Connect with us

Opini

Api Pendudukan Membakar Tepi Barat Lagi

Published

on

Ilustrasi editorial dramatis yang menampilkan asap dan puing rumah Palestina dengan pohon zaitun berdiri tegak sebagai simbol keteguhan.

Udara dini hari di Tepi Barat pekat oleh bau gas air mata dan asap rumah yang terbakar. Sementara anak-anak Palestina masih berusaha berangkat ke sekolah di Qalandia, peluru karet berdesing di atas kepala mereka. Di sudut lain, pintu-pintu rumah diketuk paksa, kadang dijebol, kadang dibakar. Saya membayangkan suara ketukan itu seperti dentang jam kematian, bukan panggilan hukum, melainkan peringatan kekuasaan yang merasa tak perlu alasan. Inilah ironi paling telanjang: dunia mengaku beradab, tetapi tetap menonton seperti menonton tayangan larut malam.

Serangan Israel di Tepi Barat bukan sekadar operasi keamanan. Ia sudah berubah menjadi kebiasaan buruk, semacam rutinitas gelap yang diulang tanpa malu. Laporan demi laporan mencatatnya—dua pemuda ditembak peluru karet di Jenin, rumah dibakar di al-Mughayyir, seorang syaikh ditangkap di al-Khalil, belasan orang diringkus di Nablus dan Tulkarm. Nama-nama kampung dan kota itu mungkin terdengar jauh bagi kita di Indonesia, tetapi pola kekerasannya begitu akrab. Seperti berita penggusuran paksa di sudut kota kita sendiri, hanya bedanya di sini pelurunya sungguhan dan nyawanya melayang.

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi đź’›

Pemerintah Israel menyebutnya “penegakan hukum” atau “pencegahan teror.” Tapi mari kita jujur: ketika pasukan bersenjata menyalakan api di rumah penduduk dan menangkapi orang yang baru saja tidur, apa yang ditegakkan selain rasa takut? Saya rasa kita semua tahu, kata “teror” mudah disematkan pada siapa pun yang tak patuh. Di negeri kita pun, sejarah pernah menunjukkan bagaimana istilah subversif dijadikan palu godam untuk membungkam.

Lebih pedih lagi, kekerasan itu berjalan beriringan dengan pidato dingin Perdana Menteri Netanyahu yang menolak mentah-mentah ide negara Palestina. “Tidak akan ada negara Palestina,” katanya, sambil menegaskan rencana memperluas pemukiman ilegal. Kalimat itu terdengar seperti vonis tanpa pengadilan. Seakan-akan tanah, rumah, dan kehidupan orang Palestina hanyalah pion di papan catur politik yang bisa digeser kapan saja. Padahal dunia baru saja menyaksikan Inggris, Kanada, dan Australia mengakui Palestina sebagai negara—sebuah langkah diplomatik yang mestinya memberi secercah harapan.

Namun, pengakuan simbolik itu bagai lampu kecil di tengah kabut tebal. Tanpa tekanan nyata—sanksi, embargo senjata, boikot pemukiman—apa artinya pengakuan? Netanyahu tahu itu. Dia paham, dunia lebih pandai mengeluarkan pernyataan daripada menindak pelanggaran. Maka api pendudukan pun tetap menyala, sementara masyarakat internasional hanya menulis kecaman dalam dokumen resmi yang entah dibaca siapa.

Kita di Indonesia mengenal rasa getir semacam ini. Ketika aparat menangkapi aktivis lingkungan atau membubarkan aksi damai dengan dalih “mengganggu ketertiban,” kita pun sering bertanya: siapa sebenarnya yang mengganggu? Di Tepi Barat, pertanyaan itu lebih mengiris. Bagaimana bisa penduduk asli disebut perusuh ketika yang datang membawa senjata justru pendatang? Analogi ini sederhana, tapi menampar logika yang kerap dibungkus jargon politik.

Serangan Israel di Tepi Barat juga menyingkap absurditas moral dunia. Dua puluh tahun lebih komunitas internasional mengulang mantra “solusi dua negara,” tapi setiap tahun, pemukiman baru tumbuh, tembok pemisah makin tinggi, dan kebebasan makin menipis. Seperti menonton seseorang menanam pohon sambil menebang akarnya sendiri. Kita disuruh percaya perdamaian akan tumbuh, padahal tanahnya terus dikeruk.

Saya tak menafikan bahwa ada kelompok bersenjata Palestina yang membalas dengan tembakan. Tetapi menuntut orang tak melawan ketika rumahnya dibakar itu seperti menyuruh korban banjir untuk tak basah. Ada sebab akibat yang tak bisa dihapus dengan satu kalimat “kedua belah pihak harus menahan diri.” Frasa itu nyaman di telinga diplomat, tapi di jalanan Nablus, ia terdengar seperti ejekan.

Lebih jauh, dampak serangan ini merambat ke lapisan kehidupan yang jarang tersorot: kesehatan mental, pendidikan, dan ekonomi lokal. Bayangkan anak-anak yang tumbuh dengan suara tembakan sebagai musik latar sehari-hari; trauma mereka bukan sekadar luka sementara, tetapi bekal pahit yang diwariskan ke generasi berikutnya. Pasar-pasar yang sepi karena razia, sekolah yang tutup karena gas air mata, rumah sakit yang kekurangan obat karena blokade—semuanya menambah lapisan penderitaan yang jarang masuk hitungan statistik, tetapi nyata mencabik kehidupan.

Di sisi lain, kita tidak bisa menutup mata terhadap kekuatan solidaritas akar rumput yang terus menyala. Masyarakat sipil, baik di Palestina maupun di belahan dunia lain, tetap mengorganisasi bantuan, mengirim suara, dan menolak normalisasi pendudukan. Inilah secercah harapan yang kerap luput dari sorotan kamera. Bahwa di tengah asap dan debu, masih ada orang-orang yang percaya bahwa keadilan bukan sekadar kata, melainkan tindakan yang tak boleh ditunda. Dan dukungan kita—sekecil apa pun—adalah bagian dari tindakan itu.

Mungkin sebagian pembaca bertanya, apa gunanya kita marah dari jauh? Gunanya adalah kesadaran. Kita hidup di zaman di mana opini publik masih bisa menjadi tekanan. Boikot produk dari pemukiman, mendukung lembaga hak asasi, atau sekadar tak menutup mata adalah langkah kecil yang berarti. Setiap suara menolak normalisasi pendudukan memberi sinyal bahwa dunia tidak sepenuhnya tuli.

Serangan Israel di Tepi Barat bukan sekadar konflik agama atau sengketa tanah. Ia cermin buram dari cara kekuasaan memelintir hukum dan menafikan kemanusiaan. Kita di Indonesia yang pernah merasakan kolonialisme mestinya tak asing dengan luka itu. Bedanya, kini kita adalah penonton yang bisa bersuara atau diam. Dan diam, saya kira, hanya akan membuat api pendudukan menyala lebih lama.

Pada akhirnya, pertanyaan yang tersisa sederhana tapi pahit: berapa banyak rumah harus terbakar sebelum dunia berhenti menulis “keprihatinan” dan mulai bertindak? Selama jawaban itu tak kunjung tiba, Tepi Barat akan terus jadi panggung absurditas global—di mana peluru karet, gas air mata, dan kata-kata manis diplomasi bersaing memperebutkan makna keadilan. Kita semua tahu siapa yang selalu kalah.

1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: Gencatan Senjata Gaza, Api Tak Padam di Tepi Barat

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer