Opini
Api yang Tak Padam dari Teheran: Balasan Akan Datang
Di dunia yang makin kehilangan keseimbangan, setiap ancaman kini terdengar seperti gema dari masa lalu yang tak mau padam. Ketika Iran memperingatkan bahwa “setiap agresi akan melepaskan neraka bagi musuh,” dunia seperti menahan napas. Kata-kata Mayor Jenderal Mohammad Pakpour bukan sekadar ancaman militer; itu adalah semacam deklarasi eksistensial—bahwa negara yang selama puluhan tahun ditekan, diserang, dan diembargo kini memilih berdiri, bukan dengan defensif yang patuh, melainkan dengan tangan yang siap menyalakan api balasan. Saya rasa, yang absurd justru bukan keberanian Iran, tapi dunia yang terus berpura-pura kaget setiap kali negeri itu bicara lantang tentang kedaulatannya.
Kita semua tahu, kekuatan global punya standar ganda yang begitu menjijikkan. Ketika Amerika mengebom negeri lain dengan dalih “keamanan dunia”, itu dianggap penegakan hukum internasional. Tapi ketika Iran menyiagakan rudalnya, dunia menyebutnya provokasi. Ironi itu sudah begitu usang, namun tetap dihidupkan oleh media arus utama yang memilih diam atas fakta bahwa pada Juni lalu, koalisi AS–zionis lebih dulu menyalakan api dengan menyerang Natanz, Fordow, dan Isfahan—tiga jantung nuklir Iran. Di titik itu, siapa sebenarnya yang memulai “perang 12 hari”? Bukankah sejarah akan menertawakan bagaimana agresor selalu menyamar sebagai korban yang paling berisik?
Pernyataan Pakpour tentang kesiapan menghadapi agresi bukan retorika kosong. Ia mengingatkan bahwa pada perang Juni itu, meskipun sistem pertahanan THAAD dan Aegis dikerahkan, rudal Iran tetap menembus langit dan menghantam sasaran. Dunia barat menganggapnya kebetulan; Iran menyebutnya bukti. Dan di tengah euforia keunggulan teknologi militer barat, fakta itu memukul ego mereka lebih dalam daripada kerusakan fisik yang ditimbulkan. “Operation True Promise III” menjadi lebih dari sekadar operasi militer; itu simbol pergeseran paradigma kekuatan di Asia Barat.
Namun yang lebih menarik bukan pada berapa rudal yang ditembakkan, melainkan pada ketenangan Iran setelahnya. Tak ada pamer kemenangan, tak ada parade militer besar. Sebaliknya, mereka berbicara dengan satu nada yang dingin: kami siap jika kau datang lagi. Ini bukan sikap sombong, melainkan tenang dari mereka yang telah belajar bahwa di dunia ini, kekuatan sejati bukan terletak pada ledakan, tapi pada kemampuan menahan diri hingga saat yang tepat. Seperti bara dalam sekam, ia tak berasap, tapi cukup panas untuk menyalakan dunia ketika disentuh.
Di sisi lain, peringatan Pakpour kepada “saudara-saudara di Irak” juga tidak bisa dianggap remeh. Ia tahu, Amerika dan entitas zionis sedang menanam benih perpecahan di kawasan. Dengan nada paternal yang khas, Iran mengingatkan Baghdad agar tak lagi menjadi halaman belakang bagi intrik barat. Dari pertemuan dengan Penasihat Keamanan Nasional Irak Qasim al-Araji, tampak jelas: Teheran tidak hanya bicara soal misil, tapi juga soal nasib kawasan. Mereka tahu, perang besar tidak selalu dimulai dengan bom, tapi bisa dengan desas-desus, fitnah sektarian, dan perpecahan internal yang dibuat-buat.
Dalam politik dunia, satu hal yang tak berubah: negara yang berdaulat dianggap berbahaya bila tak tunduk pada tata aturan global versi Washington. Itulah sebabnya setiap langkah Iran selalu dibingkai sebagai ancaman, bahkan ketika yang mereka lakukan hanyalah bertahan. Tapi anehnya, dunia yang katanya modern ini masih percaya pada narasi yang sama berulang kali: bahwa kekerasan hanya sah bila datang dari barat. Seolah moralitas internasional bisa diatur dari jarak ribuan kilometer oleh mereka yang tak pernah mencicipi penderitaan akibat embargo atau bom jatuh di atap rumah.
Pernyataan Wakil Presiden Mohammad Reza Aref memperkuat nada yang sama: Iran tidak gentar pada sanksi, bahkan menyebut bahwa negara itu telah “melewati tahap menghindari sanksi.” Kalimat itu mengandung makna dalam—bahwa Iran kini hidup bukan dengan melawan sistem, tetapi dengan membangun sistemnya sendiri. Ketika E3 mengaktifkan mekanisme snapback yang sudah kadaluwarsa, Teheran menanggapinya dengan dingin. Dunia barat sibuk memainkan sanksi; Iran sibuk membangun resilien internal. Ada semacam kedewasaan politik di sana, yang barangkali sulit dimengerti oleh mereka yang mengira kekuatan hanya datang dari dolar dan pangkalan militer.
Kita perlu jujur, dunia sedang jenuh dengan ilusi moral dari kekuatan lama. Ketika zionis mengebom rumah warga, dunia menoleh ke arah lain. Tapi ketika Iran mengucap ancaman balasan, media global memekikkan kata “escalation.” Padahal, yang dilakukan Teheran hanyalah melindungi dirinya sendiri—sesuatu yang mestinya menjadi hak paling dasar bagi setiap bangsa. Ironinya, di dunia yang dikuasai narasi Barat, bahkan hak untuk bertahan pun bisa disebut agresi.
Saya rasa, peringatan Iran ini bukan sekadar ancaman, tapi cermin bagi kita semua. Tentang betapa mudahnya dunia modern menganggap kekuatan sebagai dosa, jika tidak dikendalikan oleh yang “berhak”. Tentang bagaimana keberanian untuk berkata “tidak” pada penindasan malah ditafsir sebagai bahaya. Dalam konteks itu, kita di Indonesia pun bisa belajar sesuatu. Berapa banyak keputusan politik dan ekonomi kita yang diam-diam masih tunduk pada tekanan dari luar? Berapa sering kita mendengar kata “kedaulatan” hanya sebagai jargon di pidato, bukan prinsip dalam tindakan?
Iran, dengan segala kekurangannya, menunjukkan satu hal yang langka di dunia politik modern: konsistensi dalam mempertahankan martabat. Mereka tidak menunggu restu, tidak memohon simpati. Ketika diserang, mereka melawan. Ketika diboikot, mereka beradaptasi. Dan ketika diancam, mereka menatap balik tanpa gentar. Bagi banyak negara, itu mungkin dianggap provokasi. Tapi bagi bangsa yang sudah terlalu lama diperlakukan sebagai objek geopolitik, sikap seperti itu adalah bentuk tertinggi dari kehormatan.
Mungkin dunia belum siap menerima Iran yang percaya diri. Sebab dunia ini terbiasa dengan negara-negara yang patuh, bukan yang berdaulat. Tapi cepat atau lambat, realitas akan memaksa kita mengakui bahwa kekuatan sejati tidak lagi berpusat di Washington atau Tel Aviv. Ia kini tersebar, di tangan bangsa-bangsa yang berani berpikir dan bertindak di luar dikte lama. Dari Teheran, Damaskus, sampai Beirut—gelombang itu sedang tumbuh, dan dunia barat hanya bisa menontonnya dengan cemas.
Dan jika peringatan Pakpour benar adanya—bahwa “neraka akan dilepaskan” pada siapa pun yang menyerang Iran—maka mungkin dunia perlu berhenti bermain api di halaman rumah orang lain. Karena setiap api, betapa kecil pun, punya kehendak untuk membesar. Dan mungkin kali ini, panasnya tak akan lagi membakar Timur Tengah saja, tapi seluruh ilusi tentang siapa sebenarnya penguasa dunia ini.
