Opini
AS Mengajak Rujuk, Iran Tetap Bersikap Tegas
Ada sesuatu yang absurd ketika sebuah negara superpower yang selama ini menampilkan diri sebagai wasit dunia, tiba-tiba datang membawa pesan damai setelah sebelumnya ikut menekan, bahkan menyerang. Inilah yang dilakukan Amerika Serikat melalui perantara Swiss: menyampaikan pesan dari utusan khusus Steve Witkoff kepada Iran bahwa Washington siap kembali ke meja perundingan nuklir, dengan jaminan tidak ada konflik atau eskalasi militer selama proses berlangsung. Kata-kata itu, di atas kertas, terdengar menenangkan. Tapi bagi Iran yang baru saja menghadapi serangan mematikan terhadap fasilitas dan pejabat kuncinya, serta menyaksikan 60 warganya gugur di Tehran akibat bom yang dibawa jet tempur zionis dengan dukungan penuh AS, tawaran itu sama sekali tidak punya bobot.
Sungguh aneh, AS berbicara tentang meredakan konflik padahal mereka sendiri yang memberi bensin bagi api. Bagaimana mungkin sebuah negara yang disebut Iran sebagai sponsor utama agresor, tiba-tiba menawarkan jaminan keamanan? Analogi sederhana bisa menjelaskan absurditas ini: bayangkan seorang tetangga yang melempar batu ke rumah kita, memecahkan jendela, lalu datang sambil tersenyum dan berkata, “Mari kita berdamai, saya janji tidak akan lempar batu lagi.” Tentu kita akan curiga, apalagi kalau sebelumnya batu serupa sudah dilempar berkali-kali. Inilah yang membuat janji Washington terdengar kosong dan tak lebih dari akrobat diplomasi.
Tehran menanggapi dengan ketenangan penuh perhitungan. Abbas Araghchi, Menteri Luar Negeri Iran, menegaskan belum ada keputusan yang diambil. Bahkan rencana kunjungan IAEA pun ditunda sampai ada kerangka hukum yang jelas, sesuai dengan undang-undang yang ditetapkan Majelis Syura Islam. Di balik kata-kata itu tersimpan pesan: Iran tidak sedang panik, mereka justru sedang mengatur ritme. Bagi sebuah negara yang terbiasa menjadi sasaran tekanan internasional, menunggu bukan kelemahan, melainkan strategi. Sementara Washington berharap ada jawaban cepat, Iran memilih bermain sebagai pihak yang mengendalikan tempo.
Faktanya, Iran kini memang berada di atas angin. Serangan zionis yang menewaskan warga sipil di Tehran justru memperkuat posisi politik internal pemerintah. Rakyat marah, solidaritas tumbuh, dan narasi bahwa AS adalah mitra langsung agresor semakin menguat. Dalam kondisi seperti itu, setiap langkah menuju negosiasi dengan Washington bisa dianggap sebagai pengkhianatan terhadap darah yang baru saja tertumpah. Tidak ada pemimpin Iran yang berani menggadaikan legitimasi rakyatnya dengan sekadar mengamini janji manis musuh lama. Posisi ini memberi Tehran ruang manuver: mereka bisa menolak dengan lantang, atau menunda sambil memaksa AS menanggung beban citra sebagai pihak yang “minta-minta damai.”
Namun, apakah Iran benar-benar akan menutup pintu perundingan selamanya? Belum tentu. Politik luar negeri Iran selalu menyeimbangkan idealisme dengan pragmatisme. Mereka tahu bahwa sanksi ekonomi yang mencekik bisa memperlambat pembangunan domestik. Karena itu, kemungkinan kembali ke meja perundingan masih terbuka—tetapi hanya dengan syarat yang sangat berat bagi Washington. Pencabutan sanksi ekonomi yang menyiksa rakyat, penghentian dukungan penuh AS terhadap agresi zionis, serta jaminan keamanan yang bisa diverifikasi, mungkin menjadi daftar minimal. Tanpa itu, negosiasi akan dipandang sekadar sandiwara.
Pertanyaannya: apakah AS siap memenuhi syarat sekeras itu? Sejarah mengatakan sebaliknya. AS terbiasa menggunakan negosiasi sebagai alat menekan, bukan memberi ruang yang adil. Janji sering diucapkan, tetapi implementasi hampir selalu menyimpang. Iran tentu sadar betul soal ini. Mereka tidak akan mudah dibujuk untuk duduk kembali hanya demi “berbagi foto” di meja diplomasi yang bisa dijadikan alat propaganda Washington. Inilah mengapa publik Iran, melalui juru bicara Kemenlu Esmaeil Baghaei, menegaskan bahwa tidak ada gunanya berbicara dengan pihak yang menjadi sponsor utama zionis, setidaknya sampai agresi dihentikan.
Dalam konteks lebih luas, tawaran AS terlihat seperti manuver untuk menyelamatkan diri sendiri. Washington tahu bahwa eskalasi langsung dengan Iran akan membuka kotak pandora perang besar di Timur Tengah. Dengan ekonomi yang rapuh dan politik domestik yang penuh ketegangan, Amerika Serikat tidak siap menghadapi perang skala regional. Maka, ajakan berunding lebih terlihat sebagai strategi damage control ketimbang itikad baik. Mereka ingin menahan amarah Iran, menunda serangan balasan yang bisa membakar kawasan, sambil tetap mempertahankan status quo: sanksi tetap berjalan, dukungan terhadap zionis tidak berhenti, dan Iran diharapkan bersabar tanpa alasan yang jelas.
Di sinilah letak ironi yang paling mencolok. Amerika, negara yang konon menjunjung demokrasi dan keadilan, tidak segan-segan bersikap seolah mereka masih memiliki legitimasi moral untuk mengundang pihak lain duduk bersama. Padahal catatan mereka jelas: dosa-dosa agresi terlalu besar untuk ditutupi. Mereka menyerang fasilitas nuklir yang disebut Iran sebagai program damai, mendukung pembunuhan pejabat kunci, dan tidak pernah berhenti menjadi pelindung utama zionis. Kini mereka datang dengan wajah polos, mengaku ingin damai. Apakah ini bukan contoh nyata dari sikap “sudah berbuat salah, masih juga berpura-pura benar”?
Saya rasa, banyak orang Indonesia bisa memahami sikap Iran ini. Di negeri kita, kepercayaan juga sesuatu yang mahal. Jika ada pejabat yang ketahuan korupsi lalu berjanji tidak akan mengulang, masyarakat tentu tak mudah percaya. Begitu pula dalam kehidupan sehari-hari: ketika seorang sahabat berkhianat, butuh waktu lama dan bukti nyata untuk memulihkan persahabatan. Iran hanya menerapkan prinsip yang sama di panggung internasional, meski dengan risiko jauh lebih besar.
Ke depan, dua skenario terbuka. Pertama, Iran akhirnya setuju berunding, tapi dengan syarat sangat ketat: pencabutan sanksi, penghentian dukungan kepada zionis, dan jaminan keamanan yang nyata. Jika itu terpenuhi, negosiasi bisa menjadi instrumen Iran untuk memperkuat posisinya, bukan melemahkannya. Kedua, negosiasi tak akan pernah terjadi lagi, setidaknya selama AS tetap berada di jalur hipokrit: berpura-pura damai sambil terus menyalakan api perang. Dalam skenario kedua ini, dunia akan melihat Iran semakin mendekat ke poros kekuatan lain, memperkuat aliansi regional, dan meninggalkan AS sebagai pihak yang tak lagi punya daya tawar.
Apapun yang terjadi, jelas satu hal: saat ini Iran memegang kendali. Mereka bukan pihak yang sedang merayu, mereka adalah pihak yang sedang ditawari. Posisi ini membuat Washington tampak semakin kecil, meski secara militer dan ekonomi mereka jauh lebih besar. Inilah paradoks kekuasaan: siapa yang kehabisan kredibilitas, pada akhirnya kehilangan daya tawar, meskipun punya kekuatan besar. Amerika telah kehilangan kredibilitasnya di mata Iran. Dan tanpa kredibilitas, ajakan berunding hanyalah sekadar bunyi—tak lebih dari gema kosong di ruang diplomasi yang semakin dingin.
Negosiasi mungkin akan datang, mungkin juga tidak pernah terjadi lagi. Tapi satu hal sudah pasti: AS sudah kehilangan muka. Mereka sudah berdosa, masih saja berpura-pura polos, lalu mengulurkan tangan dengan senyum tipis. Iran tahu, dunia tahu, dan sejarah tidak akan mudah melupakan kepalsuan semacam itu.

Pingback: Iran Tuntut Ganti Rugi Sebelum Kembali ke Meja Perundingan