Connect with us

Opini

Apakah Demokrasi di Barat Sudah Mati?

Published

on

Di jantung London, di depan gedung parlemen yang selama ratusan tahun menjadi simbol demokrasi, ratusan orang berkumpul dengan poster sederhana: “Saya menolak genosida. Saya mendukung Palestine Action.” Teriakan mereka tak lebih dari seruan nurani, tetapi aparat kepolisian datang dengan instruksi tegas—dukungan terbuka pada kelompok yang baru saja dilarang pemerintah akan berakhir di borgol. Sekitar 150 orang ditangkap hari itu. Sebuah ironi: di negara yang membanggakan kebebasan berpendapat, slogan sederhana bisa menyeret seseorang ke balik jeruji.

Saya rasa, ada absurditas yang terlalu gamblang untuk diabaikan. Inggris, negeri yang kerap memberi kuliah pada dunia tentang nilai demokrasi, justru memperlihatkan wajah aslinya: demokrasi yang dipilih-pilih. Bila protes menyentuh kepentingan strategis, terutama yang berkaitan dengan zionis dan industri senjata, tiba-tiba ruang kebebasan itu menyempit hingga sesak. Amnesty International, Greenpeace, bahkan pakar PBB sudah memberi peringatan—pelarangan Palestine Action terlalu berlebihan, menebas hak dasar warga untuk mengekspresikan suara moral. Tapi peringatan itu, seperti biasa, hanya jadi catatan pinggir yang tak mengguncang kebijakan pemerintah.

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi 💛

Palestine Action memang bukan organisasi konvensional. Mereka menempuh jalur aksi langsung—menduduki atap pabrik senjata, menyiram dinding dengan cat merah yang mereka sebut sebagai simbol darah Palestina, hingga melakukan vandalisme yang merugikan jutaan poundsterling. Itu fakta. Tetapi pertanyaan yang lebih mendasar adalah: apakah tindakan semacam ini pantas diperlakukan sejajar dengan terorisme? Terorisme adalah ancaman nyawa, sementara aksi Palestine Action, meski keras dan mengganggu, jelas ditujukan pada properti dan simbol industri perang. Dengan kata lain, ini adalah perlawanan sipil terhadap mesin kematian. Menyamakannya dengan teroris adalah manipulasi bahasa—dan seperti kita tahu, bahasa yang dimanipulasi selalu menjadi pintu masuk tirani.

Yang lebih ironis, dari serangkaian aksi itu ternyata ada hasil nyata. Pabrik Elbit Systems di Bristol kini tutup, meski seharusnya beroperasi hingga 2029. Perusahaan senjata terbesar zionis itu rugi jutaan pound, berubah dari untung £3,8 juta menjadi merugi £4,7 juta hanya dalam setahun. Bukankah itu membuktikan bahwa gerakan sipil mampu mengguncang fondasi industri perang global? Justru keberhasilan inilah yang mungkin membuat pemerintah Inggris kalang kabut. Daripada mengakui bahwa warga biasa bisa menghentikan mesin perang yang terhubung dengan genosida di Gaza, mereka memilih jalan pintas: kriminalisasi, pelabelan, dan pembungkaman.

Kita semua tahu, demokrasi Barat sering dipasarkan sebagai paket siap saji: kebebasan, hak asasi, dan partisipasi warga. Tetapi praktiknya, kebebasan itu seperti lampu lalu lintas yang dikendalikan dari ruang kontrol. Hijau hanya dinyalakan untuk isu-isu yang aman, kuning untuk topik yang bisa ditoleransi, dan merah menyala keras saat ada yang menyentuh kepentingan strategis. Dan di titik ini, mendukung Palestina jelas berada di zona merah. Saya teringat pada pengalaman kita di Indonesia ketika rakyat kecil sering dianggap mengganggu bila menyuarakan protes terhadap tambang atau proyek besar. Mirip bukan? Bedanya, di Inggris yang katanya demokratis, protes moral bisa digolongkan tindak pidana terorisme.

Bagi saya, inilah kematian perlahan demokrasi. Demokrasi tidak selalu mati dengan kudeta militer atau penghapusan konstitusi. Ia bisa mati dengan cara lebih halus—dibungkam lewat legislasi, dipreteli dengan label “keamanan nasional,” atau dipasung dengan retorika “melawan ekstremisme.” Yang mati bukan sekadar hak berpendapat, tetapi juga keberanian untuk berdiri di sisi kemanusiaan. Ketika seorang nenek 74 tahun yang membawa poster dituduh mendukung kelompok terlarang, kita sebetulnya sedang menyaksikan demokrasi direduksi menjadi formalitas kosong.

Ada ironi lain yang lebih getir. Pada hari yang sama ketika aktivis ditangkap di London, ribuan orang lain berbaris dalam solidaritas untuk Gaza. Di tanah Palestina, bom jatuh, rumah runtuh, nyawa melayang. Pemerintah Inggris sibuk menahan warganya sendiri, bukan menghentikan senjata yang mereka ekspor. Rasanya seperti menonton rumah tetangga terbakar, sementara pemilik rumah justru sibuk membungkam orang yang berteriak, “Hei, ada api!” Bukankah ini absurditas tingkat tinggi?

Tentu, ada yang berargumen bahwa hukum harus ditegakkan, bahwa kerusakan properti tak bisa dibenarkan. Benar, tak ada alasan untuk menormalkan kekerasan. Tetapi mari jujur: kerusakan kaca jendela tak sebanding dengan kerusakan nyawa manusia. Satu pabrik senjata berhenti bekerja, bisa jadi ratusan anak Palestina selamat. Apa logikanya bila kita lebih takut pada cat merah di dinding pabrik ketimbang darah merah di jalan Gaza?

Saya tidak sedang memuja Palestine Action sebagai gerakan sempurna. Jauh dari itu. Tetapi menutup mata terhadap substansi protes mereka adalah bentuk pengkhianatan moral. Sebab inti dari protes itu sederhana: hentikan keterlibatan Inggris dalam genosida. Dan bukankah kita semua, dengan hati nurani yang masih hidup, bisa mengerti itu?

Apakah demokrasi di Barat sudah mati? Pertanyaan ini bukan sekadar retorika. Ia muncul karena gejalanya sudah nyata: penangkapan massal, kriminalisasi solidaritas, hingga pelabelan “teroris” untuk aktivis. Demokrasi memang belum dikubur secara resmi, tetapi tanda-tanda kematiannya sudah tercium. Demokrasi yang hanya berlaku selektif, yang hanya nyaman untuk wacana aman, pada akhirnya hanyalah tirai penutup bagi kepentingan industri dan politik luar negeri.

Dan kita, di sini, seharusnya belajar dari itu. Jangan sampai demokrasi di negeri ini ikut mati dengan cara yang sama: pelan, diam-diam, tapi pasti. Karena jika kebebasan hanya boleh berlaku sejauh tidak mengganggu kepentingan besar, maka sebenarnya ia sudah tidak bernyawa. Hanya jasad tanpa ruh, hanya kata tanpa makna. Maka, saat kita melihat 150 orang diborgol di London karena menolak genosida, saya kira jawabannya sudah jelas—demokrasi Barat mungkin belum terkubur, tetapi ia sedang sekarat, dan dunia sedang menyaksikan nafas terakhirnya.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer