Opini
Di Balik Angka Kematian Gaza, Ada Dunia yang Mati
Mungkin kita sudah terbiasa dengan angka. 67.173 orang tewas. 169.780 terluka. Dua juta jiwa hidup tanpa rumah. Angka-angka itu muncul di layar, kita membacanya sambil menyeruput kopi, lalu menatap notifikasi berikutnya di ponsel. Tapi coba berhenti sejenak. Bayangkan 67 ribu nama itu bukan angka—melainkan wajah, suara, dan napas. Lalu sadari bahwa semua itu terjadi bukan karena gempa, bukan karena bencana alam, tapi karena sebuah negara bernama Israel memutuskan bahwa hidup mereka tak layak dipertahankan.
Laporan terbaru dari Kementerian Kesehatan Palestina menyebut dua tahun setelah 7 Oktober 2023, Gaza kini bukan lagi kota, melainkan reruntuhan. Lebih dari 80% bangunannya hancur. Hampir seluruh penduduknya mengungsi, beberapa kali. Setiap hari, 77 anak menjadi yatim, 29 perempuan menjadi janda, dan 16 ibu kehilangan janin sebelum sempat melihat dunia. Ini bukan statistik perang. Ini laporan kematian massal yang dilakukan dengan presisi administratif, disiarkan langsung ke seluruh dunia. Dan dunia—kita semua—menonton.
Kata “pertahanan diri” sudah lama kehilangan maknanya. Ia berubah menjadi mantra busuk yang diulang agar pembantaian terasa masuk akal. Padahal, siapa yang membela diri dari bayi kelaparan? Siapa yang mengebom rumah sakit untuk mempertahankan diri? Siapa yang memblokade makanan, air, dan listrik lalu menyebutnya strategi militer? Hanya mereka yang sudah kehilangan sisi manusianya yang bisa berbicara dengan wajah tenang di depan kamera, menyebut genosida sebagai tindakan preventif.
Saya rasa, inilah ironi terbesar zaman kita. Dunia yang mengaku modern, rasional, dan beradab justru menggunakan bahasa sebagai pelindung kekejaman. Kata “konflik” membuat kita lupa bahwa kekuasaan di situ tidak seimbang. Kata “serangan balasan” menutupi fakta bahwa Gaza tak punya tentara, tak punya peluru berpemandu, tak punya bunker bawah tanah dengan sistem pendingin udara. Yang mereka punya hanyalah tubuh—dan keyakinan bahwa hidup mereka masih punya nilai, meski dunia berkata sebaliknya.
Laporan itu juga mencatat kehancuran total sistem kesehatan: 55% obat-obatan habis, 66% perlengkapan medis musnah, 1.701 tenaga medis gugur. Dokter yang tersisa bekerja di bawah lampu senter ponsel, mensterilkan peralatan dengan air asin, dan menulis nama pasien di kertas yang kian langka. Saya teringat ucapan seorang dokter dari Khan Younis: “Kami tidak lagi berjuang untuk menyembuhkan, hanya berusaha membuat kematian terasa lebih manusiawi.” Kalimat itu seharusnya cukup untuk mengguncang nurani siapa pun yang masih hidup.
Namun dunia tampak tenang. Negara-negara besar berdalih perlu “menyelidiki,” seolah 67 ribu mayat belum cukup sebagai bukti. Lembaga internasional menulis laporan yang indah dalam bahasa diplomatik, tapi tak satu pun berani menyebut pelaku dengan tegas: Israel. Karena menamai pelaku berarti kehilangan kontrak senjata, kehilangan dukungan politik, kehilangan kursi nyaman di forum global. Maka mereka memilih diam. Dan diam, seperti yang kita tahu, juga sebuah posisi.
Starvation warfare—penggunaan kelaparan sebagai senjata—bukan istilah baru. Tapi ketika laporan menyebut 460 orang mati kelaparan dan 51 ribu anak di bawah lima tahun mengalami malnutrisi akut, istilah itu berhenti jadi akademik. Ia berubah menjadi wajah kecil dengan perut kempis dan mata besar yang menatap kosong ke kamera. Gaza kini adalah laboratorium paling brutal dari bagaimana dunia memperlakukan “yang lain.” Yang berbeda. Yang tak sejalan dengan peta politik mereka.
Sebagian orang mungkin merasa lelah membicarakan Palestina. Dua tahun, seribu berita, jutaan unggahan media sosial. Tapi kelelahan kita adalah kemewahan yang mereka tidak punya. Mereka tak bisa berhenti menderita hanya karena dunia bosan. Justru di saat banyak orang mulai “move on,” kekejaman itu bekerja lebih efisien—karena ia tahu, sorotan kamera sudah beralih ke tempat lain.
Yang membuat semuanya makin getir adalah cara kita menormalisasi penderitaan. Setiap gambar reruntuhan kini hanya memicu simpati singkat, bukan kemarahan yang menuntut perubahan. Di Indonesia, kita mungkin sibuk berdebat tentang politik lokal, atau berebut trending topic, sementara di Gaza anak-anak mati karena tak ada susu, tak ada air bersih. Apakah kemanusiaan kita sedemikian selektifnya hingga butuh kedekatan geografis untuk peduli?
Laporan itu menutup dengan seruan mendesak: dunia harus bertindak, segera. Tapi kata “segera” sudah kehilangan maknanya di Gaza. Sejak tahun pertama, sejak serangan pertama, mereka sudah menyerukan hal yang sama. Dua tahun berlalu, dan yang datang hanyalah lebih banyak janji, lebih banyak bom, lebih banyak kematian. Saya kadang berpikir, mungkin dunia memang tak ingin menyelamatkan Gaza. Dunia hanya ingin agar Gaza mati dengan tenang—tanpa mengganggu kenyamanan global.
Kita semua tahu, kejahatan bisa bertahan bukan hanya karena pelaku kuat, tapi karena saksi memilih diam. Dalam hal Gaza, kita adalah saksi yang terlalu banyak bicara tapi terlalu sedikit berbuat. Kita menulis doa di media sosial, mengutuk dari jarak aman, lalu kembali ke rutinitas. Padahal, genosida tidak berhenti karena belas kasihan; ia berhenti karena tekanan, karena keberanian, karena ada cukup banyak orang yang menolak untuk tunduk pada kebohongan.
Dan kebohongan terbesar dalam dua tahun ini adalah bahwa apa yang terjadi di Gaza adalah “perang.” Tidak, ini bukan perang. Ini proyek penghancuran. Ini upaya sistematis untuk menghapus satu bangsa dari peta—bukan karena mereka berbahaya, tapi karena mereka menolak tunduk. Dunia mungkin akan menulisnya sebagai konflik Timur Tengah, tapi sejarah akan menulisnya sebagai aib peradaban modern.
Ketika anak-anak Palestina mati kelaparan di depan kamera dunia, sebenarnya bukan mereka saja yang mati. Sebagian dari kita juga mati—pelan, di dalam. Setiap kali kita menormalisasi kekejaman, sedikit demi sedikit kemanusiaan kita terkikis. Mungkin itulah tragedi paling sunyi dari genosida Gaza: bukan hanya pembunuhan atas tubuh-tubuh, tapi pembunuhan atas rasa malu dunia.
Dua tahun sudah sejak bumi Gaza berubah jadi kuburan raksasa. Tapi barangkali yang lebih menakutkan bukan berapa banyak yang mati di sana, melainkan berapa banyak yang mati di sini—di dalam hati kita sendiri—karena terus menonton tanpa berbuat apa-apa.

Pingback: Gencatan Senjata Gaza: Harapan di Balik Ilusi