Opini
Darah Gaza, Tinta Washington, dan Janji Riyadh
Bau debu dan mesiu di Gaza belum benar-benar hilang ketika Washington mulai mengatur panggung baru. Kamera dunia yang semula menyorot reruntuhan rumah dan tubuh-tubuh kecil kini diarahkan ke meja perundingan berlapis marmer. Di sana, nama-nama besar kembali muncul—Jared Kushner, Ron Dermer, Reema bint Bandar, dan tentu saja Mohammed bin Salman. Mereka duduk, berbicara tentang “normalisasi”, tentang “keamanan kawasan”, seolah-olah tidak ada 68 ribu nyawa yang baru saja dihapus dari peta kemanusiaan. Saya rasa, inilah absurditas paling jujur dari dunia yang kita tinggali: perang dan perdamaian kini memakai parfum yang sama.
Israel dan Arab Saudi dikabarkan akan memulai pembicaraan langsung untuk membuka jalan menuju hubungan diplomatik resmi. Ya, hubungan resmi—kata yang terdengar manis di telinga para diplomat, tapi getir di hati para pengungsi Gaza. Washington, tentu saja, menjadi dalang sekaligus pengatur pencahayaan. Mereka ingin momen ini tampak seperti babak baru perdamaian, padahal semua orang tahu: ini adalah perjanjian antara para pemenang yang sudah lama berhitung untung-rugi di atas tubuh bangsa lain.
Sebelum genosida Gaza dimulai, sebenarnya MBS sudah bersiap menandatangani kesepakatan dengan Netanyahu. Permintaannya pun jelas—jaminan keamanan dari Iran, akses senjata canggih AS, teknologi nuklir, dan janji tentang negara Palestina. Sebuah daftar permintaan yang, ironisnya, menempatkan nasib Palestina di posisi terakhir. Lalu perang datang. Ribuan anak dibunuh, rumah-rumah diratakan, dan dunia menahan napas. MBS mundur sejenak, bukan karena moral, tapi karena waktu yang belum tepat. Kini, setelah gencatan senjata diumumkan, jam politik itu berdetak lagi.
Washington mencium peluang. Trump, lewat Kushner, ingin menghidupkan kembali proyek warisannya—Abraham Accords versi baru, kali ini dengan bintang utama: Arab Saudi. Di balik semua jargon “kerja sama regional” dan “stabilitas Timur Tengah”, kita tahu siapa yang benar-benar diuntungkan: industri pertahanan Amerika, citra politik Netanyahu, dan ambisi global MBS. Palestina? Hanya catatan kaki di perjanjian yang tebalnya diukur dalam milyar dolar.
Ada yang bilang, politik tak mengenal moral. Tapi saya tak yakin kita boleh menyerah pada sinisme semacam itu. Sebab jika kekejaman bisa diubah menjadi mata uang diplomasi, lalu apa arti kemanusiaan? MBS, sang “reformer” yang ingin menjadikan Saudi pusat peradaban modern Islam, kini duduk di meja yang sama dengan negara penjajah. Ia ingin membeli F-35, pesawat tempur yang selama ini hanya diizinkan untuk Israel. Ia ingin membangun reaktor nuklir di tanah Arab, dengan izin—dan pengawasan—Washington. Di mana kedaulatan dalam semua ini?
Ironinya, laporan Israel Hayom bahkan menulis bahwa penghalang utama normalisasi bukan genosida di Gaza, melainkan keinginan Saudi untuk memiliki fasilitas nuklir independen. Bayangkan, bukan soal moralitas, melainkan soal teknologi. Dunia sudah sedemikian dingin, hingga kematian massal tak lagi masuk dalam daftar hambatan diplomatik.
Saya teringat ucapan lama dari seorang guru: “Kadang, kita tak perlu menunggu akhir zaman untuk melihat tanda-tanda kiamat; cukup lihat bagaimana manusia berunding setelah perang.” Lihatlah, bagaimana setelah puluhan ribu orang dibunuh, para pemimpin justru berbicara tentang “momentum baru”. Netanyahu, yang seharusnya diadili di Den Haag, kini disambut kembali sebagai mitra strategis. MBS, yang pernah berpose sebagai pelindung umat, kini siap berjabat tangan dengan pelaku genosida. Dan Washington, tentu saja, memainkan musik latar bernada damai.
Saya rasa kita semua tahu: ini bukan soal perdamaian. Ini soal kekuasaan. Soal kontrol energi, keamanan, dan pengaruh. Amerika ingin menahan kebangkitan Iran, mencegah Tiongkok memegang kendali diplomatik regional, sekaligus memastikan setiap senjata yang menembaki Gaza tetap memiliki label “Made in USA”. Dengan kesepakatan ini, Washington bisa berkata kepada dunia: lihat, Timur Tengah kini tenang—tanpa perlu berbicara tentang mereka yang dimakamkan dalam diam.
Di sisi lain, bagi Netanyahu, kesepakatan ini adalah jalan keluar dari krisis reputasi. Setelah berbulan-bulan dihujani kritik internasional dan tekanan dari dalam negeri, ia butuh kemenangan simbolis. Normalisasi dengan Saudi akan menjadi tiket untuk memulihkan citranya sebagai “pembawa perdamaian”. Dunia mungkin lupa bahwa tangan yang berjabat itu masih berlumur darah. Tapi sejarah, semoga tidak.
Untuk MBS, ini adalah proyek citra. Ia ingin dikenang sebagai arsitek transformasi Arab Saudi—negara yang modern, berpengaruh, dan tak lagi bergantung sepenuhnya pada minyak. Tapi di balik ambisi itu, ada kesepian moral yang menganga. Ia tahu, langkah ini akan melukai solidaritas dunia Islam terhadap Palestina. Namun ia juga tahu, sebagian besar dunia sudah terbiasa menelan kenyataan pahit atas nama kemajuan.
Kita di Indonesia tentu tak punya peran langsung dalam negosiasi itu, tapi ada gema yang terasa. Di negeri ini, solidaritas untuk Palestina selalu hidup, baik di jalanan maupun di masjid-masjid. Tapi solidaritas tanpa pemahaman bisa mudah dijinakkan oleh narasi besar. Saat dunia Arab sendiri mulai melupakan Gaza, bagaimana kita menjaga agar empati tak ikut layu? Apakah kita masih berani menyebut penjajahan sebagai penjajahan ketika para pangeran menyebutnya kerja sama strategis?
Saya kira, yang paling menakutkan dari situasi ini bukanlah diplomasi itu sendiri, tapi normalisasi cara berpikirnya. Ketika pembunuhan massal bisa dikemas sebagai “harga yang harus dibayar demi stabilitas”, maka kita sedang hidup di dunia yang kehilangan arah moral. Israel dan Arab Saudi bisa menandatangani apa pun, tapi itu tak akan menghapus kenyataan bahwa Gaza masih berduka.
Seperti biasa, darah akan mengering. Kamera akan berpindah ke meja konferensi. Dan dunia akan bertepuk tangan. Tapi di bawah semua itu, ada satu pertanyaan yang tak pernah mati: sampai kapan kemanusiaan dijadikan syarat terakhir dalam setiap perundingan?
Kita tahu jawabannya. Mungkin sampai hari ketika para pemimpin berhenti berbicara tentang perdamaian sambil memesan pesawat tempur baru.

Pingback: Bagaimana 25 Negara Jadi Bahan Bakar Tragedi Gaza
Pingback: Blueprint Penjajahan Baru dalam Resolusi 2803
Pingback: Dukungan Gaza terhadap Hamas dan Framing Media Barat