Connect with us

Opini

Dunia Membisu, Israel Menembak Tanpa Gema Balasan

Published

on

Illustration of Israel’s airstrike in Lebanon during a ceasefire, showing global silence.

Dalam dunia yang katanya modern, penuh lembaga dan deklarasi hak asasi, ada satu tempat di mana hukum berhenti berlaku: ketika pelurunya bernama Israel. Seolah ada pengecualian ilahi yang diberikan kepada satu negara untuk menafsirkan “perdamaian” dengan bahasa misil. Lihatlah Lebanon. Negeri yang dulu dikenal dengan aroma cedar dan musik Fairuz kini kembali bergetar oleh suara drone, jet tempur, dan retakan moral dunia yang memilih bungkam.

Pada 11 Oktober lalu, gempuran udara Israel menghantam bisnis alat berat di Msayleh, Lebanon Selatan. Seorang warga Suriah tewas, tujuh orang luka, dan jutaan dolar aset sipil hancur. Bagi kebanyakan negara, itu adalah pelanggaran serius terhadap gencatan senjata. Tapi tidak bagi Israel. Di dunia yang telah kehilangan rasa malu, tindakan semacam itu justru disebut “pembelaan diri.” Ironinya, tak ada satu pun peluru dari Lebanon yang membunuh warga Israel sejak gencatan itu dimulai hampir setahun lalu.

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi 💛

Saya rasa kita semua tahu: keadilan di Timur Tengah tidak lagi hidup, ia hanya dikubur dalam kalimat diplomatik yang rapi. Negara-negara Barat yang dulu berteriak tentang hukum internasional kini menelan lidahnya. Negara-negara Arab yang dulu mengaku penjaga solidaritas justru sibuk menandatangani perjanjian dagang. Dan dunia pun berjalan seperti biasa — seolah pembunuhan bisa menjadi bagian dari rutinitas politik.

Laporan dari Associated Press menyebut lebih dari 270 orang tewas di Lebanon sejak gencatan senjata November 2024, dengan 107 di antaranya warga sipil. Seratus serangan udara, 950 proyektil dari Israel, dan hanya 21 tembakan balasan dari Lebanon. Angka-angka ini bukan statistik; mereka adalah epitaf yang ditulis di tubuh dunia yang sudah kehilangan rasa kemanusiaan. Tapi anehnya, yang ditekan justru Hizbullah — satu-satunya kekuatan yang membuat Israel berpikir dua kali sebelum menyerang habis-habisan.

Inilah absurditas terbesar dari narasi “perdamaian” versi Barat: yang bersenjata untuk melawan disebut ancaman, yang bersenjata untuk menyerang disebut penjaga keamanan. Di meja PBB, diplomasi menjadi teater yang memalukan — semua berbicara tentang stabilitas, tapi tak satu pun berani menyebut pelanggar sebenarnya. Dunia berputar dengan ritme yang aneh: setiap kali Israel mengebom, jam kemanusiaan berhenti berdetak.

Konsep “lessfire” yang dipakai Mona Yacoubian — gencatan senjata yang dikurangi kadar damainya — adalah istilah paling jujur yang menggambarkan situasi ini. Dunia kini hidup di bawah logika “perang rendah intensitas” yang sebenarnya tak pernah berhenti. Israel menyerang setiap minggu, mengklaim “menghancurkan peralatan konstruksi teroris,” padahal yang hancur adalah pabrik semen, bengkel, dan keluarga. Tapi siapa peduli? Barat terlalu sibuk menjual senjata dan menulis laporan kemanusiaan setengah hati.

Lebanon menjadi laboratorium bagi model Gaza: perdamaian bersenjata yang memungkinkan Israel menembak kapan pun tanpa dianggap melanggar. Dan dunia menyebutnya kestabilan. Bayangkan jika logika ini diterapkan di tempat lain: apa jadinya jika negara mana pun boleh menyerang tetangga hanya karena “merasa terancam”? Itu bukan hukum internasional — itu hutan internasional.

Yang paling memilukan adalah bagaimana tragedi pribadi diubah menjadi peristiwa statistik. Dalam serangan di Bint Jbeil bulan lalu, tiga anak kecil tewas bersama ayah mereka. Si kembar berusia 18 bulan. Israel kemudian berkata: “Kami menargetkan militan.” Kalimat itu diulang seperti mantra, seolah bisa menghapus darah di dinding rumah. Dan dunia pun mencatatnya dengan kalimat datar: “collateral damage.” Dua kata yang diciptakan agar manusia tak perlu merasa bersalah.

Sementara itu, Lebanon dilemahkan bukan hanya oleh bom, tapi oleh tekanan politik. Dunia memaksanya melucuti Hizbullah, padahal serangan Israel sendiri menjadi alasan utama mengapa kelompok itu masih dipandang perlu oleh sebagian rakyatnya. Logika sederhana: siapa yang akan melindungi desa-desa selatan jika tentara reguler tak berdaya dan dunia memilih menonton? Menekan Hizbullah tanpa menghentikan agresi Israel sama saja seperti meminta seseorang mematikan alarm saat rumahnya masih terbakar.

Dalam konteks lebih luas, pelanggaran gencatan senjata di Lebanon mengungkap wajah asli “tatanan dunia” hari ini. Barat menulis aturan, Timur Tengah menanggung akibatnya. Dan yang paling ironis, sebagian negara Arab kini menjadi pelayan narasi itu. Mereka memoles kata “normalisasi” agar terdengar seperti kedamaian, padahal yang dijual adalah martabat. Mereka menukar Palestina dengan proyek ekonomi, menukar solidaritas dengan rasa aman palsu di pangkuan Washington.

Di Indonesia, kita sering berbicara tentang keadilan global, tapi mungkin kita perlu jujur: dunia yang kita hadapi bukan lagi dunia moral. Ia adalah dunia kalkulasi. Israel tahu itu, dan memanfaatkannya dengan cerdas. Ia menembak, lalu berbicara tentang perdamaian. Ia melanggar, lalu duduk di forum HAM. Ia mengebom, lalu mengirim delegasi diplomatik. Dan semua orang berpura-pura tidak melihat darah di sepatunya.

Saya kadang bertanya-tanya, kapan dunia kehilangan kemampuan untuk malu? Mungkin sejak bom pertama dijatuhkan tanpa konsekuensi. Atau sejak setiap kecaman PBB diimbangi veto dari Washington. Atau mungkin sejak kata “keamanan” dipakai untuk menjustifikasi pembunuhan anak-anak. Yang jelas, keadilan kini adalah hantu yang hanya muncul ketika pelakunya bukan Israel.

Kuba dan Iran, dua negara yang tersisa dengan suara lantang, tampak seperti sisa-sisa nurani dalam padang sunyi politik internasional. Mereka bukan malaikat, tapi setidaknya mereka masih tahu membedakan mana penyerang dan mana korban. Dunia lain memilih bersembunyi di balik bahasa diplomatik yang steril: “semua pihak harus menahan diri.” Sebuah kalimat yang terdengar bijak tapi pada dasarnya adalah bentuk kepengecutan kolektif.

Realitas ini menampar nurani siapa pun yang masih percaya bahwa hukum internasional punya makna universal. Sebab di hadapan Israel, hukum berubah menjadi usulan. Keadilan berubah menjadi negosiasi. Dan setiap korban sipil menjadi sekadar statistik dalam laporan tahunan lembaga donor. Dunia ini, saya rasa, telah kehilangan arah: ia tahu siapa yang bersalah, tapi memilih tak mengatakannya keras-keras.

Lebanon mungkin jauh dari Jakarta, tapi absurditasnya terasa dekat. Sebab kita pun sering menyaksikan versi kecil dari hal yang sama: kekuasaan yang tak tersentuh, suara rakyat yang diabaikan, kebenaran yang dikalahkan oleh kekuatan. Perbedaannya hanya skala dan senjata. Tapi sumber penyakitnya sama — kemunafikan yang dilembagakan.

Dan begitulah dunia berjalan: Israel menembak, dunia membisu, dan para pejabat berdiri di podium membacakan naskah tentang “harapan perdamaian.” Barangkali memang benar, bukan perang yang menghancurkan dunia ini, tapi diam yang terorganisir. Karena di setiap keheningan setelah ledakan, ada persetujuan tak terucap yang membuat pelaku merasa kebal. Dunia kini bukan kekurangan gencatan senjata, tapi kekurangan hati nurani. Dan itu jauh lebih mematikan.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer