Opini
Amerika dan Bayangan Palestina di Cermin Sendiri
Di tengah deru kampanye, bendera berkibar, dan pidato yang menjanjikan “keadilan untuk semua”, ada suara lain yang makin keras terdengar di Amerika: suara yang bertanya, “Untuk siapa keadilan itu sebenarnya?” Sebuah survei terbaru dari Reuters–Ipsos menunjukkan bahwa 59 persen warga Amerika kini mendukung pengakuan negara Palestina. Ironis, bukan? Negara yang selama puluhan tahun menjadi pelindung utama zionis, kini rakyatnya justru mulai berbalik arah, menatap bayangan mereka sendiri di cermin, dan mungkin, untuk pertama kalinya, merasa malu.
Perubahan ini bukan muncul dari ruang hampa. Ia lahir dari darah dan reruntuhan di Gaza—dari citra bayi berlumur debu, dari suara tangisan di balik dinding rumah yang hancur oleh rudal buatan Amerika sendiri. Rakyat yang dulu menelan mentah narasi “Israel berhak membela diri” kini mulai muak dengan kata “pembelaan” yang berarti pembunuhan massal. Mereka sadar bahwa setiap senjata yang menembus tubuh anak-anak di Gaza adalah hasil pajak yang mereka bayarkan. Ada semacam kesadaran moral yang tiba-tiba menyeruak, menciptakan jurang antara hati publik dan dinginnya kebijakan pemerintah.
Di Washington, politik masih berputar di orbit lama: kalkulasi elektoral, tekanan lobi, dan kepentingan geopolitik. Namun di ruang makan warga biasa, percakapan berubah. Orang-orang mulai membicarakan Palestina seperti membicarakan George Floyd—bukan sekadar isu luar negeri, tapi soal kemanusiaan yang diinjak. Ketika 60 persen warga AS mengatakan bahwa “respons militer Israel” di Gaza terlalu berlebihan, itu bukan sekadar angka. Itu pengakuan bahwa imperialisme moral yang dibungkus jargon demokrasi mulai retak di dalam negeri sendiri.
Trump, tentu saja, membaca angin ini dengan naluri politiknya yang tajam. Ia tahu bagaimana menjual ilusi perdamaian tanpa mengubah struktur penindasan. Ceasefire ia sebut sebagai “keberhasilan diplomasi”, padahal kita tahu itu hanya jeda dalam siklus pembantaian. Ia menegaskan dukungan pada Israel, tapi dengan bumbu “upaya damai” agar tampak moderat di mata publik yang mulai lelah melihat darah. Dan ajaibnya, strategi itu berhasil sebagian. Angka persetujuan kebijakan luar negerinya naik menjadi 38 persen—tertinggi sejak Juli. Inilah politik gaya Amerika: keahlian mengubah tragedi menjadi peluang elektoral.
Namun di balik angka-angka itu, ada fenomena yang lebih menarik: retakan di tubuh Partai Republik. Sebanyak 41 persen pemilihnya kini mendukung pengakuan negara Palestina. Itu bukan hal kecil. Republik yang selama ini identik dengan dukungan tanpa syarat terhadap Israel kini menyaksikan perubahan di basisnya sendiri. Saya rasa, ini bukan sekadar soal Palestina. Ini tentang generasi baru konservatif yang mulai skeptis terhadap perang, intervensi, dan pemborosan dana publik atas nama sekutu yang menindas. Mereka lebih ingin Amerika fokus pada krisis perumahan, biaya kesehatan, dan utang mahasiswa—bukan mengirim bom ke Timur Tengah.
Di sisi lain, 80 persen Demokrat mendukung pengakuan Palestina. Itu angka yang telak, dan seharusnya membuat Gedung Putih berhenti berpura-pura tuli. Tapi seperti biasa, politik luar negeri Amerika tak ditentukan oleh moralitas, melainkan oleh kalkulator lobi. Tak peduli berapa banyak yang mati di Rafah atau Khan Younis, selama kampanye presiden butuh dana, kepentingan zionis akan tetap jadi prioritas. Ironinya, di saat sekutu lama seperti Inggris, Kanada, Prancis, dan Australia mulai mengakui Palestina secara resmi, Washington justru terjebak dalam nostalgia kekuasaan.
Saya teringat pepatah lama: “Kebenaran bisa disembunyikan, tapi tak bisa dimatikan.” Dunia kini menyaksikan pergeseran yang tak bisa dibalik. Ketika rakyat Amerika—yang selama ini dianggap apatis—mulai mempertanyakan posisi negaranya dalam konflik Palestina, maka sesuatu yang besar sedang bergeser di fondasi moral Barat. Dan seperti domino, perubahan persepsi ini bisa meruntuhkan legitimasi kebijakan luar negeri yang selama puluhan tahun menormalisasi apartheid.
Di Indonesia, kita mungkin bertanya-tanya: apa hubungannya semua ini dengan kita? Banyak, sebenarnya. Karena Amerika bukan sekadar negara lain; ia adalah mesin narasi global. Apa yang berubah di hati publik Amerika, lambat laun akan mengubah cara media besar berbicara, cara diplomat bernegosiasi, bahkan cara film-film Hollywood memotret Timur Tengah. Jika dulu tokoh Arab selalu digambarkan sebagai teroris, mungkin sebentar lagi ia akan muncul sebagai korban yang mencari kebebasan. Perubahan semacam itu dimulai dari opini publik—dan saat ini, benihnya sedang tumbuh di Amerika.
Namun saya juga khawatir, jangan-jangan perubahan ini terlalu lambat untuk menyelamatkan yang tersisa di Gaza. Dunia sering baru menyesal setelah semua hancur. Seperti penonton yang baru tersentuh ketika film sudah berakhir. Amerika kini berada di persimpangan: antara terus mempertahankan mitos “sekutu abadi Israel” atau mendengarkan suara rakyatnya sendiri. Masalahnya, sejarah menunjukkan bahwa kebijakan luar negeri AS jarang tunduk pada nurani. Ia tunduk pada kekuasaan, pada uang, pada suara pemilu.
Tapi siapa tahu? Barangkali untuk pertama kalinya, rakyat biasa akan memaksa elite mereka menatap luka yang mereka ciptakan di seberang lautan. Mungkin mereka akan sadar bahwa tak ada peradaban yang bisa mengaku demokratis sambil menutup mata terhadap genosida yang disiarkan langsung di ponsel mereka. Karena pada akhirnya, tragedi Palestina bukan cuma soal bangsa lain. Ia cermin bagi Amerika sendiri: sejauh mana negara yang mengaku pelindung hak asasi manusia berani menghadapi bayangan kelamnya.
Ketika 59 persen rakyat berkata “akui Palestina”, itu bukan sekadar statistik. Itu semacam pengakuan dosa kolektif, sekaligus harapan untuk menebusnya. Amerika sedang berbicara kepada dirinya sendiri—tentang keadilan, tentang kemunafikan, tentang luka yang telah lama disangkal. Dan jika suara itu terus membesar, barangkali dunia akan menyaksikan hal yang tak pernah dibayangkan: bahwa perubahan besar bisa dimulai dari dalam jantung kekaisaran yang dulu membiayai penjajahan.
Sejarah, pada akhirnya, selalu berpihak pada yang terjajah. Amerika hanya perlu waktu untuk menyadarinya.
