Connect with us

Opini

AS Bayar Lebanon $14,2 Juta Lumpuhkan Hizbullah

Published

on

Illustration of US dollar bills falling like rain, turning into bullets as they hit Lebanon’s ground, with a cedar tree bending under the storm and drones looming in the background.

Ada absurditas yang begitu mencolok dalam berita ini: Washington merogoh kocek $14,2 juta (Rp213 miliar), lalu menyebutnya “bantuan” bagi Tentara Lebanon. Bantuan? Atau sekadar ongkos murah agar tentara resmi negeri cedera itu berubah jadi tangan kanan Amerika untuk menekan Hizbullah? Di atas kertas, ia tampak seperti paket kerjasama militer biasa. Tapi kita semua tahu, dalam politik global, tidak ada yang gratis. Tidak ada uang yang mengalir tanpa pesan tersirat: tunduklah.

Saya rasa ironi paling besar justru terletak pada harga yang disebut. Empat belas koma dua juta dolar. Angka yang di mata Washington mungkin setara ongkos sebuah jet pribadi, atau bahkan biaya pesta ulang tahun anak konglomerat. Tetapi bagi Lebanon yang ekonominya hancur, angka itu bisa menjadi racun manis. Ia hadir seperti gula yang ditaburkan di secangkir kopi pahit. Manis sesaat, tapi meninggalkan residu getir. Apakah benar negara sekompleks Lebanon rela menjual martabatnya hanya dengan harga segitu?

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi 💛

Kita harus menelanjangi logika bantuan ini. Pentagon secara gamblang menyebut tujuannya: untuk melucuti Hizbullah, menghancurkan infrastruktur perlawanan, dan pada akhirnya melemahkan apa yang mereka sebut “kelompok teroris pro-Iran.” Bahasa resmi penuh jargon memang selalu terdengar rapi. Tapi mari jujur: ini adalah proyek lama, agenda klasik yang tak pernah berubah—memukul setiap kekuatan yang bisa menahan ambisi Israel. Dan caranya? Membeli loyalitas tentara negara tuan rumah.

Bagi sebagian elit politik Lebanon, tawaran itu mungkin terasa seperti durian runtuh. Dana segar dari Washington bisa dibelokkan jadi proyek, komisi, atau kontrak fiktif. Di negeri yang dililit krisis finansial, siapa yang bisa menolak dolar? Di sinilah wajah muram politik kita seringkali muncul: keserakahan lebih kuat dari patriotisme. Kita semua pernah melihatnya—pejabat yang menjual tanah air demi proyek mercusuar, birokrat yang menjual regulasi demi fee singkat. Dan kini, Lebanon pun berada di simpang jalan yang sama.

Namun mari kita balik pertanyaan: mengapa Hizbullah harus dilucuti sekarang? Apakah Lebanon sudah aman? Tentu saja tidak. Israel masih menduduki wilayah di selatan. Serangan udara dan drone masih menewaskan warga sipil dan bahkan tentara resmi Lebanon sendiri. Setiap hari dentuman bom masih terdengar di Bekaa dan selatan. Jika ancaman nyata masih di depan mata, logikanya senjata perlawanan seharusnya dipertahankan. Melucuti Hizbullah di tengah agresi Israel ibarat meminta nelayan membuang jaringnya di saat badai laut datang.

Di sini kita melihat absurditas kedua: Israel menuntut Hizbullah disarm dulu, baru mereka akan bicara soal penarikan pasukan. Narasi ini seperti maling yang masuk rumah orang lalu berkata, “Kunci pintu dulu, baru saya mungkin keluar.” Tak ada jaminan apa pun. Dan tragisnya, Washington justru mendukung logika terbalik ini. Seolah lupa bahwa perlawanan muncul bukan dari hobi, tapi dari luka panjang karena pendudukan.

AS bayar Lebanon lumpuhkan Hizbullah bukanlah cerita baru. Mereka pernah melakukannya di Irak, di Afghanistan, bahkan di Amerika Latin dengan cara berbeda. Polanya selalu sama: uang digelontorkan, militer lokal diberdayakan, lalu diarahkan untuk menumpas musuh-musuh politik Amerika. Bedanya, di Lebanon, musuh itu bukan kelompok asing yang menyusup, melainkan bagian dari denyut nadi rakyat sendiri. Hizbullah punya akar sosial, punya legitimasi politik, punya kursi di parlemen. Melawan mereka berarti juga melawan sebagian besar rakyat yang melihat Hizbullah sebagai pelindung.

Saya tidak menutup mata: Hizbullah bukan tanpa cela. Mereka pun punya catatan kontroversial, baik di dalam negeri maupun di panggung regional. Tetapi yang jelas, mereka tetap satu-satunya kekuatan yang membuat Israel berpikir dua kali sebelum menginjakkan kaki lebih jauh ke tanah Lebanon. Dan itu fakta yang tak bisa dibeli dengan uang tunai.

Di sisi lain, tentara resmi Lebanon justru berada dalam posisi sulit. Mereka butuh dana untuk bertahan hidup. Gaji tentara merosot tajam akibat krisis, fasilitas militer tak terurus, dan morale pasukan menurun. Ketika Washington menawarkan $14,2 juta, tawaran itu tampak seperti napas lega. Tapi bukankah ini persis yang diinginkan AS? Membuat lembaga negara semakin bergantung pada mereka, hingga akhirnya kehilangan kemandirian? Bukankah ketergantungan semacam ini justru merusak martabat sebuah bangsa?

Di sini, saya teringat satu analogi sederhana. Pernahkah kita melihat seseorang yang lapar diberi sepotong roti, tetapi dengan syarat harus memukul tetangganya? Inilah inti dari bantuan AS. Bukan memberi makan untuk menyelamatkan, melainkan memberi syarat yang justru memecah belah. Bantuan macam ini lebih mirip jebakan ketimbang pertolongan.

Pernyataan Hassan Illaik bahwa pemerintah Lebanon “mundur” dari target pelucutan penuh hingga akhir tahun adalah sinyal menarik. Artinya, ada perlawanan internal, ada keraguan bahkan di tubuh pemerintah sendiri. Dan benar saja, Hizbullah serta sekutunya memilih walkout dari sidang kabinet. Itu tanda jelas bahwa konsensus nasional belum ada. Apabila pemerintah memaksakan diri, Lebanon bisa pecah dari dalam. Kita semua tahu, sejarah Lebanon penuh dengan perang saudara—dan memaksakan agenda asing bisa saja membuka luka lama.

Lebih jauh, saya melihat AS bayar Lebanon lumpuhkan Hizbullah hanyalah langkah sementara, bukan solusi. Karena bahkan bila Hizbullah berhasil dilucuti, agresi Israel tak otomatis berhenti. Justru sebaliknya, Lebanon akan kehilangan perisai terakhirnya. Maka, narasi bahwa pelucutan senjata akan membawa stabilitas adalah fatamorgana. Ia menenangkan sesaat, tapi pada akhirnya meninggalkan kekosongan yang rawan diisi dominasi asing.

Apakah rakyat Lebanon rela martabatnya ditukar dengan $14,2 juta? Apakah pemerintahnya siap menanggung risiko perpecahan hanya untuk memenuhi pesanan Washington? Pertanyaan-pertanyaan ini seharusnya menggema lebih keras ketimbang debat soal teknis pelucutan senjata. Sebab pada akhirnya, yang dipertaruhkan bukan sekadar gudang senjata, melainkan harga diri sebuah bangsa.

Saya percaya, kita semua bisa belajar dari ironi ini. Uang memang bisa membeli banyak hal: senjata, tentara, bahkan kebijakan pemerintah. Tapi uang tidak bisa membeli legitimasi perlawanan. Tidak bisa membeli keyakinan rakyat bahwa tanah air mereka harus dipertahankan. Dan selama Israel masih mengebom, selama darah masih mengalir di selatan, selama tanah masih diduduki, maka senjata perlawanan tidak akan benar-benar hilang.

Mungkin Washington mengira $14,2 juta cukup untuk mengubah sejarah. Tapi sejarah punya cara sendiri untuk menertawakan kalkulasi semacam itu.

4 Comments

4 Comments

  1. Pingback: Lebanon Terancam Ulang Neraka Suriah jika Hizbullah Dilucuti

  2. Pingback: Dana AS untuk Tentara Lebanon, Target Hizbullah?

  3. Pingback: Tentara Lebanon yang Menolak Menjadi Pengkhianat

  4. Pingback: Arab National Congress dan Krisis Solidaritas Arab

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer