Opini
Dolar Tertekan, Hegemoni Mata Uang Mulai Retak
Bayangkan sebuah rumah tua yang dulu berdiri megah, dindingnya kokoh, pintunya anggun, dan semua orang datang untuk berlindung di dalamnya. Tetapi kini, perlahan, gentengnya mulai bocor, catnya mengelupas, dan tiang penyangga yang dulu dianggap abadi ternyata keropos dimakan waktu. Itulah gambaran paling sederhana untuk menjelaskan nasib dolar Amerika hari ini. Mata uang yang selama puluhan tahun dielu-elukan sebagai “penguasa” cadangan devisa global, kini dipaksa menghadapi kenyataan getir: dominasi itu mulai retak.
IMF baru-baru ini melaporkan bahwa porsi dolar dalam cadangan devisa dunia turun ke titik terendah dalam tiga dekade, hanya 56,3%. Angka ini tampak masih mayoritas, masih lebih dari setengah, tetapi tren jangka panjang tak bisa dibantah: puncak kejayaan dolar sudah lewat. Lebih menyakitkan lagi bagi Washington, penurunan ini bukan sekadar angka statistik, tapi cermin dari rapuhnya kepercayaan pasar global terhadap kebijakan ekonomi dan politik Amerika sendiri. Bukankah ironis? Mata uang yang dulu dianggap pelabuhan terakhir justru sekarang terlihat seperti kapal yang kehilangan jangkar.
Bahkan IMF, lembaga yang selama ini kerap dicap sebagai corong kepentingan Barat, dengan jujur mencatat bahwa 92% penurunan porsi dolar terjadi bukan karena bank sentral dunia sengaja menjual cadangan dolar, melainkan akibat pelemahan kurs terhadap mata uang lain. Singkatnya, bukan dunia yang serentak menutup pintu untuk greenback, melainkan greenback sendiri yang kian kehilangan daya magisnya. Dalam paruh pertama 2025, dolar anjlok lebih dari 10% terhadap mata uang utama, catatan terburuk sejak 1973. Tahun 1973—momen yang tak asing bagi kita yang belajar sejarah moneter—tahun ketika sistem Bretton Woods runtuh dan dolar pertama kali dipaksa berdiri tanpa emas sebagai penopang. Kini, setengah abad kemudian, dolar kembali menunjukkan tanda-tanda rapuh.
Tentu saja, Washington akan berkilah. Mereka akan berkata: “ini hanya faktor teknis.” Bahwa pelemahan kurs hanyalah siklus biasa. Bahwa dunia masih membutuhkan dolar sebagai jangkar global. Tetapi mari kita jujur—dunia hari ini tidak lagi sama dengan dunia 1990-an atau awal 2000-an. Amerika Serikat bukan lagi satu-satunya pusat gravitasi ekonomi. Kebijakan proteksionis ala Trump, tekanan vulgar pada Federal Reserve, serta keberanian menggunakan dolar sebagai senjata geopolitik justru mempercepat lahirnya arsitektur keuangan baru yang lebih multipolar. Ketika dolar dijadikan peluru sanksi, banyak negara sadar: terlalu berbahaya bila hidup hanya bergantung pada satu mata uang.
Rusia adalah contoh paling nyata. Sejak 2022, ketika bank-banknya diputus dari sistem keuangan Barat, Moskow terpaksa mempercepat proses de-dolarisasi. Mereka menggandeng mitra dagang, menggunakan rubel, yuan, atau bahkan rupee. BRICS kemudian memeluk gagasan itu, membangun jalur perdagangan baru yang tak tunduk pada dominasi dolar. Kita mungkin pernah menganggap BRICS hanya jargon politik, sekadar forum simbolik, tetapi kenyataan kini berbeda. Mereka bukan hanya menantang narasi Barat, tetapi perlahan mengikis fondasi finansial yang selama ini menopang kekuasaan Amerika.
Saya rasa inilah bagian yang membuat Washington benar-benar gelisah: bukan soal angka semata, tetapi hilangnya aura “tak tergantikan”. Dolar tidak lagi dianggap sakral. Dunia punya pilihan lain, dan pilihan itu semakin beragam. Euro memang masih rapuh, yuan masih dibatasi kontrol ketat Beijing, emas terlalu kaku, tetapi kombinasi mereka semua cukup untuk memberi alternatif. Sama seperti konsumen yang dulu hanya mengenal satu merek sabun, lalu tiba-tiba menemukan banyak pilihan baru di rak supermarket—perlahan tapi pasti, loyalitas mulai goyah.
Lalu, apa artinya bagi kita, di Indonesia, di Asia, di dunia berkembang yang kerap berada di pinggiran narasi besar? Sangat banyak. Kita semua tahu, setiap kali dolar bergetar, pasar kita ikut demam. Harga impor naik, utang luar negeri membengkak, dan stabilitas rupiah dipertaruhkan. Tetapi justru di tengah ketidakpastian inilah peluang lahir. Jika tren multipolar benar-benar kokoh, negara seperti Indonesia punya kesempatan untuk memperkuat peran mata uang regional, entah rupiah, ringgit, atau kombinasi kerjasama ASEAN. Tidak mudah, tentu. Tapi lebih sehat daripada terus hidup di bawah bayang-bayang greenback.
Ada sisi satir yang tak bisa saya abaikan. Amerika selama ini sering menuding negara lain—terutama Tiongkok—melakukan manipulasi mata uang. Mereka marah besar jika yuan dianggap undervalued. Tetapi lihatlah kini, justru dolar yang runtuh bukan karena konspirasi asing, melainkan karena kebijakan domestik mereka sendiri: tarif, pajak, dan defisit. Seperti orang yang menuduh tetangga meracuni sumurnya, padahal ia sendiri yang membuang racun ke dalam air minumnya.
Apakah dominasi dolar akan hilang total? Saya tidak naif. Butuh waktu panjang. Dunia belum siap kehilangan jangkar tunggal. Transisi ke sistem multipolar bisa menimbulkan gejolak besar, bahkan lebih kacau daripada krisis 1997 atau 2008. Tetapi arus sejarah jelas tidak berpihak pada Amerika. Dolar mungkin masih berdiri di panggung utama, tetapi sorot lampu sudah mulai redup, dan panggung itu perlahan dipenuhi aktor-aktor baru yang siap merebut perhatian.
Kita semua tahu, keistimewaan dolar memberi Amerika privilese luar biasa: bisa berutang tanpa takut ditolak, bisa mencetak uang tanpa khawatir kepercayaan hilang, bisa membiayai perang dengan obligasi yang selalu laku. Jika keistimewaan itu pudar, konsekuensinya akan menghantam langsung ke jantung ekonomi AS. Defisit fiskal tak lagi mudah ditutup, biaya utang melonjak, dan dominasi geopolitik ikut terkikis. Dalam bahasa sederhana, jika selama ini Amerika bisa “makan gratis” karena dunia menanggung bebannya, maka di masa depan ia harus mulai membayar tagihan sendiri.
Di titik ini, saya melihat dolar seperti seorang raja tua yang masih duduk di singgasananya, tetapi kursinya sudah retak, mahkotanya mulai miring, dan para bangsawan di sekitarnya bersiap-siap menatap tahta dengan penuh ambisi. Raja itu masih berkuasa, tetapi semua orang tahu waktunya terbatas. Dan sejarah, seperti kita tahu, tak pernah memberi ampun bagi penguasa yang lupa pada keterbatasannya.
Mungkin sebagian dari kita akan berkata: “Ah, itu urusan besar, jauh dari kehidupan sehari-hari.” Tetapi mari renungkan, bukankah harga beras, tarif listrik, dan cicilan rumah kita ikut bergerak karena dolar? Ketika greenback batuk, dunia ikut terserang flu. Maka jangan remehkan laporan IMF itu. Ia bukan sekadar angka kering, tapi sinyal bahwa kita sedang berada di persimpangan besar sejarah moneter. Dan di persimpangan itu, kita harus memilih: terus berjalan di bawah bayangan dolar, atau berani mencari jalur alternatif.
Pada akhirnya, saya yakin, dominasi dolar tidak akan runtuh dengan dentuman keras, melainkan dengan bunyi samar seperti bisikan: perlahan, senyap, tetapi pasti. Dan ketika suatu hari kita bangun dan mendapati dolar tak lagi setangguh dulu, mungkin kita hanya akan menghela napas panjang—sambil berkata, “akhirnya, raja tua itu benar-benar lengser.”
