Connect with us

Opini

Arab National Congress dan Luka Panjang Persaudaraan yang Hilang

Published

on

Symbolic illustration of Arab unity being rebuilt amid political fragmentation.

Beirut kembali menjadi panggung bagi kata-kata besar. Di sebuah ruang yang dipenuhi suara nostalgia dan harapan, para intelektual dan politisi Arab berkumpul membicarakan sesuatu yang dulu pernah menjadi cita-cita bersama: kesatuan. Tiga puluh empat kali pertemuan telah digelar, dan setiap kali selesai, selalu meninggalkan gema yang sama—penuh gairah di awal, tapi membisu di akhir. Ironi itu kini terasa lebih kuat dari sebelumnya. Di tengah dunia Arab yang makin terfragmentasi, Arab National Congress (ANC) masih berusaha meyakinkan bahwa solidaritas itu belum mati. Tapi benarkah? Atau jangan-jangan yang tersisa hanyalah bayang-bayang dari ide besar yang sudah lama ditinggalkan oleh pengusungnya sendiri?

Saya rasa, yang paling menyedihkan dari realitas politik Arab bukanlah kekalahan militernya, melainkan kekalahan imajinasinya. ANC, yang lahir dari semangat pan-Arabisme di akhir abad ke-20, berdiri dengan idealisme anti-kolonial dan solidaritas Palestina. Namun hari ini, idealisme itu seperti lagu lama yang diputar di ruangan kosong. Di luar Beirut, sebagian negara Arab sibuk memperkuat hubungan dagang dengan Tel Aviv, membangun proyek-proyek “perdamaian” yang menghapus kata “pendudukan” dari kamus resmi mereka. Maka ketika ANC menegaskan kembali sikap anti-normalisasi terhadap Israel, suara itu terdengar heroik sekaligus tragis. Heroik, karena masih ada yang berani menolak arus besar kepalsuan politik. Tragis, karena dunia yang hendak diselamatkannya sudah berpaling.

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi 💛

Pemilihan Dr. Maher al-Tahir sebagai Sekretaris Jenderal dan Ghassan Ben Jeddou sebagai wakilnya adalah sinyal jelas bahwa ANC ingin kembali pada akar ideologisnya. Keduanya bukan birokrat lembek yang menimbang kata di antara meja negosiasi, melainkan figur dengan sejarah panjang dalam media resistensi dan perjuangan intelektual. Tapi di zaman ketika politik ditentukan oleh investasi, bukan integritas, apa arti posisi itu? Apakah masih ada ruang bagi suara moral dalam pasar geopolitik yang diatur oleh dolar dan drone? ANC tampak seperti perahu kayu di tengah samudra baja—terus berlayar, tapi setiap gelombang mengingatkannya bahwa ia hanyalah sisa dari masa lalu yang enggan mati.

Kita tahu, dunia Arab dulu pernah punya mimpi besar. Dari Damaskus hingga Rabat, ada keyakinan bahwa bahasa, sejarah, dan nasib bersama bisa menjadi fondasi persatuan. Tapi sejarah mengajarkan sesuatu yang pahit: kebersamaan tanpa keadilan hanya melahirkan kerapuhan baru. Ketika nasionalisme sempit menggantikan solidaritas lintas bangsa, pan-Arabisme pun kehilangan bentuknya. Dan di situlah ANC mencoba hidup kembali—sebagai pengingat bahwa ada utang sejarah yang belum lunas, terutama kepada Palestina. Di setiap pidato dan resolusi, kata “Palestina” muncul seperti doa yang diulang-ulang, mungkin karena hanya itu yang tersisa untuk dipertahankan.

Namun kenyataannya, dunia Arab hari ini terpecah lebih dalam dari sebelumnya. Konflik di Yaman, perang di Suriah, kekacauan di Libya, dan fragmentasi politik di Irak telah menjadikan kawasan itu seperti cermin retak: setiap pecahan memantulkan wajah sendiri-sendiri, tanpa bentuk yang utuh. Sementara sebagian elite Arab dengan angkuhnya menandatangani kesepakatan normalisasi, rakyat mereka masih hidup dalam ketidakpastian dan kemiskinan. ANC dalam konteks ini menjadi semacam suara nurani—lemah, tapi diperlukan. Ia tidak punya kekuasaan, tapi punya makna. Di dunia yang sibuk menghitung untung, masih ada yang bicara tentang martabat.

Dan martabat, sebagaimana kita tahu, bukan barang dagangan. Ia tidak bisa dinegosiasikan di forum ekonomi, tidak bisa dibeli lewat perjanjian diplomatik. Martabat hanya hidup di antara mereka yang menolak melupakan. Di sinilah nilai simbolik ANC berada. Ia bukan sekadar forum politik, tapi ruang ingatan kolektif bagi dunia Arab yang telah terlalu lama kehilangan arah. Setiap kali pertemuan digelar di Beirut, seolah ada usaha untuk menyusun kembali serpihan mimpi yang tercerai-berai. Sebab Beirut, dengan luka-luka dan puingnya, adalah metafora sempurna untuk dunia Arab itu sendiri—penuh luka, tapi menolak menyerah.

Saya melihat ANC seperti rumah tua yang di dalamnya masih berkumandang suara masa lalu. Di antara dinding yang retak, masih terdengar gema perdebatan para pemikir besar Arab yang pernah bermimpi tentang kesatuan politik dan ekonomi. Tapi kini rumah itu dikelilingi oleh gedung-gedung baru bernama “kepentingan nasional”, “kemitraan strategis”, atau “keamanan regional” yang semuanya berakar pada logika ketakutan, bukan solidaritas. Dalam lanskap seperti ini, berbicara tentang pan-Arabisme terdengar seperti membacakan puisi di tengah bursa saham—indah, tapi dianggap tak relevan.

Namun justru di situlah kekuatan tersembunyi ANC. Dalam keheningan itu, ia mempertahankan bahasa yang telah hampir punah: bahasa solidaritas. Dunia Arab mungkin tidak lagi berbicara dengan satu suara, tapi ANC memastikan bahwa suara itu tidak sepenuhnya hilang. Mungkin kecil, mungkin terpinggirkan, tapi tetap hidup. Seperti bara kecil di bawah abu. Dan bara, kalau dijaga, bisa menyalakan api lagi.

Masalahnya, siapa yang mau menjaga? Di tengah arus normalisasi dan apatisme politik, generasi muda Arab kini lebih sibuk mencari stabilitas pribadi ketimbang cita-cita kolektif. Itu wajar, tentu saja. Ketika hidup menjadi perjuangan sehari-hari untuk bertahan, mimpi besar sering kali terasa mewah. Tapi tanpa mimpi, politik kehilangan arah. Dan tanpa arah, bangsa kehilangan jiwa. ANC, meski tidak sempurna, mencoba mengembalikan makna politik itu—bahwa politik bukan sekadar urusan kursi dan kekuasaan, melainkan soal keberanian mempertahankan martabat bersama.

Saya rasa, dunia Arab hari ini butuh lebih banyak keberanian moral ketimbang kekuatan militer. Karena penjajahan modern tidak lagi datang dalam bentuk tank, melainkan perjanjian dagang, pinjaman lunak, dan propaganda media. Israel tidak lagi hanya menaklukkan tanah, tapi juga makna. Ia menaklukkan bahasa “perdamaian” dan menggunakannya untuk melegitimasi pendudukan. Dalam kondisi seperti ini, ANC—dengan segala kelemahannya—masih berdiri di sisi yang benar dari sejarah: menolak kompromi dengan penjajahan, menolak melupakan Palestina.

Kita semua tahu, realitas politik tidak akan berubah hanya karena satu konferensi di Beirut. Tapi setiap perlawanan dimulai dengan kesadaran, dan kesadaran lahir dari keberanian berbicara. ANC telah melakukannya selama tiga dekade. Mungkin hasilnya belum terlihat, tapi keberadaannya sendiri adalah bentuk perlawanan terhadap kelupaan kolektif. Di saat sebagian dunia Arab berlari menuju masa depan yang dikendalikan oleh modal dan kekuasaan asing, ANC menatap masa lalu untuk mencari arah yang hilang. Mungkin itu tampak kuno. Tapi kadang, untuk maju, kita memang perlu menoleh ke belakang—agar tahu apa yang telah kita tinggalkan di jalan.

Pada akhirnya, saya kira ANC bukan sedang mencari kemenangan politik, melainkan mencoba menyelamatkan sesuatu yang lebih dalam: harga diri peradaban. Di tengah dunia Arab yang kini dipenuhi kompromi, ANC mengingatkan bahwa ada hal-hal yang tak bisa dijual, bahkan demi stabilitas atau kemakmuran. Solidaritas, kedaulatan, dan keadilan—tiga kata yang terdengar muluk tapi justru menjadi inti dari keberadaan bangsa mana pun. Dan selama masih ada yang berani mengucapkannya, dunia Arab belum sepenuhnya kalah.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer