Opini
Di Balik Dukungan Semu Rusia–China untuk Palestina
Pada suatu sore yang terasa lebih panjang dari biasanya, saya membayangkan bagaimana dunia menyaksikan Gaza dari balik kaca jendela gedung PBB yang dingin. Dari sana, penderitaan manusia berubah menjadi sekadar paragraf resolusi, angka-angka korban, dan frasa diplomatik yang terdengar manis di podium tetapi hambar di medan perang. Ironinya begitu telanjang: jutaan orang berharap pada negara-negara besar yang bicara lantang soal keadilan global, namun pada saat krusial, mereka memilih mundur hanya beberapa langkah sebelum garis moral yang menentukan. Itulah momen ketika Rusia dan China, dua raksasa yang kerap memposisikan diri sebagai penantang hegemoni Barat, memilih abstain atas resolusi PBB yang membuka jalan keterlibatan Amerika Serikat di Gaza. Dan dari sini kegelisahan saya mulai tumbuh: apa arti dukungan jika pada titik paling genting ia berubah menjadi diam yang membiarkan?
Banyak orang mungkin akan berkata, “Setidaknya mereka mengecam.” Tetapi kecaman tanpa tindakan, apalagi kecaman yang tidak menghalangi langkah negara lain untuk menancapkan pengaruh militernya di tanah orang lain, terasa seperti payung yang diberikan setelah badai mereda—atau lebih tepatnya, ketika badai masih mengamuk tapi pemberinya memilih berlindung sendiri. Kalau kita jujur, abstensi Rusia dan China bukan sekadar sikap prosedural; ia adalah jendela yang memperlihatkan betapa isu Palestina ditempatkan dalam kotak kalkulasi, bukan dalam etalase moralitas.
Saya rasa, kita semua sudah tahu bahwa geopolitik tidak pernah menawarkan kesetiaan, hanya transaksi. Tetapi tetap saja menyakitkan melihat bagaimana dua negara yang selama ini menjadi simbol “perimbangan kekuatan global” begitu enggan melangkah lebih jauh ketika Palestina sungguh membutuhkan satu hal yang paling sederhana: keberanian politis. Bukan sembarang keberanian, tetapi keberanian untuk menggagalkan resolusi yang membuka pintu bagi negara yang jelas memiliki rekam jejak panjang sebagai penyokong utama mesin perang Israel.
China dan Rusia, tentu, bukanlah sahabat karib Israel. Kita tahu itu. Mereka sering mengkritik operasi militer Israel, mengecam pelanggaran hukum internasional, dan memproyeksikan diri sebagai pemimpin dunia multipolar yang konon lebih adil. Namun dukungan terhadap Palestina, ketika diperiksa lebih dekat, bukanlah dukungan yang lahir dari solidaritas moral atau komitmen ideologis terhadap pembebasan. Ia adalah dukungan yang diukur, ditakar, dirasa-rasa: cukup untuk menandai jarak dari AS, tetapi tidak terlalu jauh hingga mengganggu kepentingan strategis masing-masing.
Dalam kasus abstensi ini, saya melihat satu pola yang terlalu jelas untuk diabaikan. China, sebagai pemain utama di wilayah yang lebih dipenuhi kalkulasi ekonomi ketimbang sentimen politik, tidak mungkin mengambil risiko berseberangan keras dengan AS ketika peta keuntungannya belum jelas. Beijing lebih memilih terlihat “prudent”—atau dalam bahasa kita, menahan diri sambil menghitung apa yang paling menguntungkan di jangka panjang. Sementara Rusia, yang terjebak dalam perang berkepanjangan di Ukraina dan sedang mencari napas strategis di panggung internasional, tampaknya memilih fokus pada frontnya sendiri ketimbang membeli konflik baru yang tidak menjanjikan keuntungan langsung.
Kita tidak bicara tentang siapa yang baik dan siapa yang jahat. Dunia internasional terlalu kompleks untuk dikotakkan begitu saja. Namun, kita sedang membedah satu hal yang sangat penting: apakah Palestina benar-benar berada di pusat kepedulian dua kekuatan ini, atau hanya menjadi satelit kecil dalam orbit kepentingan global mereka? Dan jawaban yang muncul dari sikap abstain itu, menurut saya, sangat terang: Palestina hanya relevan sejauh ia membantu mereka menambahkan tekanan diplomatik terhadap AS dan Israel. Tidak lebih. Tidak kurang.
Tentu saja, selalu ada dalih yang terdengar teknokratis. Mereka bilang resolusi itu punya celah. Ada fragmen-fragmen yang sesungguhnya menguntungkan AS. Ada bagian yang tidak jelas. Ada format yang terlalu mengarah kepada legitimasi intervensi. Kita bisa menyetujui itu. Namun hal yang mengganjal adalah: jika mereka membaca kejanggalan, mengapa tidak memveto? Mengapa memberi jalan pada resolusi yang mereka nilai berpotensi berbahaya? Di sini saya merasa ada ironi pahit. Seolah-olah mereka ingin tetap terlihat sebagai pembela “tatanan dunia baru,” tetapi tidak ingin menanggung beban penuh dari perlawanan moral itu.
Dalam konteks ini, dukungan semu Rusia–China terhadap Palestina menjadi frasa yang menyimpan lapisan kegetiran. Karena sejujurnya, dunia sudah terlalu lama menunggu kekuatan baru yang tidak hanya pandai mengecam, tetapi juga bertindak ketika hukum internasional diinjak-injak. Kita semua lelah dengan negara-negara yang menggunakan Palestina sebagai panggung retorika, bukan sebagai medan perjuangan bagi keadilan.
Saya teringat analogi yang sangat dekat dengan keseharian masyarakat kita: seseorang yang terus berteriak membela temannya yang sedang dizalimi, tetapi ketika tiba saatnya untuk mencegah pintu ditutup atau pukulan terakhir mendarat, dia hanya berdiri sambil berkata, “Saya tidak setuju, tapi saya tidak ikut campur.” Inilah yang terjadi di PBB. Sikap yang tampak netral, tetapi dalam kerangka kekuasaan global, netralitas itu setara dengan membiarkan.
Dan lebih pahit lagi, Palestina tidak punya kemewahan untuk menunggu negara-negara besar itu menyelaraskan strategi mereka. Setiap hari tumpukan puing menunjukkan wajah anak-anak yang terjepit di bawahnya. Setiap menit yang berlalu tanpa veto adalah menit yang memberi ruang bagi aktor lain untuk memperluas kontrolnya atas Gaza. Ketika Rusia dan China memilih abstain, mereka bukan sekadar memilih jalur tengah; mereka menyerahkan panggung kepada AS.
Namun saya tidak meminta pembaca untuk membayangkan dunia hitam-putih. Yang saya tawarkan adalah kejujuran untuk melihat bahwa dalam konflik ini, tidak ada kekuatan besar yang benar-benar hadir demi Palestina. Mereka hadir demi diri mereka sendiri, demi pengaruh, demi posisi tawar, demi peta kekuasaan yang terus bergerak. Palestina hanya menjadi catatan kaki dalam drama besar yang mereka tulis.
Pada akhirnya, sikap abstain Rusia–China membuka tabir tebal yang selama ini menutupi kenyataan. Kita perlu menyambutnya dengan keberanian intelektual: jangan lagi menaruh harapan kosong pada kekuatan-kekuatan yang memandang Palestina sebagai instrumen. Kita boleh menerima keberadaan mereka dalam percaturan global, tetapi tidak boleh terkecoh oleh retorika muluk yang tidak diikuti aksi nyata.
Saya percaya, masa depan Palestina tidak akan ditentukan oleh veto atau abstain negara-negara besar, tetapi oleh kekuatan internal bangsa itu sendiri, solidaritas global akar rumput, dan keberanian moral komunitas dunia yang tidak lagi menunggu restu dari negara-negara besar untuk bersuara. Sebab dalam dunia yang sedang bergeser ini, hanya suara yang jujur yang akan bertahan. Dan kejujuran pertama yang harus kita akui adalah ini: dukungan Rusia–China terhadap Palestina hanyalah dukungan semu, yang bersinar di podium tetapi redup ketika diuji di ruang pemungutan suara.
