Connect with us

Opini

Boo dan Walkout, Isyarat Dunia Menolak Netanyahu

Published

on

Delegasi meninggalkan ruang sidang PBB saat pidato Netanyahu, simbol isolasi Israel.

Langit Manhattan malam itu seolah menelan cahaya. Di dalam gedung kaca PBB yang dingin, udara penuh ketegangan. Ketika Benjamin Netanyahu melangkah ke mimbar, puluhan kursi serempak kosong. Derap langkah delegasi yang meninggalkan ruangan menjadi semacam irama protes yang lebih nyaring daripada tepuk tangan siapa pun. Dan tiba-tiba, dari balkon terdengar teriakan singkat—boo—menusuk protokol diplomatik yang biasanya steril. Saya rasa, jarang kita melihat bahasa tubuh dunia sejujur itu.

Di panggung, Netanyahu tetap berdiri. Ia berbicara tentang keberanian, tentang dunia yang “caved in” di bawah tekanan media dan “massa antisemit.” Kata-katanya seperti kaset lama yang diputar ulang, retorika yang kita semua tahu ujungnya: menuduh, menantang, sekaligus memohon simpati. Tapi suara langkah kaki yang menjauh berkata lain. Dunia bergerak keluar. Dunia tidak lagi mau mendengar dongeng yang sama. Dunia menolak.

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi 💛

Mari kita jujur, walkout bukan sekadar gesture sopan. Dalam diplomasi, itu bahasa paling tajam sebelum ancaman sanksi. Ketika ratusan delegasi berdiri lalu pergi, mereka sedang menulis kalimat baru dalam buku sejarah konflik Israel-Palestina: isolasi. Dan ketika mereka meneriakkan boo, mereka menandai bab yang lebih gelap. Tak hanya menolak mendengar, tapi menolak mengakui legitimasi pidato Netanyahu. Ini bukan drama remaja; ini panggung geopolitik.

Netanyahu menyebut dunia “caved” di bawah tekanan. Lucu juga, karena yang terlihat justru sebaliknya: negara-negara Barat seperti Australia, Inggris, Kanada, dan Prancis kini mendukung pengakuan negara Palestina. Sebuah putaran balik yang tak pernah dibayangkan dekade lalu. Mereka bukan menyerah pada tekanan, mereka sadar bahwa membela kebijakan militer yang menghancurkan Gaza sudah tak bisa lagi dibungkus alasan “pertahanan diri.” Dunia tak lagi bisa dibutakan oleh retorika antiteror ketika anak-anak Gaza menjadi statistik kematian.

Saya rasa, yang paling ironis adalah cara Netanyahu memamerkan intelijen Israel yang katanya menyelamatkan banyak ibu kota dunia. Ia ingin memantik rasa utang budi. Tetapi fakta di lapangan—ratusan ribu pengungsi, blokade yang memutus pasokan air dan listrik—lebih kuat daripada cerita heroik. Mahkamah Pidana Internasional sudah mengeluarkan surat perintah penangkapan atas dugaan kejahatan perang. Itu bukan “media bias,” itu hukum. Namun, ia memilih menepisnya seperti debu di pundak jasnya.

Di jalanan New York, ribuan demonstran pro-Palestina memblokir Times Square. Bayangkan ironi itu: di kota yang disebut “ibu kota dunia,” suara rakyat jelata dan langkah diplomat berpadu dalam satu koreografi: menolak kebohongan. Mereka yang berjalan keluar dari ruang sidang PBB mungkin tak mendengar teriakan massa di luar, tapi mereka berbagi bahasa yang sama—bahasa perlawanan terhadap narasi yang menutupi penderitaan Gaza.

Kita di Indonesia paham betul makna simbol semacam itu. Ingat saat mahasiswa berbaris menolak kebijakan yang menindas, atau ketika rakyat diam-diam menutup pintu bagi penguasa yang hilang rasa malu. Walkout itu seperti cara kita mematikan mikrofon bagi orang yang terus bicara tapi tak mau mendengar. Sebuah silent treatment yang justru paling bising.

Ada yang beranggapan ini hanya panggung politik, bahwa diplomasi butuh basa-basi. Tapi saya melihatnya sebagai momen kejujuran langka. Para delegasi itu tahu, dunia menatap. Mereka tahu, kamera menyorot. Tetap saja, mereka memilih pergi. Itu keberanian moral yang jarang kita temui di era pernyataan pers dan kata-kata manis. Mereka tidak hanya mewakili pemerintahnya; mereka mewakili nurani global.

Netanyahu mungkin berpikir dia sedang menunjukkan keteguhan. Faktanya, dia berdiri sendirian di mimbar, disaksikan kursi-kursi kosong. Sebuah potret yang lebih kuat daripada kalimat apa pun: seorang pemimpin yang selama ini mengklaim dukungan Barat kini berpidato di hadapan udara. Dan udara, seperti kita tahu, tidak bisa dibohongi.

Bagi warga Gaza, adegan itu mungkin seperti embusan angin tipis di tengah kepungan bom. Tidak menghentikan penderitaan, tapi memberi isyarat: dunia mulai berpaling dari Israel. Tawaran Hamas untuk menukar sandera dengan gencatan senjata menunjukkan bahwa bahkan di sisi yang disebut “teroris,” ada upaya menutup luka. Sementara Netanyahu terus mengobarkan perang yang disebutnya “pertahanan,” tetapi makin sulit dibedakan dari pembalasan membabi buta.

Kita semua tahu, isolasi bukan berarti Israel akan langsung menyerah. Tapi langkah-langkah ini menggerus satu hal yang paling berharga dalam diplomasi: legitimasi. Ketika sahabat lama seperti Inggris dan Kanada mulai bicara tentang pengakuan negara Palestina, itu pertanda fondasi dukungan lama mulai retak. Dan ketika retak itu meluas, runtuhannya bisa memakan waktu, tetapi pasti terjadi.

Saya teringat pepatah Jawa: alon-alon waton kelakon—pelan-pelan asal tercapai. Isolasi Israel mungkin berjalan lambat, tapi setiap kursi kosong di PBB adalah retakan kecil. Setiap “boo” adalah palu yang memukul fondasi narasi lama. Setiap dukungan untuk Palestina adalah paku yang menancap di peti mati ilusi bahwa kekerasan bisa melahirkan keamanan.

Namun isolasi bukan hanya soal diplomasi di ruang sidang. Ia menembus pasar, teknologi, dan citra global. Perusahaan-perusahaan mulai menimbang ulang kontrak, universitas mengkaji kerja sama riset, dan opini publik menekan pemerintahnya untuk berhenti menjadi pemasok senjata. Seperti riak kecil yang menjelma ombak, boikot kultural dan ekonomi perlahan menambah beban Israel yang sudah goyah. Kita melihatnya di media sosial, di kampus-kampus Eropa, hingga ke rak-rak supermarket: gerakan warga yang menolak diam. Itulah kekuatan baru abad ini, kekuatan yang tak mudah dibungkam dengan pidato.

Dan saya percaya, momen ini menjadi cermin bagi kita sendiri. Indonesia sering memuji diri sebagai negara yang menjunjung keadilan, namun apakah kita cukup berani ketika keadilan menuntut konsekuensi nyata? Walkout di PBB mengingatkan bahwa keberanian kadang sesederhana berdiri dan pergi. Barangkali kita pun harus belajar berkata “cukup” ketika kekuasaan—di manapun—mengabaikan kemanusiaan. Karena kalau tidak, kita hanya menjadi penonton yang nyaman, menatap tragedi dari layar ponsel sambil berharap orang lain mengambil sikap.

Jadi, apa makna semua ini? Bagi saya, momen walkout dan teriakan “boo” bukan sekadar berita satu malam. Itu cermin dari dunia yang muak. Dunia yang tak lagi mau mendengar pidato panjang yang menafikan realitas darah dan air mata. Dunia yang, meski terlambat, mulai memilih sisi yang benar. Dan itu, pada akhirnya, jauh lebih keras daripada ledakan apa pun di langit Gaza.

2 Comments

2 Comments

  1. Pingback: Billboard Tel Aviv: Prabowo Diperalat Israel

  2. Pingback: Kekalahan Netanyahu yang Disamarkan Sebagai Kemenangan

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer