Opini
Frustrasi Barrack di Levant: Damai yang Dipaksa Senjata
Ketika dunia menatap ke Gaza, berharap gencatan senjata membawa ketenangan, Washington justru menulis ulang naskah lamanya dengan tinta yang sama: ancaman, tekanan, dan ilusi damai. Dari Sharm el-Sheikh hingga Beirut, diplomasi Amerika kini terdengar seperti doa yang kehilangan maknanya. Tom Barrack, duta besar yang lebih mirip juru khotbah neoliberal, kembali menulis nubuat tentang “perdamaian baru di Timur Tengah”. Tapi di balik retorika yang rapi itu, terselip frustrasi yang nyaris terasa getir: Suriah sudah dijinakkan, namun Lebanon masih menolak berlutut.
Barrack menyebutnya “transformasi besar”. Katanya, Suriah kini bergerak “dari hukuman menuju kerja sama”. Tapi semua orang tahu: ini bukan kebangkitan, melainkan peralihan kendali. Setelah Bashar al-Assad tumbang tahun lalu, Washington memproklamirkan “kemenangan moral” atas diktator yang mereka kutuk, sambil menyambut Ahmad al-Sharaa, mantan elemen Al-Qaeda, sebagai presiden transisi. Dunia menatap dengan bingung: bagaimana mungkin negeri yang hancur oleh perang melawan ekstremisme kini dipimpin oleh salah satu bekas ekstremisnya? Namun bagi AS, itu detail kecil. Yang penting, Damaskus kini masuk orbit mereka.
Dalam logika Barrack, mencabut sanksi atas Suriah bukan tindakan moral, tapi strategi investasi. Ia bicara tentang pembangunan infrastruktur, sekolah, rumah sakit—seolah itu kemurahan hati. Padahal yang ia maksud adalah: buka pintu bagi modal Teluk dan korporasi Barat untuk membeli masa depan negeri itu. Sanksi diganti dengan saham, blokade diganti dengan utang. “Dari paksaan ke kerja sama,” tulis Barrack dengan kalimat indah, tapi kita tahu, itu hanya pergantian borgol dari besi ke emas.
Namun di Lebanon, narasi itu tersendat. Pemerintah Beirut, yang didukung Washington, telah menandatangani keputusan untuk melucuti senjata Hizuollah. Tapi keputusan itu berhenti di atas kertas. Di lapangan, tidak ada satu pun langkah nyata. Militer Lebanon diam, masyarakat sipil skeptis, dan Hizbullah justru semakin populer di wilayah selatan yang terus digempur Israel. Barrack pun kehilangan kesabaran. Dalam opininya, ia memperingatkan: jika Beirut tak bertindak, “Israel akan melakukannya.” Ancaman ini menghapus seluruh topeng diplomasi. Ia bukan lagi diplomat, tapi juru bicara frustrasi sebuah imperium.
Saya rasa, tak ada yang lebih ironis dari seorang pejabat Amerika yang berbicara tentang “kedaulatan Lebanon” sambil menakut-nakuti negara itu dengan perang. Seperti seseorang yang datang membawa bunga sambil menodongkan pistol di bawah meja. Dan yang lebih tragis: sebagian elite Lebanon tahu itu, tapi pura-pura tidak. Mereka butuh bantuan keuangan, butuh legitimasi, dan di bawah tekanan IMF, mereka terpaksa menari mengikuti musik Washington, meski nadanya semakin sumbang.
Barrack menyebut Hizbullah sebagai penghalang perdamaian. Tapi ia menutup mata bahwa kelompok itulah satu-satunya kekuatan yang membuat Lebanon tidak menjadi Gaza kedua. Dalam dua dekade terakhir, hanya pasukan Hizbullah yang mampu menahan agresi Israel dan membebaskan wilayah selatan. Dalam kesadaran kolektif rakyat Lebanon, senjata mereka bukan simbol kekerasan, melainkan jaminan eksistensi. Melucuti senjata Hizbullah berarti membiarkan negeri itu telanjang di hadapan tank-tank zionis.
AS tidak benar-benar ingin perdamaian; mereka ingin kepatuhan. Dan di sinilah tragedinya. Washington menganggap keberhasilan di Suriah—meski semu—sebagai model yang bisa disalin ke Lebanon. Tapi Lebanon bukan Suriah. Struktur sosialnya lebih plural, basis ideologisnya lebih dalam, dan kenangan perlawanan terhadap Israel masih hidup di setiap kampung. Tidak ada kekuatan eksternal yang bisa memutus akar itu dengan ancaman atau embargo.
Dalam laporan yang sama, disebutkan bahwa Israel terus melanggar gencatan senjata, mengebom wilayah selatan, bahkan menghancurkan alat-alat rekonstruksi. Lebih dari 300 orang telah tewas sejak “kesepakatan damai” diumumkan. Namun Barrack tetap menyebutnya “masa optimisme baru”. Saya tidak tahu jenis optimisme apa yang tumbuh di atas puing-puing dan darah. Tapi tampaknya, di Washington, makna kata “damai” sudah lama bergeser: selama bom dijatuhkan oleh sekutu, itu bukan kekerasan, melainkan “penegakan stabilitas.”
Barangkali inilah absurditas paling telanjang dari politik modern: mereka yang menciptakan perang justru menyebut diri “arsitek perdamaian”. Barrack menulis tentang “mosaik kerja sama” di bawah Trump, padahal realitas di lapangan adalah serpihan tragedi yang belum sempat disapu. Ia berbicara tentang “prosperity peace”, seolah kemakmuran bisa menggantikan keadilan. Tapi kita tahu, di Timur Tengah, perdamaian tanpa keadilan hanya berarti penundaan perang berikutnya.
Apa yang terjadi di Levant hari ini, saya rasa, bukan sekadar konflik wilayah. Ini pertarungan antara dua visi dunia: satu yang percaya pada kekuatan pasar dan kekuasaan senjata, dan satu lagi yang bertahan dengan gagasan harga diri dan perlawanan. AS menang di Suriah secara politik, tapi kehilangan legitimasi moral. Mereka menekan Lebanon secara ekonomi, tapi gagal menundukkan jiwanya. Dan Barrack, di antara dua kegagalan itu, berdiri sebagai simbol frustrasi kekuasaan yang kehilangan arah.
Kita di Indonesia, yang sering jadi penonton setia drama geopolitik dunia, seharusnya belajar dari absurditas ini. Betapa mudahnya kata “damai” disulap menjadi alat penaklukan. Betapa seringnya “bantuan pembangunan” menjadi bentuk baru penjajahan. Dalam banyak hal, Timur Tengah adalah cermin masa depan politik global: di mana narasi kemakmuran bisa menutupi kekerasan, dan intervensi disebut solidaritas.
Jika Barrack ingin menulis bab baru tentang perdamaian, seharusnya ia mulai dengan kejujuran: akui bahwa “Levant peace” versi AS hanyalah proyek geopolitik untuk menutup luka yang mereka ciptakan sendiri. Selama Israel masih menjatuhkan bom di Lebanon dan Gaza, selama rakyat Suriah masih hidup di bawah ekonomi rente pasca-rezim, dan selama poros perlawanan terus diburu hanya karena menolak tunduk, maka tidak ada damai—hanya jeda antara dua kehancuran.
Mungkin Barrack lupa, bahwa di negeri-negeri yang ia anggap lemah itu, ada satu hal yang tak bisa dibeli dengan dolar: ingatan. Ingatan akan tanah yang direbut, keluarga yang terbunuh, dan janji yang tak pernah ditepati. Itulah bahan bakar yang membuat perlawanan tetap hidup.
Jadi, jika ia ingin “Levant baru”, ia harus siap menghadapi generasi yang tak lagi takut pada embargo atau ancaman. Sebab mereka sudah lama hidup di bawah keduanya.
Sumber:
- https://english.almayadeen.net/news/politics/barrack-pushes-us-agenda–disarm-hezbollah–rebrand-syria-po
- https://thecradle.co/articles/us-envoy-renews-threats-against-lebanon-as-israeli-warplanes-strike-south
