Opini
Arab Summit Pilih Kasih: Keras ke Yaman, Lunak ke Israel
Di ruang-ruang berpendingin mewah, para pemimpin Arab kembali duduk rapi di bawah lampu kristal. Suara mikrofon menggema, kata-kata besar diluncurkan, dan kamera televisi menangkap setiap gerakan tangan yang seolah menyiratkan wibawa. Tapi di balik kilau konferensi itulah absurditas menunggu. Saya rasa kita semua sudah akrab dengan pertunjukan semacam ini: panggung megah, janji besar, namun keberanian nyata entah di mana. Arab Summit pilih kasih—begitulah kesan yang muncul ketika menelusuri jejak pertemuan mereka, dari Sharm el-Sheikh pada 2015 hingga Doha pada 2025.
Mari kembali sejenak ke Maret 2015. Di Sharm el-Sheikh, Mesir, Liga Arab berkumpul untuk membahas krisis Yaman. Presiden Yaman saat itu, Abd-Rabbu Mansour Hadi yang telah melarikan diri menyerukan kelanjutan Operation Decisive Storm hingga “kelompok Houthi” menyerah. Kata-katanya tajam, nyaris tanpa ruang kompromi. “Operasi ini harus terus sampai mereka angkat tangan,” begitu intinya. Dan para pemimpin Arab? Mereka mengangguk. Dukungan penuh terhadap serangan udara Saudi mengalir deras. Tidak ada jeda moral, tidak ada ragu. Jet tempur beterbangan, rudal meluncur, dan Liga Arab seolah menemukan tujuan: menunjukkan bahwa mereka sanggup menindak tegas ketika kepentingan mereka—dan tentu saja kepentingan Washington—terasa terancam. Arab Summit pilih kasih? Bayangan itu sudah tampak di sini.
Kontras yang nyaris tragikomik muncul satu dekade kemudian. September 2025, para pemimpin Arab dan Organisasi Kerja Sama Islam berkumpul di Doha, Qatar, setelah Israel menyerang sebuah pertemuan pemimpin Hamas di kota itu. Bayangkan: sebuah negara anggota Liga Arab diserang langsung, menewaskan tokoh penting di jantung ibukota. Jika kita mengikuti logika 2015, seharusnya langit Timur Tengah kembali dipenuhi jet tempur dan pernyataan perang. Namun yang terdengar hanya komunike panjang penuh kalimat diplomatis. Keras ke Yaman, lunak ke Israel—Arab Summit pilih kasih terucap semakin lantang.
Ironi itu kian terasa bila kita ingat sejarah 1973. Saat itu, negara-negara penghasil minyak Arab berani menutup keran ekspor ke Amerika Serikat dan sekutunya demi menekan dukungan terhadap Israel. Dunia barat kelimpungan, ekonomi global terguncang, dan akhirnya lahirlah kesepakatan gencatan senjata. Itu bukti bahwa kekuatan kolektif Arab, bila digunakan, bisa mengguncang tatanan dunia. Sekarang? Dengan cadangan minyak lebih besar, kekayaan berlipat, dan teknologi canggih, mereka memilih menunduk. Kata kunci Arab Summit pilih kasih tak lagi sekadar kritik, melainkan potret pahit: kemampuan ada, kemauan nihil.
Saya rasa kita semua tahu alasannya. Ketergantungan pada Amerika Serikat bukan lagi rahasia. Pangkalan udara terbesar AS di kawasan berada di Qatar. Sistem pertahanan canggih yang melindungi Riyadh dan Abu Dhabi sebagian besar dikendalikan teknologi Washington. Menggertak Israel berarti menantang tuan besar yang selama puluhan tahun menjadi pelindung sekaligus penjamin kekuasaan. Maka wajar, dari kacamata mereka, jalur aman lebih menarik. Tapi dari mata publik, itu jelas jalan ketundukan. Sebuah pilihan yang membuat kita hanya bisa menghela napas, bahkan tersenyum getir.
Bandingkan dengan Iran yang berani melancarkan operasi Truth Promise, menembakkan rudal langsung ke Israel sebagai balasan atas serangan konsulatnya di Damaskus. Atau Yaman sendiri yang kini tak segan menargetkan pelabuhan dan instalasi milik Israel di Laut Merah. Mereka jauh lebih miskin, terisolasi, dan tetap melangkah. Sementara kerajaan-kerajaan Teluk yang kaya minyak memilih bahasa diplomasi yang seolah-olah sudah kehilangan gigi. Arab Summit pilih kasih bukan hanya kesan, melainkan fakta yang terhampar di hadapan kita.
Tentu, sebagian akan berkata ini semua soal kalkulasi. Bahwa stabilitas ekonomi dan politik jauh lebih penting daripada aksi balasan yang hanya menambah kekacauan. Mereka akan menegaskan bahwa “jalan aman” adalah bentuk kebijakan realistis, bukan ketundukan. Tapi bukankah alasan yang sama bisa dipakai saat mengebom Yaman? Apakah perang berkepanjangan di sana tidak mengguncang stabilitas kawasan? Nyatanya, ketika kepentingan penguasa Teluk dan kekhawatiran terhadap pengaruh Iran berbenturan, rudal bisa melesat tanpa banyak rapat.
Di sinilah paradoks itu terasa begitu dekat dengan kehidupan kita di Indonesia. Kita paham bagaimana politik bisa jadi panggung sandiwara. Kita pernah melihat pejabat berpidato lantang di depan kamera namun lembek ketika harus menindak orang dekat. Arab Summit pilih kasih mirip dengan pejabat yang menindak tegas pedagang kecil, tapi bungkam di hadapan korporasi raksasa. Sebuah drama yang mengingatkan bahwa kekuasaan sering lebih memilih aman daripada adil.
Sesekali saya membayangkan jika negara-negara Arab benar-benar bersatu. Bayangkan kekuatan minyak yang dikerahkan, dana investasi yang dialihkan, atau dukungan militer kolektif yang diarahkan untuk menekan Israel. Dunia pasti akan mendengar, pasar global akan goyah, dan Washington pun harus menimbang ulang. Tetapi fantasi itu berhenti di meja rapat Doha, terkubur di balik komunike panjang yang nyaris tak berarti. Bahkan kata-kata itu terasa hambar, seperti kopi tanpa gula yang dingin sebelum diminum.
Mungkin memang begitulah nasib dunia Arab modern: kaya raya namun tak sepenuhnya berdaulat, seperti pengusaha sukses yang tetap bergantung pada bank besar untuk setiap napas bisnisnya. Mereka bisa marah, bisa berteriak, tapi tak pernah benar-benar bebas. Arab Summit pilih kasih hanyalah gejala dari ketergantungan struktural yang tak mudah dipecah. Namun bagi rakyat Palestina, bagi mereka yang menanti solidaritas nyata, itu hanya menambah luka.
Akhirnya, yang tersisa hanyalah rasa kecewa yang bercampur sinisme. Ketika serangan terhadap Qatar dibiarkan tanpa respons sepadan, ketika Liga Arab hanya berani keras ke saudara sendiri di Yaman, kita belajar satu hal: kekuasaan tanpa kedaulatan sejati hanyalah panggung teater. Dan setiap kali lampu sorot konferensi dinyalakan, kita tahu pertunjukan itu akan berulang—dengan skrip yang sama, dengan aktor yang sama, dan dengan akhir yang selalu bisa ditebak.
Sumber:
