Opini
Bayang Hollywood di Bawah Awan Zionisme Baru
Hollywood selalu punya wajah ganda. Di layar, ia menjual mimpi tentang kebebasan, tentang suara kecil yang menantang tirani. Di balik layar, kekuasaan menulis naskahnya sendiri—tentang siapa yang boleh bicara dan siapa yang harus bungkam. Kini, dengan laporan mengenai Paramount Studios yang membuat daftar hitam bagi figur-figur Hollywood yang dianggap “anti-Semitic”, wajah kedua itu tampak jelas: dingin, penuh sensor, dan berwajah korporasi. Ironinya, sensor itu tidak datang dari negara totaliter, tetapi dari pusat industri yang konon menjadi lambang kebebasan berekspresi di dunia.
Saya membayangkan suasana di ruang rapat Paramount setelah David Ellison, anak dari miliarder Oracle, resmi mengambil alih. Mungkin ada layar besar yang menampilkan daftar nama—aktor, sutradara, jurnalis—semuanya dipertimbangkan satu per satu, bukan karena prestasi, tapi karena sikap politik. Di bawah dalih “melawan antisemitisme”, studio raksasa itu dilaporkan menyingkirkan siapa pun yang berani mengkritik kebijakan Israel di Gaza. Inilah absurditas yang memalukan: genosida bisa disiarkan langsung di media sosial, tapi empati terhadap korban justru menjadi alasan seseorang kehilangan pekerjaan.
Hollywood selalu punya musuh baru. Dulu komunis, lalu teroris, kini “antisemit.” Polanya sama: setiap krisis moral dibungkus dengan narasi moralitas baru. Tapi kali ini terasa lebih licin, karena yang menentukan siapa musuh bukan lagi pemerintah, melainkan para pemilik modal yang sekaligus menjadi donatur perang. Larry Ellison, ayah David, dikenal sebagai pendukung setia Netanyahu dan penyumbang terbesar militer Israel. Ia bukan sekadar miliarder, tapi arsitek infrastruktur digital yang menopang sistem pengawasan dan keamanan Israel. Ketika orang seperti itu memegang kendali atas industri hiburan global, kita tahu bahwa yang sedang dipertaruhkan bukan sekadar tontonan—melainkan kebenaran itu sendiri.
Bayangkan: Oracle, perusahaan Ellison, kini juga mengelola algoritma TikTok di Amerika Serikat. Mereka berjanji akan “melatih ulang” algoritma itu dari awal untuk melindungi pengguna dari “antisemitisme online.” Kedengarannya luhur, bukan? Tapi di balik retorika keamanan dan moralitas itu tersembunyi niat yang jauh lebih ambisius: mengendalikan apa yang orang muda lihat, baca, dan yakini. Ketika narasi tentang Palestina disembunyikan atas nama “moderasi konten”, itulah bentuk baru kolonialisme digital—halus, bersih, tanpa darah, tapi mematikan kesadaran.
Saya rasa inilah titik paling gelap dalam sejarah budaya pop modern: saat moralitas palsu dijadikan senjata sensor. Paramount menolak bekerja dengan seniman yang “tidak ramah terhadap Israel.” CBS—yang kini dipimpin oleh Bari Weiss, pendiri media sayap kanan pro-Zionis—memecat jurnalis seperti Debora Patta karena liputannya tentang Gaza terlalu manusiawi. Lihat betapa terbaliknya logika: berbicara tentang anak-anak yang terbunuh dianggap “berbahaya”, sementara mendiamkan pembunuhan massal disebut “profesional.”
Apa yang terjadi di Hollywood hari ini mengingatkan saya pada masa perburuan komunis di Amerika. Bedanya, jika dulu ketakutan disebarkan lewat rumor, kini ia dijalankan lewat sistem: kontrak, algoritma, dan citra publik. “Blacklist” bukan lagi secarik kertas, melainkan basis data yang menandai siapa yang patuh dan siapa yang subversif. Dunia hiburan berubah menjadi laboratorium kekuasaan, tempat kebebasan diukur dengan seberapa jauh seseorang bersedia menutup mata terhadap genosida.
Kita semua tahu, Hollywood bukan sekadar tempat membuat film. Ia adalah mesin pembentuk opini global. Apa yang muncul di layar lebar hari ini akan membentuk imajinasi moral jutaan orang esok hari. Ketika kendali atas mesin itu diambil alih oleh tangan yang mengabdi pada proyek politik tertentu, maka seluruh narasi kemanusiaan bisa direkayasa ulang. Palestina tidak lagi manusia, hanya “isu sensitif.” Gaza bukan tragedi, hanya “konflik kompleks.” Inilah cara halus menghapus penderitaan tanpa perlu sensor kasar. Cukup ubah naskah, potong adegan, dan diam-diam hapus satu nama dari kredit film.
Di Indonesia, kita mungkin merasa jauh dari pusaran itu. Tapi jangan salah, dampaknya merembes. Algoritma yang dikendalikan Oracle menentukan juga konten apa yang muncul di ponsel kita. Banyak orang muda yang dulu tahu kisah Gaza lewat TikTok kini tiba-tiba tidak lagi melihatnya. Video disembunyikan, akun dibatasi, dan opini dibungkam tanpa jejak. Ini bukan kebetulan; ini desain. Ketika perusahaan-perusahaan global yang memihak Israel menguasai infrastruktur informasi, dunia menjadi seperti film panjang tanpa akhir—kita semua penontonnya, tapi tak punya kendali atas ceritanya.
Hollywood kini sedang memproduksi naskah besar: The Erasure of Dissent. Para pemerannya adalah jurnalis, musisi, dan sineas yang dipecat; sutradaranya adalah ideologi yang menyaru sebagai moralitas; dan penontonnya adalah kita—yang mungkin masih percaya kebebasan berekspresi itu nyata. Tapi bukankah setiap film butuh akhir yang baik? Saya kira tidak kali ini. Karena ini bukan film fiksi, melainkan kenyataan yang sedang disutradarai oleh kekuasaan yang tak tampak di layar, namun nyata di setiap algoritma, di setiap kontrak kerja, di setiap keputusan editorial.
Ada ironi yang getir di sini. Hollywood yang dulu menjadi suara anti-fasis justru kini menyerupai apa yang dulu ia lawan: kekuasaan yang menentukan kebenaran tunggal. Dan seperti fasisme klasik, semuanya dibungkus dengan retorika moral: “Kami hanya melindungi kebebasan.” Kebebasan siapa? Kebebasan untuk mendukung perang, mungkin. Kebebasan untuk menutupi penderitaan. Atau kebebasan untuk menyebut genosida sebagai “operasi militer.”
Kita tidak boleh lupa, laporan Variety dan investigasi The Cradle menyebut bahwa Ellison masih mempertahankan kendali penuh atas Paramount, sementara upaya untuk mengakuisisi Warner Bros. Discovery tengah berlangsung. Jika berhasil, maka sebagian besar jaringan berita dan hiburan Amerika—dari CBS hingga CNN—akan berada di bawah satu kubu ideologis yang sama. Satu keluarga, satu visi politik, satu arah narasi. Dunia hiburan akan menjadi monokrom, tanpa ruang untuk warna lain.
Dan ketika warna-warna itu menghilang, yang hilang bukan hanya keberagaman budaya, tapi juga nurani kolektif kita. Karena hiburan, sesungguhnya, adalah cara manusia memahami dirinya sendiri. Jika cara itu kini disandera oleh korporasi yang menjadikan ideologi sebagai bisnis, maka setiap tawa, tangis, dan lagu yang kita nikmati akan terasa seperti gema kosong dari ruang yang dikontrol sensor.
Saya tidak tahu bagaimana sejarah akan menilai era ini. Mungkin suatu hari nanti kita akan menyebutnya sebagai masa “kolonialisme budaya digital.” Masa ketika kebebasan berpikir dipenjarakan oleh algoritma dan moral palsu. Tapi saya yakin, seperti halnya semua sistem penindasan, sensor ini pun punya batas. Karena kebenaran, sesulit apa pun disembunyikan, selalu menemukan jalannya sendiri—kadang lewat suara kecil yang berani melawan narasi besar, kadang lewat film sederhana yang lahir di pinggiran, jauh dari Hollywood, tapi dekat dengan hati manusia.
Untuk saat ini, yang bisa kita lakukan adalah menyadari: sensor itu nyata. Daftar hitam itu nyata. Dan setiap kali sebuah suara dibungkam atas nama “melawan kebencian,” sesungguhnya kebencianlah yang sedang diselamatkan. Hollywood telah menjadi cermin retak dunia modern—memantulkan wajah kebebasan yang sudah diseragamkan. Tapi mungkin, di sela-sela retakan itu, masih ada cahaya kecil yang menolak padam.
