Opini
Antara Pena Propaganda dan Peluru di Gaza
Ketika malam merangkak lewat jalur udara, Gaza menjadi kapal karam yang terus koyak; kaca pecah, lampu padam, dan suara ledakan bergulung seperti gelombang amarah. Di tengah reruntuhan, seorang jurnalis menggenggam kamera yang lengket oleh debu dan darah. Dia menatap kosong—mungkin memikirkan kata-kata terakhir, mungkin bertanya dalam hati: “Siapa yang akan mendengar suara kami setelah aku mati?“ Di tempat lain, di ruang sunyi metropolitan Barat, seorang penulis mengenakan jas bersih menyiapkan pidato untuk diplomat Israel, menjerat narasi perang dalam alibi moral. Inilah dua dunia: satu berani mati demi fakta; satu menulis fakta demi perang.
Laporan bocoran surel dari mantan Duta Besar Israel untuk PBB, Ron Prosor, mengungkap kolusi tak terduga antara diplomat Israel dan jurnalis termahsyur Barat, seperti David Frum dan Douglas Murray. Mereka bukan hanya meliput konflik — mereka terlibat menyusun narasi resmi, menyediakan draf pidato PBB yang menegaskan “Israel berjuang melawan tirani”, menyamakan Gaza dengan Nazi demi membenarkan bom. Frum bahkan menghubungi Prosor dalam kapasitas jurnalis sekaligus penyusun pidato; sehari setelahnya, tulisannya di The Atlantic melukis Prosor sebagai diplomat tangguh yang berani membela Israel dari kecaman dunia. Murray pun tak kalah: ia mengirim draf pidato, menawarkan bantuan PR, dan menggalang dana senilai jutaan pound untuk tentara pendudukan Israel. Semua ini diam-diam, di balik tirai citra objektivitas dan independensi media.
Ketika kita membaca bocoran ini, kemarahan harus menyatu dengan ironi. Betapa media yang mengklaim sebagai penjaga demokrasi malah turut membentuk kekuasaan, memoles pembunuhan menjadi propaganda. Narasi yang seharusnya menjadi alat kritik terhadap kekuasaan justru dipakai sebagai senjata kekuasaan. Saya menolak netralitas di sini—karena netralitas ketika satu pihak membunuh jurnalis adalah keberpihakan diam yang mematikan.
Sekarang, mari lihat di sisi lain. Sejak 7 Oktober 2023, angka jurnalis dan pekerja media Palestina yang tewas di Gaza mencapai skala mengerikan. Menurut Committee to Protect Journalists (CPJ), per September 2025 telah dikonfirmasi sekitar 195 jurnalis Palestina tewas di Gaza, dan total 237 pekerja media tewas dalam konflik secara keseluruhan. Organisasi RSF menyebut lebih dari 200 jurnalis telah dibunuh sejak perang itu dimulai. Ada pula laporan yang menyebut 232 jurnalis tewas — konflik paling mematikan bagi pekerja media sepanjang sejarah. Bahkan PBB mengutip angka 242 jurnalis tewas di Gaza hingga Agustus 2025.
Angka-angka itu bukan statistik dingin. Setiap korban adalah seorang manusia—fotografer, kamerawan, reporter lapangan—yang jatuh ketika mencoba membuka tirai perang agar dunia tahu apa yang terjadi di balik asap dan rubuh. Banyak di antara mereka dibunuh dalam serangan langsung, tak ubahnya eksekusi yang menyasar penutur kebenaran itu sendiri. CPJ mencatat bahwa setidaknya 59 kasus termasuk pembunuhan yang tampak disengaja dari antara laporan mereka. Al Jazeera melaporkan serangan terhadap tenda-tenda pers, mobil jurnalis yang disasar, hingga “strike ganda” (penyergapan ketika tim pertolongan datang) yang menyerang wartawan dan evakuator dlakukan dalam satu gerakan. Di satu insiden di Rumah Sakit Nasser, serangan udara “double tap” membunuh 5 jurnalis yang sedang meliput korban ledakan.
Bandingkan: di ruang ber-AC di Washington atau London, Frum menyiapkan narasi “perang di Gaza adalah perang moral”. Saya bertanya: apakah ia tahu bahwa di Gaza, jurnalis tewas bukan karena memilih sisi, tetapi karena memilih menyampaikan sisi? Sementara salah satu tewas dilempar peluru, yang lain diam-diam menciptakan narasi yang menjustifikasi peluru itu. Sebuah tragedi invertido: peran penjaga kebenaran berubah menjadi penjahat narasi.
Kita akan tersentak jika menyadari betapa kecil jaraknya antara propaganda dan pembunuhan. Di Gaza, jurnalis bukan hanya menjadi korban kolateral — mereka adalah target strategis. Media yang bisa menggugat catatan militer menjadi ancaman yang harus dibungkam. Maka mereka diserang, dihantam, diruntuhkan. Pernahkah media Barat besar meliput perebutan reruntuhan jalan oleh jurnalis Gaza sebagai “zona konflik” ketika kamera mereka meledak? Atau menyampaikan bahwa kru berita Palestina juga punya “kepentingan ideologis” sebagai pembenar serangan Israel? Hampir tak pernah. Propaganda punya hak istimewa: ia dibingkai sebagai wacana sah, bukan subjek pencermatan.
Pencatatan korban jurnalis di Gaza seringkali ditemui hambatan: jaringan komunikasi rusak, akses internasional dibatasi, identitas sulit diverifikasi. Namun meskipun demikian, angka yang bisa dikonfirmasi saja sudah membuat kita pingsan—dan kemungkinan besar lebih tinggi dari itu. Dalam konflik ini, keheningan sudah dijadikan alat perang: media internasional dihalangi masuk, sementara yang tersedia hanyalah suara yang bisa dibungkam dengan ledakan. Dalam konteks itu, jurnalisme Gaza menjadi saksi tunggal yang diburu.
Kontras ini menceritakan sifat kegagalan global. Saat jurnalis Gaza mati untuk menyampaikan kebenaran, media Barat memilih menciptakan kebenaran versi mereka sendiri. Di Timur Tengah, seorang jurnalis tewas karena bom; di Barat, seorang jurnalis hidup untuk menulis pidato diplomatik tentang moralitas perang. Itu tidak hanya perbedaan kondisi. Itu benturan nilai. Satu pihak memilih berkunjung ke medan perang dengan kamera di tangan, satu pihak memilih berdiri jauh, merangkai kata agar bom terlihat tak berdosa.
Mungkin Anda bertanya: kenapa ini penting? Karena perang bukan hanya soal senjata dan tentara. Perang hari ini dilancarkan lewat opini, framing, narasi. Siapa yang memegang pena akan memanggul kekuatan setinggi peluru dalam medan perang kognitif. Jika narasi sudah dirampas, maka fakta tak punya tempat, penghakiman tak punya ruang, dan kebenaran tenggelam dalam gemuruh bom. Inilah kebiadaban média modern: ketika media besar tak lagi menjadi penengah, tapi bagian dari pihak yang menembakkan.
Dalam negeri kita, Indonesia, kita tak bisa sampai diam. Para jurnalis kita mungkin tak dihantam bom, namun mereka menghadapi tekanan sensor, kepentingan politik, kepemilikan media yang tak lepas dari elit. Jika media Barat tinggi hati memosisikan diri netral sementara ikut menulis pidato kekerasan, kita harus belajar dari jurnalis Gaza: keberanian melaporkan yang dikorbankan agar dunia tahu. Jangan sampai media lokal kita jatuh ke lubang propaganda: membela kekuasaan sambil menyebutnya independen.
Saat saya menulis ini, saya merasa marah — marah bahwa profesionalisme media dijadikan kedok pembenaran perang; marah bahwa jurnalis Gaza bertaruh nyawa demi catatan sejarah yang dihapus oleh narasi Barat; marah bahwa kita bisa menatap ke layar televisi dan percaya bahwa kita mendapatkan fakta, padahal banyak bagian fakta itu sudah disusun jauh sebelumnya oleh tangan yang berpihak. Saya menolak pandangan bahwa “semua pihak punya kepentingan”. Tidak — dalam perang komunikasi ini, salah satu pihak punya senjata otomatis: uang, jaringan, kekuasaan negara, akses diplomatik. Pihak lainnya hanya punya kamera rusak, kabel yang putus, dan keberanian yang rapuh.
Kita memang harus berpikir kritis terhadap berita apapun, terutama yang berasal dari pusat-pusat kekuasaan. Ketika jurnalis Barat menawarkan pidato perang kepada diplomat Israel, itu bukan usulan bijak — itu pengkhianatan terhadap prinsip jurnalisme. Dan ketika jurnalis Gaza tewas demi satu foto, itu bukan kehormatan yang fana — itu pengingat bahwa jurnalisme sejati adalah bentuk protes hidup terhadap pembungkaman.
Akhirnya, saya ingin tinggalkan satu pertanyaan tajam: kalau kita di ruang aman memilih untuk memercayai pidato yang disusun oleh penulis propaganda, bagaimana mungkin kita menaruh harapan pada narasi yang dibentuk oleh mereka yang mati demi narasi itu? Bila kita memandang media Barat sebagai referensi utama kebenaran, kita membiarkan media itu menjadi bagian dari perang, bukan penjaganya.
Pilihan kita sederhana: berdiri di sisi kematian yang menuntut keadilan, atau berdiri di sisi narasi yang membela pembunuhan. Saya memilih yang pertama — bersama jurnalis Gaza yang tewas agar dunia tidak buta.
