Opini
Amerika, Pemadam Api Berseragam Penjual Bensin
Ada pagi-pagi tertentu di dunia internasional ketika kita bangun dengan perasaan aneh, seperti mencium bau bensin di udara, lalu mendengar seseorang berteriak lantang bahwa ia sedang membawa air untuk memadamkan api. Begitulah kira-kira perasaan saya membaca kabar tentang penjualan senjata Amerika Serikat ke Taiwan senilai 11,1 miliar dolar AS, sambil di waktu yang sama Washington bersumpah setia pada stabilitas kawasan dan perdamaian global. Dunia, tampaknya, sedang dipimpin oleh seorang pemadam kebakaran yang rajin menyemprotkan bahan bakar, lalu heran mengapa api tak kunjung padam.
Konflik China–Taiwan memang sudah lama seperti kompor tua di dapur geopolitik Asia Timur: menyala kecil, dibiarkan, diawasi, kadang dipadamkan sebentar, lalu dinyalakan lagi. Tapi kehadiran Amerika Serikat dalam konflik China–Taiwan mengubah kompor itu menjadi panggangan industri. Bukan lagi soal api kecil yang dijaga agar tidak menjalar, melainkan panas yang sengaja diatur, cukup untuk membakar, tapi jangan sampai meledak di wajah sang koki. AS, dengan penuh percaya diri, berdiri di sampingnya, mengenakan seragam penjaga perdamaian, sambil membawa jeriken bertuliskan “deterrence”.
Saya rasa kita semua tahu narasi resminya. Penjualan senjata ke Taiwan disebut sebagai kewajiban moral dan legal. Demi menjaga keseimbangan. Demi mencegah agresi. Demi memastikan perdamaian. Kata “demi” ini memang fleksibel; ia bisa menjustifikasi hampir apa saja, termasuk mengirim sistem roket HIMARS—senjata yang namanya sudah harum di ladang perang Ukraina—ke wilayah yang oleh China dianggap sebagai bagian tak terpisahkan dari kedaulatannya. Dalam logika Washington, konflik China–Taiwan akan menjadi lebih damai jika setiap pihak memegang senjata yang lebih canggih. Kedengarannya seperti nasihat klasik: agar rumah tangga harmonis, pastikan setiap pasangan menyimpan pisau di balik bantal.
China, tentu saja, tidak tinggal diam. Peringatan keras dari PLA tentang peningkatan kesiapsiagaan tempur adalah respons yang bisa ditebak. Jika rumah Anda tetangga membeli senapan dan berlatih menembak di halaman, Anda mungkin tidak langsung menyerang, tapi pasti mulai mengunci pintu dan mengasah parang. Di titik ini, AS akan menunjuk ke Beijing dan berkata, “Lihat, mereka agresif.” Padahal, agresi itu muncul setelah bensin disiramkan, bukan sebelum.
Yang menarik, dalam konflik China–Taiwan, Amerika selalu tampil seolah-olah ia pihak luar yang netral, semacam wasit yang kebetulan memegang tongkat pemukul. Padahal, ia adalah pemasok alat, pelatih, sekaligus komentator pertandingan. AS mengakui Beijing secara diplomatik, tapi memeluk Taipei secara militer. Sebuah hubungan dua jalur yang jika diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, mungkin sudah masuk kategori manipulatif. Kita diajari bahwa kejujuran itu penting, tapi di panggung global, ambiguitas strategis justru dirayakan sebagai kebijakan cerdas.
Dalam laporan yang menjadi dasar tulisan ini, penjualan senjata disebut sebagai yang terbesar sepanjang sejarah hubungan AS–Taiwan. Kalimat itu sendiri sudah cukup satir tanpa perlu ditambah apa pun. Terbesar. Sepanjang sejarah. Di tengah klaim menjaga stabilitas. Dalam konflik China–Taiwan, ukuran memang penting—semakin besar nilainya, semakin kecil peluang dialog. Tapi jangan khawatir, kata Washington, ini semua demi perdamaian jangka panjang. Perdamaian versi apa? Perdamaian seperti di Ukraina, di mana senjata mengalir lancar, tapi tanahnya menjadi ladang kuburan?
Saya kadang membayangkan konflik China–Taiwan seperti tetangga kos yang ribut soal batas kamar mandi. Satu pihak merasa kamar mandi itu miliknya, pihak lain merasa berhak memakainya. Lalu datang pihak ketiga, bukan untuk menengahi, tapi untuk menjual kunci gembok, kamera pengintai, dan tongkat pemukul ke salah satu pihak, sambil berkata, “Saya hanya ingin kalian hidup rukun.” Dalam kehidupan nyata, kita akan menyebutnya provokator. Dalam geopolitik, kita menyebutnya mitra strategis.
AS gemar menggunakan kata “demokrasi” sebagai pembungkus moral. Taiwan diposisikan sebagai simbol nilai-nilai yang harus dilindungi. China dipresentasikan sebagai ancaman. Dikotomi ini rapi, mudah dijual ke publik, dan efektif membungkam pertanyaan yang lebih tidak nyaman: mengapa perlindungan itu selalu datang dalam bentuk senjata, bukan jaminan diplomatik yang sungguh-sungguh? Mengapa dalam konflik China–Taiwan, bahasa damai selalu kalah keras dari bunyi logam?
Dari perspektif Asia, termasuk Indonesia, ini terasa makin ironis. Kita hidup di kawasan yang bergantung pada stabilitas Selat Taiwan untuk perdagangan, energi, dan harga barang kebutuhan sehari-hari. Satu eskalasi serius di sana bisa membuat harga beras, elektronik, hingga bahan bakar ikut naik di sini. Tapi suara kawasan jarang diperhitungkan. Konflik China–Taiwan diperlakukan seperti papan catur global, bukan ruang hidup jutaan manusia. AS memindahkan bidak dengan tenang, sementara kami di pinggir papan hanya bisa berharap meja tidak terguncang.
Saya rasa AS sangat paham bahwa China belum ingin perang terbuka saat ini. Justru karena itulah bensin disiram pelan-pelan, bukan disiram sekaligus. Strateginya halus: cukup membuat Beijing gelisah, cukup memaksa PLA menaikkan kesiapan, cukup menciptakan kesan ancaman permanen. Dalam kondisi seperti ini, konflik China–Taiwan menjadi luka yang sengaja tidak disembuhkan, karena luka itu berguna sebagai alasan. Alasan untuk anggaran militer, untuk aliansi baru, untuk kontrak senjata berikutnya.
Satirnya, semua pihak bicara tentang “rakyat Taiwan”. China mengklaim melindungi kesejahteraan mereka dari petualangan separatis. AS mengklaim memperkuat pertahanan mereka. Tapi rakyat Taiwan sendiri hidup di bawah bayang-bayang konflik yang tidak mereka kendalikan sepenuhnya. Mereka diminta percaya bahwa semakin banyak senjata berarti semakin aman, meski sejarah sering menunjukkan sebaliknya. Dalam konflik China–Taiwan, rakyat adalah alasan, bukan pusat perhatian.
Saya tidak mengatakan China tanpa dosa. Retorika keras, latihan militer masif, dan ancaman penggunaan kekuatan jelas berbahaya. Tapi tulisan ini memang mengambil posisi tegas: peran AS bukanlah penetral, melainkan akselerator. Ia bukan sekadar menonton api, tapi mengatur besar kecilnya nyala. Dalam setiap pidato tentang stabilitas, terselip kepentingan yang lebih dingin: mempertahankan posisi dominan di Asia-Pasifik, meski harus menjadikan konflik China–Taiwan sebagai panggung permanen.
Pada akhirnya, ironi terbesar adalah ini: semua pihak berkata ingin mencegah perang, tapi bertindak seolah sedang menyiapkan perang paling mungkin. Senjata dijual, latihan digelar, ancaman diumbar, lalu dunia diminta percaya bahwa ini semua demi perdamaian. Saya rasa kita berhak curiga. Sebab jika pemadam kebakaran datang dengan truk penuh bensin, mungkin yang ia padamkan bukan api, melainkan ilusi bahwa perdamaian masih menjadi tujuan utama.
Konflik China–Taiwan belum meledak menjadi perang terbuka, tapi bau asapnya semakin terasa. Dan selama Amerika Serikat terus memainkan peran ganda—penjaga api sekaligus penjual bahan bakar—kita semua patut bertanya: siapa sebenarnya yang paling diuntungkan dari api yang tak pernah benar-benar dipadamkan itu?
