Opini
Bayang-Bayang Amerika dan Senjakala Tatanan Dunia
Malam-malam kita mungkin terasa sama saja: lampu jalan berpendar, telepon genggam bergetar, berita bergulir tanpa henti. Tetapi di balik layar yang kita sentuh santai, ada retakan yang makin menganga di panggung global. Retakan itu bukan gempa mendadak, melainkan keropos pelan—seperti kayu tua yang diam-diam dimakan rayap. Laporan Bloomberg tentang sepak terjang Presiden AS Donald Trump di panggung internasional menegaskan, kredibilitas Amerika Serikat bukan lagi pilar kokoh yang bisa kita pegang. Dunia mencium baunya. Kita semua bisa merasakannya, meski pura-pura tak peduli.
Di New York, Trump berdiri di mimbar Perserikatan Bangsa-Bangsa dan menembakkan kata-kata yang lebih mirip peluru nyasar. Brasil, Inggris, bahkan lembaga PBB sendiri kena semprotan. Sehari itu juga, ia berbalik arah soal perang Rusia–Ukraina. “Kiev bisa menang total,” katanya, seperti penjual obat jalanan yang meyakinkan pembeli. Padahal sebelumnya, ia menyalahkan Ukraina dan menyarankan penyerahan wilayah. Begitu saja. Seperti menyalakan dan memadamkan lampu. Dunia menonton, mengernyit, lalu menahan napas. Apa yang lebih berbahaya dari pemimpin yang tak bisa ditebak? Pemimpin yang sudah ditebak: bahwa ia takkan konsisten.
Bloomberg melalui Andreas Kluth menuliskan pola yang menakutkan. Rusia, yang dipimpin Putin, membaca ketidakpastian itu bukan sebagai kekuatan, tapi kelemahan. Serangan udara meluas, wilayah NATO diterobos, dan Washington? Hanya menatap. Tak ada respons berarti. Kita di Indonesia paham rasa cemas itu. Bayangkan jika tetangga kita mulai masuk ke halaman rumah, dan satpam kompleks hanya menatap sambil mengangkat bahu. Rasa aman pun rontok, dan kita diam-diam menyiapkan kunci ganda.
Masalahnya, ini bukan semata drama Trump. Obama pernah menarik “garis merah” soal senjata kimia Suriah, lalu tak berani menindak. Biden pun meninggalkan Afghanistan dalam kekacauan. Kredibilitas Amerika luntur bukan karena satu orang, tetapi karena tradisi ingkar janji yang makin menahun. Seperti teman lama yang dulu setia, kini sering telat datang dan lupa bayar utang, AS membuat sekutu lama berpikir dua kali. Kita semua tahu rasanya dikecewakan—dan negara pun, ternyata, bisa patah hati.
Lihat sekeliling: Arab Saudi meneken pakta pertahanan dengan Pakistan, India berpegangan tangan dengan Moskow dan Beijing, bahkan Eropa mulai menggenggam senjata sendiri. Di Asia Timur, Jepang menyiapkan kemampuan serangan balik, sesuatu yang dulu dianggap tabu. Ini bukan kebetulan. Ini tanda-tanda tatanan dunia yang kita kenal sedang bergeser. Hegemoni AS yang selama puluhan tahun menjadi jangkar, kini seperti kapal yang rantainya karatan. Semua negara mulai menambatkan diri ke dermaga lain, atau membangun pelabuhan sendiri.
Saya rasa inilah yang paling ironis: Amerika kerap mengajarkan dunia soal “kepemimpinan”, tetapi kini justru menebar ketidakpastian. Trump menampilkan apa yang disebut “madman theory”—strategi gila agar lawan ciut. Namun seperti kata Thomas Schelling, kehilangan muka justru mengundang eskalasi. Lawan bukan takut, mereka malah tertawa kecil dan maju setapak. Rusia di Eropa Timur, Tiongkok di Laut Cina Selatan, Korea Utara dengan rudalnya—semua menguji batas, yakin bahwa Washington hanya akan menulis pernyataan, bukan menyalakan sirene.
Apa artinya bagi kita di Indonesia? Kita bukan sekadar penonton. Krisis kredibilitas Amerika mempengaruhi harga pangan, jalur pelayaran, bahkan nilai tukar rupiah. Jika Selat Taiwan memanas atau Laut Cina Selatan bergejolak, jalur dagang kita ikut terguncang. Dolar yang melemah bisa berarti volatilitas pasar, tetapi juga peluang untuk mencari mitra baru. Kita perlu waspada sekaligus cerdas; tidak terpaku pada satu poros, tapi juga tak hanyut dalam ilusi netralitas tanpa strategi.
Dan jangan lupa, reputasi yang rusak jarang pulih seketika. Sejarah menunjukkan, kepercayaan antarnegara seperti kaca: sekali retak, tetap ada guratan meski disambung. Amerika boleh saja mengganti presiden, memperbarui slogan, atau menebar janji, tetapi memulihkan keyakinan sekutu adalah proses panjang yang tak bisa dipaksa. Dunia sudah belajar dari pengalaman: janji Washington bisa ditunda, diubah, atau dibatalkan sesuai mood politik domestik. Kita yang pernah merasakan manis-getir janji investasi atau perjanjian dagang paham benar rasa kecewa itu.
Karena itu, saya percaya langkah paling waras bagi Indonesia adalah membangun ketahanan sendiri dan merajut jaringan baru tanpa rasa sungkan. ASEAN bisa jadi benteng awal, tetapi kita juga perlu menatap Afrika, Amerika Latin, dan mitra Asia Selatan. Di sinilah seni diplomasi diuji: menyeimbangkan kepentingan, menjaga kedaulatan, dan tetap luwes menghadapi badai. Dunia multipolar menuntut kecakapan seperti pedagang pasar yang piawai menawar—bukan sekadar pembeli yang pasrah dengan harga.
Tentu, AS tak akan runtuh bulan depan. Tapi keruntuhan tatanan global tak selalu diumumkan lewat ledakan. Ia merayap seperti kabut. Sekutu lama menutup pintu rapat-rapat, rival menajamkan pisau, dan negara-negara menengah—termasuk kita—mesti belajar menari di antara raksasa. Indonesia harus memupuk kemandirian ekonomi, memperkuat pertahanan maritim, dan menata diplomasi yang lincah. Bukan karena kita anti-Amerika, melainkan karena kita pro-Indonesia.
Di warung kopi, kita sering bercanda: “Amerika lagi ribut, kita santai saja.” Tapi candaan itu punya ekor pahit. Ketika pilar lama rapuh, angin bisa berembus dari segala arah. Kita bisa saja terjebak badai tanpa atap. Itulah kenapa kesiapan menghadapi dunia multipolar bukan pilihan, tapi keharusan. Kita harus berani menulis bab baru, bukan sekadar jadi catatan kaki dalam kisah kejatuhan kredibilitas Amerika.
Saya menulis ini bukan untuk menabur ketakutan, melainkan sebagai pengingat: jangan menunggu rayap menghabiskan seluruh kayu. Dunia sudah berubah sebelum kita sadar, dan Amerika, yang dulu jadi penjaga gerbang, kini sibuk menambal pintu rumahnya sendiri. Kita bisa menatap, mengeluh, atau bergerak. Saya memilih yang terakhir—dan semoga negeri ini juga begitu.

Pingback: Shutdown Amerika, Cermin Perseteruan Politik yang Memuncak