Connect with us

Opini

Belgia Tercekik Kebijakan Penghematan yang Membabi Buta

Published

on

Ilustrasi Belgia tertekan oleh kebijakan penghematan ekstrem yang meretakkan layanan publik.

Saya membayangkan sebuah malam di Brussels yang tampak biasa saja: lampu kota menyala lembut, trem melintas pelan, kafe-kafe tetap membuka pintu mereka meski musim dingin memasuki gigil terdalamnya. Tetapi, kalau Anda berdiri cukup lama dan mendengar cukup saksama, ada sesuatu yang lebih sunyi namun jauh lebih keras dari angin musim dingin. Semacam desah panjang sebuah negara yang dipaksa menekan pengeluaran sampai terdengar seperti napas yang disabotase. Di situlah absurditasnya. Belgia, yang selama puluhan tahun menjadi simbol stabilitas Eropa Barat, kini sedang dicekik oleh sesuatu yang mereka sebut penghematan—atau, kalau memakai istilah yang lebih jujur: austerity membabi buta.

Saya rasa kita semua tahu bahwa penghematan, dalam kondisi tertentu, adalah hal wajar. Keluarga melakukannya ketika dompet menipis, perusahaan melakukannya ketika pasar tak ramah. Tapi ketika sebuah negara memotong terlalu banyak terlalu cepat, terutama di tengah gejolak ekonomi global yang belum pulih, apa bedanya dengan seseorang yang menahan napas ketika paru-parunya sedang membutuhkan oksigen lebih banyak? Kita tahu akhirnya: tubuh gemetar, lalu roboh. Begitu pula dengan Belgia hari ini. Data dalam laporan menunjukkan tekanan fiskal yang luar biasa, namun yang lebih mengkhawatirkan adalah keputusasaan para pengambil kebijakan hingga mereka memilih memotong layanan publik yang menjadi tulang punggung masyarakat.

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi 💛

Transisi menuju penjelasan terasa ngeri. Tetapi perlu. Karena apa yang terjadi bukan sekadar keputusan teknokratis yang dingin di ruang rapat berpanel kayu. Ini adalah pergeseran besar yang menyentuh kehidupan banyak orang: para pekerja kereta yang kelelahan, perawat yang kehilangan staf pendukung, guru yang terpaksa mengajar di ruang kelas yang makin sesak, hingga keluarga yang kebingungan menghadapi kenaikan biaya hidup sementara bantuan sosial dipangkas. Kata kunci utama — krisis Belgia — terasa menancap lebih keras ketika ditemukan bukan pada grafik ekonomi, tetapi pada wajah-wajah yang harus menanggung akibatnya.

Yang membuat semuanya semakin ironis adalah kenyataan bahwa Belgia bukan negara tanpa kapasitas fiskal, tetapi negara dengan struktur politik yang terlalu rapuh untuk mengambil kebijakan jangka panjang yang rasional. Koalisi lima partai, masing-masing dengan kepentingannya, sering kali lebih sibuk menjahit kompromi yang menenangkan elite ketimbang mencari solusi yang realistis bagi publik. Ini bukan rahasia. Kita semua pernah melihatnya di negara kita sendiri—bagaimana keputusan penting negeri ini bisa runtuh hanya karena meja rapat dipenuhi ego yang lebih keras dari logika.

Saya melihat pola yang sama dalam krisis multidimensi Belgia: ekonomi melemah, masyarakat gelisah, politik retak. Satu mencederai yang lain, dan seluruhnya membentuk lingkaran yang nyaris tak punya pintu keluar. Ketika pemerintah memilih penghematan radikal, mereka menyebutnya langkah perlu. Tetapi publik membaca itu sebagai penyerahan diri tanpa perlawanan terhadap tekanan anggaran yang sebenarnya bisa dikelola dengan pendekatan lebih cerdas. Tidak, saya tidak mengatakan bahwa Belgia seharusnya berbelanja seperti orang lupa diri. Tetapi memotong terlalu dalam pada saat yang paling rapuh—itulah tindakan yang membuat rakyat mempertanyakan apakah para pemimpin benar-benar memahami konsekuensinya.

Krisis ini, saya kira, bukan hanya milik Belgia. Ia adalah gambaran kecil dari apa yang mungkin terjadi di negara manapun ketika ketegangan fiskal bertemu ketidakmampuan politik untuk berpikir jangka panjang. Indonesia pun mengenal kata efisiensi, tetapi kita juga tahu ada perbedaan besar antara efisiensi yang sehat dan penghematan membabi buta yang mematikan mesin sosial. Belgia memilih jalur kedua, dan kita sedang melihat akibatnya. Bukan sekadar aksi buruh atau mogok nasional yang menyita perhatian media, tetapi keretakan kecil dalam kepercayaan publik yang setiap hari makin membesar seperti retakan di kaca jendela yang lama-kelamaan menjalar hingga seluruh permukaan.

Saya membayangkan seseorang di Antwerpen yang baru saja kehilangan akses terhadap layanan kesehatan karena fasilitas di daerahnya mengalami pemotongan anggaran. Atau seorang perawat di Liège yang kini harus menjaga dua kali lebih banyak pasien. Atau supir bus di Ghent yang harus menerima lembur tanpa imbalan layak karena kekurangan tenaga. Di titik ini, narasi tentang kebijakan penghematan bukan lagi soal angka. Ia menjadi cerita manusia. Dan manusia yang lelah adalah bahan bakar paling mudah bagi ketidakstabilan.

Pertanyaan besarnya: apa yang akan terjadi selanjutnya? Jika krisis ekonomi global tidak membaik, jika Eropa terus berjuang melawan inflasi dan stagnasi, jika politik Belgia tetap terkotak-kotak—bagaimana negara itu bisa keluar dari tekanan berlapis ini? Saya melihat tiga skenario, dan tak satupun benar-benar menggembirakan. Pertama, penghematan semakin dalam, dan akhirnya mematikan fungsi negara. Kedua, perlawanan sosial semakin keras, dan akhirnya memaksa pemerintah untuk mencabut kebijakan—tetapi dengan konsekuensi fiskal yang menunda krisis untuk meledak pada waktu yang lain. Ketiga, koalisi pemerintahan tumbang, memicu pemilu dini yang justru menambah ketidakpastian.

Tentu, ada peluang bahwa Belgia menemukan jalan keluar moderat—reformasi yang perlahan menata ulang belanja publik tanpa melukai rakyat kecil. Tapi peluang itu kecil, karena membutuhkan sesuatu yang paling langka dalam politik modern Eropa: keberanian moral untuk mengakui bahwa strategi yang ditempuh salah arah. Saya jarang melihat politisi berani mengatakannya.

Saya rasa inilah inti yang paling getir dari krisis Belgia: pemerintah meminta masyarakat berhemat ketika negara itu sesungguhnya tidak kekurangan sumber daya, tetapi kekurangan kesatuan dan visi. Austerity menjadi tameng ideologis yang menutupi kegagalan politik selama bertahun-tahun. Dan seperti biasa, rakyatlah yang menanggung tagihan terakhir.

Kalau ada pelajaran yang bisa kita ambil, mungkin ini: negara yang tampak stabil bisa runtuh bukan karena bencana besar, tetapi karena serangkaian keputusan kecil yang salah arah. Sedikit demi sedikit, pemotongan demi pemotongan, dan tiba-tiba seluruh struktur kesejahteraan sosial retak tanpa ada yang benar-benar siap.

Ketika saya memikirkan itu, bayangan awal tentang kota Brussels pada malam musim dingin kembali terlintas. Lampu-lampunya tetap bersinar. Trem tetap berjalan. Warga tetap berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Tetapi di balik semua itu, sebuah negara sedang menarik napas yang terlalu dalam demi menghemat udara—dan kita tahu betul apa yang terjadi jika itu diteruskan terlalu lama.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer