Connect with us

Opini

Billboard Tel Aviv: Prabowo Jadi Senjata Narasi

Published

on

Billboard di Tel Aviv menampilkan wajah Presiden Prabowo bersama Trump dan Netanyahu.

Langit Tel Aviv sore itu berpendar jingga, lampu neon mulai menyalakan malam yang sibuk. Di salah satu sudut kota, papan reklame raksasa menatap siapa saja yang lewat. Wajah-wajah besar terpampang: Donald Trump dengan senyum penuh percaya diri, Benjamin Netanyahu menatap tajam, sejumlah pemimpin Arab tampak seolah sepakat, dan di antara mereka, tak kalah jelas, wajah Presiden Indonesia Prabowo Subianto. Huruf kapital menyala terang: “Yes to Trump’s Plan – GET IT DONE.” Sebuah poster yang seperti sengaja diletakkan untuk menantang logika, menimbulkan tanya, sekaligus memancing kegelisahan. Bagi banyak orang Indonesia, gambarnya bukan sekadar billboard; itu seperti potret yang dipinjam tanpa izin, dipajang untuk pesan yang tak pernah ia ucapkan.

Kita semua tahu, Indonesia bukan bagian dari normalisasi ala Perjanjian Abraham. Tak ada hubungan diplomatik dengan Israel, tak ada tanda-tanda pengakuan, bahkan delegasi kita baru saja melakukan walkout saat Netanyahu berpidato di PBB. Namun, papan raksasa itu tetap berdiri, menyalakan lampu dan ilusi. Di dunia yang dikuasai kamera dan media sosial, citra sering lebih memikat daripada fakta. Dan di sinilah ironi itu bersemi: walkout yang tegas di New York justru dijawab dengan billboard yang seolah berbisik, “Indonesia sudah hampir di sini.”

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi 💛

Israel, atau lebih tepatnya Koalisi Israel untuk Keamanan Regional, tentu paham apa yang mereka lakukan. Mereka mengklaim rencana Trump sebagai “jalan serius dan bertanggung jawab” untuk mengubah kemenangan militer di Gaza menjadi terobosan diplomatik. Di balik kata-kata manis itu, kita membaca pesan yang jauh lebih gamblang: jadikan kekuatan senjata sebagai modal tawar-menawar, bukan sebagai alasan untuk berhenti menindas. Billboard ini bukan sekadar iklan; ini instrumen politik. Sebuah catur langkah yang menempatkan Indonesia sebagai pion di papan yang tak pernah kita setujui.

Mengapa Indonesia? Karena Prabowo baru saja berpidato di PBB, menyebut bahwa perdamaian hanya mungkin bila keamanan Israel dijamin. Pernyataan yang sebenarnya wajar dalam konteks solusi dua negara. Tetapi politik internasional jarang peduli konteks. Potongan kalimat itu ibarat percikan api di ladang kering: mudah diambil, dipelintir, dijadikan bukti “kemauan.” Netanyahu bahkan memuji ucapan Prabowo, menyebutnya pertanda. Lihat betapa cepatnya narasi bergeser: dari dukungan terhadap Palestina, menjadi kesan bahwa Indonesia membuka pintu. Padahal pintu itu, secara kebijakan, masih terkunci rapat.

Billboard di Tel Aviv menampilkan wajah Presiden Prabowo bersama Trump dan Netanyahu.

Billboard Tel Aviv yang menampilkan Prabowo dijadikan alat narasi Israel untuk mempromosikan rencana Trump/ @AbrahamShield25

Saya rasa kita perlu jujur: inilah permainan simbol. Israel tak butuh persetujuan tertulis untuk memanfaatkan peluang. Mereka butuh gambar, potongan kata, sedikit drama visual—cukup untuk menipu mata yang tak mau memeriksa detail. Billboard itu bekerja seperti umpan. Dunia melihatnya, media mengulangnya, dan sebagian publik pun mulai bertanya-tanya. Bukankah diam itu tanda setuju? Bukankah tak ada bantahan berarti membenarkan? Di situlah letak jebakannya. Diam memberi ruang bagi fiksi menjadi kenyataan.

Bagi Prabowo, risiko ini nyata. Ia memimpin negara dengan populasi Muslim terbesar, di mana dukungan terhadap Palestina bukan sekadar kebijakan, tetapi denyut identitas. Kita ingat berbagai survei dan aksi massa yang menolak normalisasi. Bayangkan kegaduhan politik jika billboard itu dianggap tanda restu, atau lebih buruk, kesepakatan diam-diam. Lawan politik akan memelintirnya, publik bisa tersulut kecurigaan, dan reputasi sebagai pemimpin yang tegas dalam isu Palestina bisa ternoda hanya karena satu gambar di kota jauh.

Di sinilah pemerintah Indonesia mesti bergerak. Tidak cukup hanya Menlu menegaskan prasyarat pengakuan Palestina, meski itu penting. Kita perlu pernyataan yang lugas, menolak pencatutan, menegaskan bahwa penggunaan wajah presiden tanpa izin adalah tindakan sepihak. Kita tidak bisa membiarkan “consent by silence” menjadi senjata lawan. Politik luar negeri Indonesia dibangun puluhan tahun dengan prinsip dukungan penuh pada kemerdekaan Palestina. Jangan biarkan papan reklame merusak fondasi itu.

Billboard Tel Aviv ini juga memperlihatkan tabiat lama diplomasi Israel: membalikkan kelemahan jadi senjata. Ketika Indonesia melakukan walkout, dunia mencatat ketegasan kita. Tetapi Israel tak bermain di panggung yang sama. Mereka memindahkan pertarungan ke arena persepsi. Di era digital, satu foto yang disebar luas bisa menyaingi pidato satu jam di PBB. Mereka mengerti betul bahwa diplomasi modern tak hanya soal perundingan, tetapi juga tentang menguasai ruang imajinasi.

Di balik itu, kita menangkap aroma satir: rencana Trump yang dihidupkan kembali, seolah dunia lupa rekam jejaknya yang timpang. Abraham Accords memang membawa beberapa negara Arab menormalisasi hubungan dengan Israel, tetapi apa yang terjadi pada Palestina? Gaza tetap porak-poranda, blokade terus menjerat, dan kekerasan belum reda. Lalu kini, proposal yang sama—dengan label “serius dan bertanggung jawab”—dijual lagi, kali ini dengan wajah Presiden Indonesia sebagai bumbu segar. Sebuah lakon lama dengan pemain baru yang tak pernah mendaftar.

Kita, warga Indonesia, tentu tidak perlu merasa gentar. Tetapi kita perlu waspada. Karena jika billboard itu dibiarkan tanpa bantahan, narasi palsu bisa tumbuh. Seperti rumor di kampung, yang makin dipercaya justru karena tak pernah dibantah. Pemerintah harus menegaskan: sikap Indonesia tak berubah, pengakuan hanya jika Palestina merdeka, dan setiap langkah yang menodai prinsip itu akan ditolak. Prabowo sendiri, bila perlu, dapat menyampaikan pernyataan singkat. Tidak untuk membela diri, tetapi untuk menjaga wibawa bangsa.

Ironi terbesar dari billboard ini adalah betapa mudahnya kata “perdamaian” diperdagangkan. Israel berbicara tentang keamanan dan solusi, tapi fondasinya tetap keuntungan militer. Trump kembali disebut sebagai juru damai, seolah sejarah tak merekam kebijakan sepihaknya. Dan dunia—termasuk kita—dipaksa menonton panggung yang memelintir kenyataan menjadi pertunjukan cahaya.

Akhirnya, billboard Tel Aviv bukan hanya soal gambar Prabowo. Ia cermin bagaimana kekuasaan modern bekerja: memanipulasi citra, memanfaatkan jeda diam, dan menjadikan simbol sebagai alat tekanan. Kita semua tahu, perdamaian sejati tak lahir dari poster neon. Ia lahir dari keadilan, pengakuan hak, dan keberanian menolak kebohongan meski dibalut kata-kata manis. Untuk itu, Indonesia perlu berbicara sekarang—keras, jelas, dan tanpa ruang bagi penafsiran ganda.

Sumber:

2 Comments

2 Comments

  1. Pingback: Billboard Tel Aviv dan Ilusi Dukungan Indonesia

  2. Pingback: Isu Kunjungan Prabowo ke Israel: Siapa Bermain?

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer