Connect with us

Opini

Ekstremisme Bersembunyi di Balik Platform Gim Digital

Published

on

Ilustrasi editorial ponsel raksasa menebarkan bayangan berbentuk sosok mengancam, mewakili ekstremisme digital yang mengintai masyarakat

Lampu neon kota berkelip seperti nadi tak sabar, sementara di sudut kamar anak-anak kita, layar komputer memantulkan cahaya biru yang menipu. Kita mengira mereka sedang bermain, tertawa, mengasah keterampilan gim. Kita lega, karena setidaknya mereka “di rumah saja”. Tetapi di balik obrolan suara yang terdengar seperti jargon permainan, ada dunia lain—sunyi, rapat, dan licin—tempat bisikan kebencian tumbuh tanpa terendus. Dunia digital kini punya ruang bawah tanah sendiri, dan sayangnya, kita semua terlambat menyadarinya.

Dalam laporan yang dirilis Axios, terungkap bahwa migrasi percakapan daring tengah bergeser dari Instagram, Facebook, atau TikTok ke ranah yang dulu kita anggap hanya hiburan: Discord, Roblox, dan Steam. Tidak ada gemerlap viralisasi ala media sosial, tidak ada algoritme yang menjeritkan trending. Yang ada hanyalah interaksi tertutup, jangka panjang, dan anonim. Kedengarannya damai, bukan? Justru di situlah jebakannya. Di balik kedamaian palsu itu, ekstremisme dan ujaran kebencian merayap seperti semut di balik tembok rumah.

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi 💛

Jenis ekstremisme yang dimaksud bukan sekadar kata hiasan. Ia mencakup spektrum yang menakutkan. Ada kelompok supremasi ras dan etnis yang merayakan kebencian terhadap imigran, menelusuri sejarah kelam gerakan kulit putih, lalu menyelipkannya dalam candaan gim. Ada radikalisasi kekerasan berbasis ideologi politik atau agama—baik sayap kanan yang bermimpi perang ras, maupun kelompok teroris yang merayu dengan janji surga palsu. Ada pula penyebar teori konspirasi yang mengaburkan fakta, memupuk paranoia, dan mendorong kekerasan nyata di jalanan. Bahkan predator seksual, yang memanfaatkan anonimitas untuk memburu anak di bawah umur, masuk dalam kategori ini. Semua itu bersembunyi di balik avatar lucu dan bahasa “gaming” yang bagi orang luar hanya terdengar seperti kode cheat.

Saya rasa inilah ironi terbesar zaman kita. Kita menertawakan generasi lama yang panik dengan Facebook, tetapi diam-diam kita lengah ketika generasi muda menyeberang ke “ruang bermain” digital. Seolah-olah ketika platform bernama gim, kita berhenti waspada. Kita lupa, predator tak peduli apakah mangsanya sedang menembakkan peluru virtual atau sekadar bercanda di obrolan privat. Mariana Oleizola Rosenblatt, pakar kebijakan teknologi dari New York University, memperingatkan: desain platform ini memang mendorong penyebaran konten berbahaya. Bukan kebetulan, tapi nyaris takdir.

Lihat saja Discord, misalnya. Server tertutupnya seperti rumah kontrakan tanpa alamat. Siapa pun bisa masuk, siapa pun bisa bicara, dan hampir tak ada yang benar-benar tahu siapa yang ada di balik nama samaran itu. Roblox, yang di mata banyak orang hanyalah arena blok-blok warna-warni, diam-diam jadi tempat orang dewasa mencari celah. Steam, dengan katalog ribuan gim, jadi selimut yang empuk untuk percakapan yang ingin tetap tak terlihat. Dan kita? Kita sibuk menatap Instagram Reels.

Ini bukan paranoia. Ini kenyataan pahit. Laporan Axios menegaskan bagaimana kelompok yang diusir dari media sosial arus utama kini menemukan rumah baru di platform gim. Mereka tidak lagi butuh sorotan, justru menikmati gelap. Ibarat air yang mencari celah, ujaran kebencian dan ideologi kekerasan akan selalu menemukan wadah paling poros. Kita menutup satu keran, mereka menggali sumur lain. Begitulah hukum migrasi ekstremisme di dunia digital.

Mengapa mereka memilih ruang seperti itu? Karena anonimitas adalah jubah yang sempurna. Di sana, identitas hanyalah piksel. Nama palsu, avatar lucu, bahasa yang dilapisi istilah permainan—semuanya membentuk benteng tak kasat mata. Mereka bisa mengajarkan kebencian sambil menyamarkan kata-kata dalam “bahasa gaming” yang bagi orang luar hanya terdengar seperti jargon permainan. Bagaimana polisi siber bisa menelusurinya? Rosenblatt mengibaratkan pencarian itu seperti “menemukan tetes air di lautan”. Bayangkan, lautan yang terus meluas setiap jam.

Dan mari kita jujur, perusahaan-perusahaan raksasa ini tidak secepat itu bertindak. Investasi mereka pada moderasi konten tertinggal jauh di belakang laju pertumbuhan pengguna. Mereka lebih sibuk menghitung transaksi in-game ketimbang mengupayakan keamanan pengguna muda. Kita tentu bisa mengerti alasan bisnisnya, tapi apakah kita bisa menerima dampaknya? Setiap detik keterlambatan bisa berarti seorang remaja terperangkap dalam ideologi yang kelak meledak di dunia nyata.

Fenomena ini bukan hanya masalah Amerika. Di Indonesia, jumlah pemain gim daring terus menanjak. Discord dan Roblox kian populer sebagai tempat nongkrong anak muda. Kita kerap menganggapnya “aman” karena berbasis komunitas kecil. Padahal, justru komunitas kecil yang memberi rasa eksklusif dan kedekatan—formula ideal bagi perekrut ekstremis. Mirip dengan warung kopi yang jadi markas kelompok tertentu, bedanya di sini kita tak bisa mengintip dari balik jendela.

Saya melihat ironi yang nyaris puitis. Dunia digital yang kita bangun untuk kebebasan justru melahirkan lorong-lorong gelap. Kita mengeluh soal hoaks di Facebook, lalu melegakan diri karena anak-anak tak lagi aktif di sana. Kita menuntut pemerintah menindak ujaran kebencian di X/Twitter, sambil menepuk bahu sendiri karena merasa aman. Padahal, bahaya sudah berpindah alamat, dan kita bahkan tak tahu di mana harus mengetuk pintu.

Apakah solusinya pengawasan total? Tidak juga. Mengintip setiap percakapan jelas mengancam privasi, bahkan bisa melahirkan negara pengintai. Tapi bukan berarti kita pasrah. Perusahaan harus berani berinvestasi besar dalam moderasi cerdas: sistem yang bisa membaca pola perilaku, bukan sekadar kata kunci. Pemerintah perlu memperbarui regulasi agar sesuai zaman. Dan yang paling penting, keluarga dan sekolah harus meningkatkan literasi digital—mengajarkan anak-anak mengenali tanda bahaya, menumbuhkan keberanian untuk berkata “tidak”.

Saya tahu sebagian orang akan berkata ini terlalu dramatis. Mereka mungkin menyebutnya ketakutan berlebihan. Tapi bukankah kita pernah menyepelekan ancaman hoaks politik? Bukankah dulu kita menertawakan istilah “perang siber” hingga akhirnya merasakannya di pemilu dan pandemi? Dunia digital tak mengenal kata “terlalu dramatis”. Ia hanya mengenal “terlambat”.

Pada akhirnya, tantangan baru di dunia digital bukan sekadar soal teknologi, melainkan soal keberanian moral. Apakah kita rela mengakui bahwa ruang bermain anak-anak bisa jadi pintu masuk ideologi kebencian, kekerasan politik, dan kejahatan seksual? Apakah kita berani menuntut perusahaan untuk berhenti pura-pura tidak tahu? Dunia digital adalah cermin kita sendiri: apa yang kita abaikan akan kembali menatap dengan wajah yang jauh lebih menakutkan.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer