Connect with us

Opini

Embargo yang Bocor: Dunia Berteriak, Senjata Tetap Mengalir

Published

on

Ilustrasi editorial bergaya realistik yang menggambarkan dunia berteriak menentang perang sementara senjata terus mengalir melewati embargo yang bocor; simbol kemunafikan global di tengah kehancuran Gaza.

Malam-malam di pelabuhan sering lebih jujur dari pidato politik. Di siang hari, para pemimpin berpose di podium, mengangkat tangan tinggi-tinggi, menyatakan kemarahan atas genosida di Gaza. Tapi di bawah gelap lampu kontainer, kapal-kapal tetap berlayar. Di dalamnya, peti-peti berisi komponen mesin, amunisi, suku cadang jet tempur. Barang yang katanya “sudah dihentikan.” Dunia berteriak, tapi peluru tetap dikirim. Inilah ironi zaman: kemanusiaan dideklarasikan di siang hari, lalu dijual kembali di malam hari.

Saya rasa, kita semua sudah terbiasa dengan sandiwara diplomasi. Setiap kali Gaza terbakar, dunia Barat memainkan dua wajah: satu wajah menangis, satu lagi menandatangani kontrak. Kini lebih dari dua lusin negara mengumumkan pembatasan penjualan senjata ke Israel—atau, tepatnya, ke mesin perang yang telah menewaskan lebih dari seratus ribu warga Gaza dalam setahun terakhir. Spanyol, Irlandia, Belgia, bahkan Kanada ikut mengumumkan larangan. Seolah dunia akhirnya sadar. Tapi mari kita jujur: apa makna embargo jika senjata tetap sampai di medan perang?

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi 💛

Laporan dari Al Mayadeen dan data SIPRI mengungkap kenyataan yang getir. Bahwa 99 persen senjata berat Israel masih datang dari dua negara: Amerika Serikat dan Jerman. Sementara negara-negara lain, yang kini sibuk mendeklarasikan embargo, hanya menyumbang sebagian kecil dari pasokan itu. Dengan kata lain, larangan mereka hanyalah simbol moral tanpa gigi material. Dunia ingin terlihat bersih, tapi tidak benar-benar ingin berhenti kotor. Dan di antara retorika moral itu, penderitaan Gaza terus berlangsung, pelan tapi pasti berubah menjadi kebiasaan yang menumpulkan nurani kita.

Ada sesuatu yang menakutkan dalam kebiasaan. Ketika ledakan di Gaza tak lagi mengejutkan, dan embargo jadi berita yang kita konsumsi sambil lalu. Inggris, misalnya, sudah lama dikenal pandai memainkan drama ini. Tahun 2009 mereka “meninjau” ekspor senjata ke Israel, tapi penyelidikan menemukan mereka tetap menjual suku cadang ke jet tempur F-35 yang membombardir Gaza. Alasannya sederhana: “komponen itu bukan senjata, hanya bagian umum dari sistem internasional.” Begitu cara moralitas direkayasa agar tetap kompatibel dengan profit.

Inilah wajah nyata politik embargo: pernyataan keras di depan kamera, tapi pintu belakang tetap terbuka. Inggris bukan satu-satunya. Kanada mengaku menghentikan semua izin ekspor, tapi data pengiriman menunjukkan aktivitas sampai pertengahan 2025. Italia membatasi ekspor, namun masih mengirim sebagian karena “kontrak lama.” Jerman mengklaim penangguhan, tapi justru menyetujui transfer senjata senilai 292 juta dolar dalam kurun satu tahun. Kalau ini yang disebut “embargo”, maka mungkin definisi kata itu perlu direvisi.

Ironinya, di tengah embargo itu, industri senjata Israel justru mencetak rekor baru: ekspor senjata mencapai 14,8 miliar dolar, lebih dari separuhnya ke Eropa. Bayangkan—Eropa yang setiap hari berpidato tentang hak asasi manusia, justru membeli senjata “battle-tested in Gaza”, senjata yang keampuhannya terbukti di atas reruntuhan rumah dan tubuh anak-anak. Ada sinisme yang tak terucap di sana. Bahwa perang, bagi sebagian orang, hanyalah uji coba lapangan. Dan Gaza, suka atau tidak, telah menjadi laboratorium kematian dunia modern.

Saya kira, ini bukan sekadar soal senjata, tapi soal kemunafikan yang sistemik. Dunia modern mengajarkan kita untuk berempati di depan layar, tapi tetap membiarkan bisnis perang berjalan di baliknya. Kita diminta menyesali tragedi, tapi dilarang menyentuh akar kejahatan: uang dan kekuasaan. Bahkan dalam konteks Indonesia, kita sering mendengar ajakan “netral” seolah moralitas bisa dinegosiasikan. Tapi kalau netral berarti membiarkan genosida berlangsung, bukankah itu sama saja dengan berpihak pada pelaku?

Embargo senjata ke Israel mestinya menjadi ujian sederhana bagi nurani global: siapa yang benar-benar menolak genosida, dan siapa yang sekadar menolak kelihatan buruk di media. Tapi kenyataan menunjukkan, banyak negara memilih jalur aman—jalur diplomasi simbolik yang menenangkan opini publik tapi tidak mengubah apa pun di lapangan. Mereka memisahkan antara moralitas dan kebijakan, seolah kedua hal itu bisa hidup di alam berbeda. Padahal, di Gaza, bom tidak membedakan antara janji politik dan kenyataan.

Yang menarik, di luar lingkaran Barat, justru negara-negara dari Global South yang menunjukkan konsistensi moral. Afrika Selatan, Turki, dan Irlandia misalnya, secara terbuka memutus hubungan militer dan perdagangan dengan Israel. Afrika Selatan bahkan membawa kasus genosida ke Mahkamah Internasional. Langkah ini bukan tanpa risiko, tapi di situlah maknanya. Karena dalam politik global yang dikendalikan oleh uang dan pengaruh, keberanian menegakkan nilai adalah bentuk perlawanan yang paling mahal.

Sementara itu, AS tetap menjadi pemasok utama mesin perang Israel. Mereka bicara tentang “de-eskalasi”, tapi setiap minggu masih ada pesawat kargo yang berangkat dari bandara militer AS ke Tel Aviv, membawa bom pintar dan sistem radar baru. Washington tahu embargo sejati akan mengguncang dominasi geopolitiknya, jadi mereka biarkan dunia memainkan drama moral—asal tidak menyentuh sumber utama masalahnya: ketergantungan Israel pada senjata buatan Amerika. Dunia memboikot tepung, tapi membiarkan bom.

Ada satu kalimat dalam laporan yang tak bisa saya lupakan: “This isn’t self-defense. It’s extermination of a defenseless people.” Kalimat itu diucapkan Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sanchez. Jarang sekali ada pemimpin Eropa yang berbicara sejujur itu. Dan mungkin, di situlah awal perubahan dimulai—bukan dari keputusan birokratis, tapi dari keberanian menyebut kejahatan dengan namanya. Genosida. Bukan perang. Bukan konflik. Tapi genosida yang disponsori senjata, didiamkan oleh diplomasi, dan dibiayai oleh industri.

Saya rasa, dunia kini berada di persimpangan sejarah. Kita bisa terus hidup dalam kenyamanan moral palsu—mengecam dari jauh, berdoa dari ruang ber-AC, sambil membiarkan kapal senjata terus berlayar. Atau kita bisa mulai bertanya lebih dalam: dari mana asal peluru itu, siapa yang menandatangani izinnya, dan siapa yang mendapat untung dari setiap korban di Gaza. Karena pada akhirnya, genosida bukan hanya dilakukan oleh mereka yang menembak, tapi juga oleh mereka yang terus mengizinkan senjata itu dikirim.

Dan mungkin, suatu hari nanti, ketika sejarah menulis kembali bab ini, kita akan disebut sebagai generasi yang tahu semuanya—data, korban, pelaku, dan pengkhianatan—tapi memilih diam karena tak mau kehilangan kenyamanan. Sementara di Gaza, anak-anak masih menggambar langit tanpa pesawat, dan dunia masih sibuk berdebat tentang definisi “embargo.”

 

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer