cukup teknologi dan cukup alasan politik.

Dua tahun sudah genosida itu berlangsung. Lebih dari 76.000 nyawa melayang atau hilang, 20.000 di antaranya anak-anak. Angka-angka ini tak lagi sekadar statistik; ia seperti bilangan yang berdarah. Mereka yang hidup, bukan selamat, tapi hanya menunda ajal. Gaza kini menjadi tempat di mana hidup berarti menunggu giliran untuk mati. Dan dunia? Dunia terus berdiskusi di forum-forum diplomatik dengan bahasa yang sehalus pisau bedah—dingin, presisi, tanpa rasa.

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi 💛

Kita pernah mendengar tentang kekejaman masa lalu. Tentang Holocaust di Eropa, Rwanda di Afrika, Bosnia di Balkan. Semuanya pernah mengoyak nurani manusia dan melahirkan janji global: Never again. Tapi Gaza membuktikan bahwa janji itu palsu. Hanya slogan moral untuk menutupi kepentingan politik. Bedanya, genosida dulu dilakukan di balik propaganda tertutup, sementara yang di Gaza terjadi di depan kamera. Dunia menonton genosida secara langsung, bahkan dengan kualitas gambar HD.

Saya rasa, ini yang membuat Gaza lebih mengerikan. Bukan hanya jumlah korban, tapi keterbukaan kejahatan itu. Tak ada lagi kabut propaganda yang bisa dijadikan alasan ketidaktahuan. Semua orang tahu. Semua bisa lihat. Dan semua memilih tidak berbuat apa-apa. Gaza adalah definisi baru kejahatan modern: genosida yang berlangsung di era kesadaran penuh, di mana pembunuhan massal disiarkan secara real-time tanpa malu-malu.

Jika Holocaust menjadi cermin gelap abad ke-20, maka Gaza adalah refleksi retak abad ke-21. Bedanya, Nazi membungkus kejahatannya dengan ideologi rasial; zionis melakukannya atas nama “hak membela diri.” Di balik jargon itu, 200.000 ton bahan peledak dijatuhkan ke wilayah yang bahkan tak bisa mengevakuasi warganya. Setiap hari, anak-anak menjadi statistik baru, rumah sakit menjadi target baru, dan dunia menulis laporan baru. Rutinitas kematian telah menjadi administrasi global.

Dalam dua tahun, 90 persen infrastruktur Gaza hancur. 38 rumah sakit musnah, 197 ambulans dibom, 540 pekerja kemanusiaan tewas. Bila perang memiliki etika, zionis telah melanggarnya semua. Mereka mengebom sekolah, membunuh guru, bahkan menghancurkan tempat ibadah dan kuburan. Itu artinya, bukan hanya kehidupan yang dihapus, tapi juga ingatan dan identitas. Inilah bentuk baru dari kejahatan: membunuh tubuh, lalu menghapus bukti bahwa tubuh itu pernah ada.

Dunia menyebutnya “konflik berkepanjangan.” Ironis, sebab istilah itu seolah menyamakan penjajah dan yang dijajah. Gaza bukan medan perang dua pihak setara; ia adalah penjara raksasa berpenduduk dua juta orang, di mana korban tak punya ruang untuk lari. Tidak ada garis depan di Gaza—seluruh wilayah adalah target. Ketika seorang ibu membawa anaknya ke tempat yang disebut “zona aman” lalu dibom di sana, apa yang tersisa dari makna “aman”?

Dibandingkan dengan perang Bosnia atau Rwanda, Gaza melampaui keduanya dalam hal intensitas dan presisi penghancuran. Di Bosnia, Srebrenica menjadi simbol pembantaian karena 8.000 nyawa melayang dalam satu hari. Di Gaza, angka itu adalah hitungan mingguan. Di Rwanda, pembunuhan dilakukan dengan parang; di Gaza, dilakukan dengan drone berteknologi AI dan bom berpemandu satelit. Dunia telah menyempurnakan cara membunuh—dan justru merasa itu tanda kemajuan.

Kita menyaksikan ironi paling getir dari peradaban digital: manusia yang dulu membangun teknologi untuk menyelamatkan nyawa kini menggunakannya untuk membunuh lebih cepat dan lebih efisien. Setiap bom yang dijatuhkan ke Gaza adalah hasil dari riset, algoritma, dan dana riset pertahanan yang didanai pajak warga negara lain. Artinya, kejahatan ini bukan hanya milik satu bangsa. Ia adalah proyek global yang dibungkus retorika keamanan.

Dan seperti biasa, media arus utama memainkan perannya: mengganti kata genocide dengan conflict, children killed dengan collateral damage. Kata-kata dijadikan penawar rasa bersalah. Begitu mudah dunia menghapus rasa kemanusiaannya lewat tata bahasa. Begitu halus cara kita menormalisasi kebiadaban.

Jika kejahatan masa lalu terjadi dalam ketidaktahuan, maka kejahatan di Gaza terjadi dalam kesadaran penuh. Di situlah letak kebaruannya—ia bukan kejahatan karena buta, tapi karena tahu dan memilih tutup mata. Dunia modern, dengan segala kemajuan teknologinya, gagal memahami pelajaran paling mendasar dari sejarah: bahwa kemajuan tanpa moral hanya menghasilkan mesin pembunuh yang lebih efisien.

Saya teringat pada analogi sederhana: ketika seseorang memukul anak kecil di jalan, dan orang-orang di sekitarnya hanya menonton tanpa menolong, maka yang salah bukan hanya pelaku. Penonton pun turut bersalah. Begitulah dunia terhadap Gaza. Kita semua, entah sadar atau tidak, sedang ikut menjadi penonton pasif atas genosida abad ini.

Kejahatan di Gaza juga menunjukkan sesuatu yang lebih subtil tapi berbahaya: pembusukan moral global. Negara-negara yang dulu lantang bicara tentang hak asasi manusia kini justru menjadi pemasok senjata. Para pemimpin yang dulu menyerukan “demokrasi” kini membungkam jurnalis yang mengungkap pembunuhan anak-anak Palestina. Dunia seolah telah mencapai titik sinis di mana kepedulian manusia bergantung pada siapa korbannya dan siapa pelakunya.

Dan di sinilah absurditas itu memuncak: mereka yang menyebut dirinya korban genosida masa lalu kini melakukan genosida di masa kini. Dengan dukungan penuh dari mereka yang dulu bersumpah tak akan membiarkan tragedi serupa terulang. Sejarah memang tidak berulang, tapi ia sering berima. Gaza adalah rimanya yang paling kelam.

Saya rasa, kejahatan modern ini bukan sekadar tentang bom dan peluru, tapi tentang normalisasi. Tentang bagaimana dunia membiasakan diri pada penderitaan. Tentang bagaimana gambar anak-anak Gaza di bawah puing-puing menjadi sekadar “konten emosional” yang berseliweran di lini masa, lalu menghilang dalam 24 jam seperti story Instagram. Ketika tragedi berubah jadi tontonan, maka empati pun kehilangan makna.

Namun, di tengah semua itu, ada sesuatu yang tak bisa dihancurkan: keteguhan manusia Gaza. Di antara reruntuhan, mereka masih berdoa, masih mengajar, masih melahirkan anak-anak. Mereka tak punya listrik, tapi masih punya cahaya iman. Itulah yang paling ditakuti penjajah: ketabahan yang tak bisa dibom. Karena pada akhirnya, genosida tak akan menang atas makna hidup.

Gaza adalah definisi baru kejahatan modern, bukan hanya karena brutalitasnya, tapi karena ia dilakukan dengan sadar oleh dunia yang mengaku beradab. Dunia yang punya PBB, ICC, dan resolusi, tapi tak punya keberanian. Dunia yang lebih sibuk menghitung ekonomi ketimbang menghitung jenazah anak-anak.

Dan mungkin, itulah pelajaran terselubung dari Gaza untuk kita semua: bahwa kemajuan teknologi tidak membuat manusia lebih manusiawi. Bahwa hukum internasional tanpa keberanian hanyalah arsip. Dan bahwa genosida abad ini bukan lagi dilakukan oleh monster tak berwajah, tapi oleh orang-orang berdasi yang bicara tentang perdamaian di ruang ber-AC.

Pada akhirnya, Gaza bukan sekadar tragedi Palestina. Ia adalah ujian bagi seluruh dunia. Dan sejauh ini, dunia telah gagal.

1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: Gaza, Dua Tahun Setelah 7 Oktober: Dunia yang Mati

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer