Opini
Dua Tahun Badai al-Aqsa dan Kelahiran Dunia Baru
Langit Gaza, dua tahun lalu, tak sekadar menyala karena roket dan bom. Ia menyala karena sejarah sedang menulis ulang dirinya sendiri. Apa yang disebut “Operasi Badai al-Aqsa” kini, dua tahun kemudian, terbukti bukan hanya episode perang — melainkan awal dari pergeseran besar dalam kesadaran global. Dunia yang dulu diatur oleh kekuatan senjata dan propaganda, kini mulai retak dari dalam. Retakan yang dimulai dari satu pagi di Oktober 2023, ketika sekelompok pejuang dari tanah terkepung menantang seluruh mitos kekuasaan modern dengan tekad dan keyakinan.
Saya rasa, dunia belum sepenuhnya memahami makna sebenarnya dari Badai al-Aqsa. Media Barat menyebutnya serangan brutal, militer zionis menamainya tragedi nasional, sementara sebagian dunia Islam melihatnya sebagai mukjizat kecil dari keteguhan iman. Tapi jika kita melihat lebih dalam, operasi itu bukan hanya soal tembakan dan korban. Ia adalah tanda — tanda bahwa tatanan dunia lama sedang kehilangan cengkeramannya. Karena di balik setiap bom yang dijatuhkan ke Gaza, ada gema yang jauh lebih besar: runtuhnya keyakinan bahwa teknologi dan kekuatan ekonomi bisa menaklukkan kehendak manusia untuk merdeka.
Dua tahun berlalu, dan kita melihat perubahan itu di mana-mana. Di Lebanon, Hizbullah bergerak lebih berani, menembus garis merah yang dulu dianggap tabu. Di Yaman, pasukan Ansarullah memblokade Laut Merah, mengguncang perdagangan global yang sebelumnya tak tersentuh oleh politik perlawanan. Di Irak dan Suriah, kelompok yang dulu dianggap “milisi bayangan” kini menjadi bagian dari kalkulasi strategis dunia. Semua ini, sadar atau tidak, berakar pada satu momentum: Gaza yang menolak tunduk. Dunia mungkin masih menamainya konflik lokal, tetapi gema politiknya sudah berskala planet.
Laporan militer zionis yang beredar tahun ini mencatat lebih dari seribu prajurit tewas dan puluhan ribu terluka. Tapi yang lebih menarik bukan jumlahnya, melainkan efek dominonya. Israel kehilangan bukan hanya nyawa, tapi juga kepercayaan. Kepercayaan rakyat terhadap negaranya, terhadap militernya, bahkan terhadap ideologi pendiriannya. Lebih dari 43 tentara dilaporkan bunuh diri sejak perang dimulai, dan ribuan lainnya menderita trauma berat. Statistik ini bukan sekadar angka; ini adalah tanda bahwa bahkan mesin perang paling canggih pun tak bisa melawan kehampaan makna. Mereka kalah bukan di medan tempur, tapi di dalam batin mereka sendiri.
Ironisnya, semakin zionis menembaki Gaza, semakin luas pula simpati dunia terhadap Palestina. Kampus-kampus di Eropa dan Amerika menjadi arena baru perlawanan; dari mahasiswa Harvard hingga buruh di London, dari aktivis di Jakarta hingga pemuda di Johannesburg, satu pesan menggema: Free Palestine bukan lagi slogan, tapi kesadaran global. Dunia yang dulu diam, kini mulai bicara. Dan suara itu tak bisa dibungkam dengan sensor, tak bisa diblokir dengan algoritma.
Saya sering berpikir, mungkin inilah cara peradaban mengoreksi dirinya. Perang yang mereka rancang untuk menghancurkan Gaza justru menghancurkan kredibilitas mereka sendiri. Dunia melihat secara telanjang bagaimana istilah “demokrasi” dan “hak asasi” bisa dipelintir menjadi alat legitimasi kekerasan. Dan dari situ, lahir gelombang baru kesadaran: bahwa perlawanan bukan sekadar soal senjata, tapi juga soal moral. Bahwa kebenaran bisa menjadi senjata paling mematikan di zaman ketika kebohongan dijadikan hukum.
Dari kacamata geopolitik, Badai al-Aqsa juga menandai berakhirnya monopoli Amerika Serikat di Timur Tengah. Kebijakan luar negeri Washington kini tampak gamang: menekan Iran tapi tak mampu menaklukkannya, mendukung zionis tapi kehilangan dukungan publik global. Bahkan sekutu lama seperti Arab Saudi dan Turki kini bermain di dua kaki — menyadari bahwa dunia pasca-Gaza tak lagi sama. Sementara itu, Rusia dan Tiongkok melihat peluang baru: menempatkan diri sebagai penantang moral atas ketidakadilan Barat. Dunia multipolar yang dulu hanya teori, kini mulai terasa nyata.
Tentu, semua ini tak berarti kemenangan sudah diraih. Gaza masih hancur, ribuan anak masih kehilangan keluarga, dan blokade masih menjerat kehidupan sehari-hari. Tapi kita tahu, sejarah tidak selalu ditulis oleh yang menang di medan perang. Kadang, ia ditulis oleh mereka yang bertahan melawan mustahil. Dan Gaza, dua tahun ini, telah menjadi simbol dari keteguhan itu — simbol yang menular, menginspirasi, bahkan menakutkan bagi kekuasaan yang kehilangan arah.
Kita di Indonesia mungkin jauh dari reruntuhan Gaza, tapi tidak dari maknanya. Sebab apa yang terjadi di sana adalah cermin dari dunia yang kita tinggali: dunia yang masih percaya bahwa kekuasaan bisa menebus dosa moral. Padahal, seperti yang kita lihat hari ini, kekuasaan yang kehilangan kemanusiaan akhirnya hanya menyisakan kehancuran bagi dirinya sendiri. Gaza mengajarkan bahwa keberanian moral adalah mata uang terakhir umat manusia — ketika segalanya sudah dijual ke pasar kepentingan.
Dua tahun Badai al-Aqsa bukan sekadar peringatan tentang perang, tapi tentang kebangkitan. Kebangkitan dari ketakutan global terhadap narasi tunggal. Kebangkitan dari ilusi bahwa penindasan bisa dijustifikasi. Dan kebangkitan dari kesadaran bahwa dunia baru sedang lahir — bukan di ruang perundingan elit, tapi di antara reruntuhan, di antara puing-puing keyakinan, di dada manusia yang menolak tunduk.
Saya rasa, ketika kelak sejarah menulis bab tentang masa ini, Gaza tidak akan dikenang hanya sebagai “medan perang”. Ia akan dikenang sebagai tempat di mana dunia lama mulai runtuh, dan dunia baru mulai bernafas. Dunia di mana kebenaran tak lagi monopoli mereka yang berkuasa. Dunia di mana keadilan, meski berdarah, akhirnya menemukan suaranya sendiri.
