Connect with us

Opini

Dua Wajah Eropa di Gaza: Mengecam tapi Jual Senjata

Published

on

Topeng ganda Eropa: humanisme dan industri senjata

Langit Gaza dipenuhi suara bom, tanahnya dipenuhi reruntuhan, dan dunia dipenuhi suara kecaman. Eropa, dengan wajah serius dan nada diplomatis, berdiri di podium internasional dan menyatakan “keprihatinan mendalam.” Mereka menuding jari ke arah Tel Aviv, menuntut penghentian agresi, dan bahkan menggulirkan wacana sanksi. Sekilas tampak seperti sebuah kebangkitan moral. Namun, di balik panggung, ada cerita lain: kontrak miliaran dolar, pesawat tanpa awak, rudal pertahanan, dan senjata canggih yang terus mengalir. Beginilah absurditas itu: dua wajah Eropa di Gaza—satu meneteskan air mata buatan, satu lagi menghitung laba dari senjata yang sama yang menghancurkan anak-anak di Rafah.

Saya rasa, banyak orang sempat bersorak melihat Eropa seperti mulai berani. Ada harapan seakan-akan negeri-negeri yang selalu menyebut diri sebagai penjaga peradaban akhirnya sadar diri. Tetapi kenyataan tak sesederhana itu. Data dari tahun 2024 mencatat lebih dari separuh ekspor senjata Israel justru mengalir ke Eropa, dengan nilai sekitar 8 miliar dolar. Jadi bagaimana kita membaca ini? Apakah kecaman itu sungguh-sungguh atau sekadar sandiwara diplomatik untuk meredam kemarahan warganya sendiri?

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi 💛

Ironinya begitu jelas. Di Berlin, misalnya, pemerintah mengumumkan pembatasan ekspor suku cadang yang mungkin dipakai di Gaza. Tetapi beberapa hari kemudian, mereka meneken kontrak hampir 1 miliar euro untuk membeli drone Heron dari Israel. Seperti seseorang yang dengan lantang menolak minum soda demi kesehatan, tapi diam-diam menimbun cokelat di lemari. Eropa ingin tampil bersih, padahal tangannya belepotan minyak dari mesin perang yang mereka biayai.

Di jalan-jalan Eropa, ribuan orang turun protes. Mereka menuntut dihentikannya kerjasama militer dengan Israel. Bahkan fasilitas Elbit Systems di Jerman sempat dirusak, dan di Inggris, kelompok Palestinian Action melancarkan aksi hingga akhirnya dicap “teroris.” Ironi itu tak berhenti di situ. Negara yang kerap membanggakan kebebasan berpendapat justru menggunakan hukum untuk melindungi korporasi senjata, bukan rakyat yang dibantai. Pertanyaannya: siapa yang sebenarnya dilayani oleh demokrasi Eropa—rakyatnya atau para pebisnis perang?

Mari kita tengok lebih dalam. Elbit, Rafael, dan Israel Aerospace Industries bukan sekadar menjual senjata, mereka sudah berakar di Eropa. Ada pabrik, ada joint venture, ada akademi militer. Ribuan pekerja Eropa menggantungkan nafkah pada mereka. Dengan kata lain, industri pertahanan Israel sudah bertransformasi menjadi industri Eropa juga. Maka jangan heran bila kontrak terus berjalan. Putus kerjasama berarti bukan hanya memutus hubungan dengan Tel Aviv, tetapi juga dengan pekerja lokal yang sehari-hari merakit rudal atau menguji drone. Apa artinya ini? Bahwa kepentingan ekonomi selalu menang, bahkan di atas penderitaan manusia.

Dua wajah Eropa di Gaza terasa makin jelas ketika kita membaca pernyataan para pejabat industri pertahanan Israel sendiri. CEO Rafael, Yoav Tourgeman, dengan ringan berkata, “meski ada keributan global, pesanan terus naik tiap tahun… kalau perang di Gaza selesai, semuanya akan normal lagi.” Ada semacam keyakinan sinis: badai protes akan berlalu, kontrak akan tetap cair, bisnis akan berjalan. Dan anehnya, Eropa membenarkan keyakinan itu. Mereka boleh menutup pintu pameran untuk Israel di London atau Dubai, tetapi tetap membuka rekening bank untuk transaksi senjata.

Saya teringat analogi sederhana: seperti tetangga yang setiap hari mengecam keras suara bising dari rumah sebelah, tapi diam-diam ikut menyewa alat musik dari band yang sama. Itulah wajah modernitas Eropa yang sering kita kagumi: canggih, penuh retorika, tetapi juga penuh kemunafikan. Apakah ini wajah peradaban yang mereka banggakan? Peradaban yang katanya dibangun di atas humanisme, tetapi justru memproduksi tragedi kemanusiaan?

Di Indonesia, kita sering mendengar istilah “omdo”—omong doang. Dan entah mengapa, istilah itu cocok sekali menggambarkan sikap Eropa hari ini. Mereka bisa membuat resolusi, memberi label, bahkan mengusulkan sanksi. Namun, selama mesin ekonomi berputar dari darah warga Gaza, semua itu hanya jadi teatrikal. Saya rasa banyak orang kini mulai melihat bahwa di balik kata-kata “hak asasi manusia” dan “kebebasan” yang mereka banggakan, terselip industri yang lapar perang.

Kita juga tak boleh melupakan konteks geopolitik. NATO menuntut peningkatan anggaran pertahanan hingga 5% dari PDB pada 2035, naik dari standar 2% yang ditetapkan tahun 2014. Dengan tekanan dari Amerika Serikat dan bayang-bayang Rusia sejak perang Ukraina, Eropa dipaksa mempercepat belanja militer. Maka, kontrak dengan Israel bukan sekadar pilihan, tapi kebutuhan strategis. Lagi-lagi, kepentingan mengalahkan moral. Gaza hanya collateral damage dalam kalkulasi mereka.

Apakah rakyat Eropa sadar? Saya percaya banyak yang sadar. Protes-protes yang terjadi, meski ditindas atau dikecilkan, membuktikan ada suara nurani di sana. Tapi suara itu sering kalah oleh lobi industri pertahanan. Dan inilah tragedinya: demokrasi Eropa yang katanya representatif, justru lumpuh menghadapi kekuatan uang dan kepentingan militer.

Dua wajah Eropa di Gaza bukan sekadar kisah tentang Timur Tengah. Ini juga cermin bagi kita semua. Apakah kita juga kadang berperilaku serupa—mengecam ketidakadilan, tetapi diam-diam menikmatinya lewat produk, kontrak, atau gaya hidup? Eropa hanyalah contoh besar dari dilema universal: antara nilai yang diklaim dan tindakan nyata yang dijalani.

Namun, tetap saja ada perbedaan yang tak bisa kita abaikan. Ketika kontradiksi itu berbuah pada runtuhnya rumah, matinya anak-anak, dan hilangnya generasi di Gaza, kita tak bisa lagi menganggapnya sekadar hipokrisi biasa. Ini bukan hanya soal wajah ganda, ini soal wajah peradaban yang compang-camping. Dan saya rasa, sejarah tak akan menulis Eropa sebagai pahlawan, melainkan sebagai penonton yang ikut memasok peluru dalam tragedi kemanusiaan terbesar di abad ini.

Mungkin suatu hari, setelah perang usai dan catatan sejarah ditulis ulang, Eropa akan ditanya: di manakah posisi kalian ketika Gaza dibombardir? Dan jawabannya akan getir: kami berdiri di dua sisi, mengecam dengan bibir, tetapi mengisi senjata dengan tangan. Itulah dua wajah Eropa di Gaza, dan wajah itu akan terus menghantui mereka, lebih lama daripada kontrak senjata mana pun.

Sumber:

1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: Kekejaman IDF terhadap Anak-anak Gaza Terungkap

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer