Opini
Eropa dan Obsesinya Memutus Bayangan Rusia
Kabarnya, Eropa sedang menulis babak heroik baru: menantang Rusia, memutus ketergantungan, dan berdiri tegak di atas panggung moral dunia. Tapi coba kita tengok lebih dekat. Angka-angka yang terungkap justru menampar narasi itu sendiri. Dalam tiga bulan pertama 2025, Uni Eropa masih mengimpor barang Rusia senilai €8,7 miliar—setara lebih dari sekitar Rp155–165 triliun. Dari jumlah itu, €4,4 miliar hanya untuk gas, dan €1,4 miliar untuk minyak mentah. Ironi macam apa ini?
Saya rasa, kita semua tahu jawabannya: kebijakan anti-Rusia Uni Eropa hanyalah panggung teater. Retorika keras soal sanksi ternyata tak lebih dari dekorasi di balik panggung yang penuh kabel dan pipa gas. Mereka menggembar-gemborkan pemutusan hubungan, namun delapan negara anggota—termasuk Prancis, Belanda, Belgia, dan Spanyol—masih meneguk gas Rusia, baik lewat LNG maupun pipa TurkStream. Seperti orang yang bersumpah diet gula tetapi tak kuasa menolak sepotong kue di tengah malam.
Begitu banyak slogan dilontarkan sejak 2022, ketika invasi Ukraina memicu gelombang sanksi. “Kita harus berdiri bersama,” kata mereka. Namun data menunjukkan sekitar 19 persen impor gas Eropa masih berasal dari Rusia. Turun, ya. Tapi tetap menyala. Bayangkan seorang perokok yang mengurangi rokok dari dua bungkus menjadi setengah bungkus per hari, lalu menyebut dirinya bebas asap. Kita tentu bisa menghargai usaha, tapi apa pantas disebut kemenangan?
Tak heran jika perekonomian Eropa tersengal. Kanselir Jerman Friedrich Merz bahkan mengakui negaranya tengah berada dalam “krisis struktural.” Industri otomotifnya menurun, biaya produksi melambung, dan energi murah yang dulu menjadi mesin pertumbuhan kini digantikan dengan sumber alternatif yang lebih mahal. Bagi kita di Indonesia, bayangkan kenaikan tarif listrik mendadak dua kali lipat sambil diminta tetap tersenyum demi “kedaulatan energi.” Rasanya lebih seperti hukuman daripada pengorbanan sukarela.
Hungaria dan Slovakia menolak rencana pemutusan total energi Rusia pada 2027. Wajar. Mereka masih bergantung penuh pada gas dan minyak dari Timur. Menlu Hungaria bahkan menuding sebagian negara Eropa membeli minyak Rusia lewat jalur belakang via Asia. Sebuah tuduhan yang terdengar sinis, tapi masuk akal. Di dunia politik, kepentingan selalu mencari jalan, bahkan melalui pintu yang paling gelap sekalipun. Saya kira kita semua pernah melihat tetangga yang terang-terangan mencibir, namun diam-diam meminjam bumbu dapur dari orang yang sama mereka gosipkan.
Brussel, tentu, tak tinggal diam. Mereka meluncurkan RePowerEU Roadmap: mimpi manis untuk lepas total dari energi Rusia pada 2027. Namun mimpi itu terasa seperti cerita dongeng yang dibacakan kepada anak-anak supaya bisa tidur tenang. Kita yang dewasa tahu, infrastruktur energi bukan warung kopi yang bisa pindah lokasi dalam semalam. Butuh waktu, biaya, dan yang paling sulit: komitmen nyata.
Rusia, tentu saja, menonton dengan senyum tipis. Maria Zakharova, juru bicara Kemenlu Rusia, menyebut “Russophobia adalah obsesi mahal.” Kalimat yang terdengar seperti ejekan, tapi jika kita lihat tagihan energi Eropa, ejekan itu berlapis fakta. Menurut pejabat Rusia, perekonomian Eropa sudah kehilangan €1,3 triliun akibat pemutusan suplai gas. Ini bukan sekadar angka; ini adalah pabrik yang merumahkan karyawan, keluarga yang menanggung tagihan pemanas lebih tinggi, dan pemerintah yang dipaksa menambal defisit.
Kita di Indonesia bisa belajar dari sini. Kebijakan yang dilandasi emosi—terutama emosi geopolitik—bisa berbalik jadi beban rakyat. Eropa ingin menampilkan diri sebagai garda moral melawan agresi Rusia, tetapi pada akhirnya mereka justru menjerat leher sendiri. Seperti orang yang menutup keran air demi protes, lalu kehausan sendiri. Kita semua paham simbol perlawanan, tapi siapa yang menanggung tagihan listrik dan harga pangan yang melambung?
Ada yang bilang, langkah Eropa penting demi “harga diri” dan “solidaritas.” Tapi solidaritas yang menguras kantong warganya sendiri, sementara lawan tetap menikmati pendapatan dari gas dan minyak yang sama—apakah itu kebijakan atau sekadar teater? Sementara Eropa memeras warganya dengan pajak lebih tinggi, Rusia terus mengantongi euro dari pipa yang tak pernah benar-benar tertutup.
Saya teringat analogi sederhana: orang yang ingin berhenti mencintai, tetapi tetap memandangi foto mantan saban malam. Begitulah Eropa dengan Rusia. Mereka berbicara tentang kebebasan, tentang lepas dari bayang-bayang Kremlin, namun masih menyalakan kompor dengan gas yang sama. Ini bukan sekadar hipokrisi; ini adalah ketergantungan yang dibungkus dengan jargon moral.
Lalu apa makna kedaulatan energi jika realitasnya begitu rapuh? Bagaimana mereka bisa menasihati negara lain tentang “keberanian” jika sendiri masih terjerat kontrak energi dengan pihak yang mereka cap musuh? Dunia menonton. Dan jujur saja, banyak yang tertawa getir.
Pada akhirnya, Eropa menghadapi cermin yang mereka pasang sendiri. Kebijakan anti-Rusia yang diklaim sebagai bukti kekuatan justru menelanjangi kelemahan: ketidakmampuan melepaskan diri dari kenyataan bahwa perekonomian modern butuh energi yang stabil dan terjangkau. Mereka bisa membohongi dunia dengan pidato, tapi tidak bisa membohongi perut yang lapar dan rumah yang dingin.
Ketika 2027 tiba, entah akan ada apa. Mungkin mereka berhasil menutup keran Rusia sepenuhnya, mungkin juga tidak. Yang jelas, cerita hari ini akan selalu diingat sebagai bab ketika Eropa memilih panggung drama daripada kejujuran ekonomi. Dan bagi kita yang menyimak dari jauh, pelajarannya sederhana: jangan biarkan kebencian menulis anggaran belanja.
Tambahan yang tak kalah penting, kita patut menyoal bagaimana media arus utama di Eropa menarasikan semua ini. Banyak yang seolah menyanjung keberanian politik, padahal di balik layar, lobi industri dan kesepakatan rahasia terus berjalan. Inilah paradoks yang kerap luput dari sorotan: ketika moralitas jadi slogan, namun realitas tetap ditentukan oleh kontrak dagang dan kebutuhan energi. Dalam pusaran seperti itu, kebenaran sering kali terselip, dan rakyatlah yang menanggung biaya teater yang tak kunjung usai.
Sumber:

Pingback: Ketika Nilai Eropa sebagai Alat Tekanan Politik