Opini
Agenda Tersembunyi di Balik Proposal Gaza
Debu masih menari di udara Gaza yang retak, menyelip di antara puing rumah yang tak lagi berbentuk. Jalanan penuh kawah seolah menjadi peta luka, sementara langit memantulkan cahaya pucat yang menyesakkan. Dari tempat seperti inilah sebuah dokumen rapi berisi 21 poin diluncurkan dari kota-kota megah ribuan kilometer jauhnya. Kertas yang mengklaim membawa damai, namun justru menyalakan banyak tanda tanya. Aroma logam dan mesiu belum hilang, tetapi para perancang proposal ini sudah menyiapkan “masa depan” yang mereka pilih sendiri.
Proposal Amerika Serikat ini, yang kabarnya lahir di sela-sela Sidang Umum PBB dan digagas oleh nama-nama lama seperti Jared Kushner dan Tony Blair, seolah menebarkan janji indah: Israel tak akan menganeksasi Gaza, bantuan kemanusiaan 600 truk per hari, bahkan ada klaim jalur menuju negara Palestina. Kedengarannya mulia. Tapi, mari berhenti sejenak. Mengapa setiap kali Washington berbicara soal “negara Palestina”, detailnya selalu samar, tenggat waktunya kabur, dan mekanisme sanksinya tak pernah jelas? Kita semua tahu: janji tanpa tenggat hanyalah bayangan yang bisa menguap kapan saja.
Lebih jauh, syarat yang ditulis begitu rapi justru seperti jebakan. Hamas diminta melucuti senjata, mendemiliterisasi Gaza, dan mendepak anggotanya yang tak mau “berdamai”. Saya tidak sedang membela kekerasan, tetapi memaksa satu pihak untuk meletakkan pertahanan diri tanpa jaminan keadilan adalah resep bencana. Apakah kita lupa sejarah Oslo, ketika “kesepakatan damai” justru menjadi karpet merah bagi ekspansi permukiman Israel? Atau kita pura-pura lupa karena dokumennya kini dihias kata-kata baru?
Di balik setiap kalimat manis, tersimpan ironi yang menusuk. Netanyahu dan menteri-menterinya seperti Ben-Gvir terang-terangan menolak negara Palestina. Mereka bahkan menyerukan aneksasi penuh. Lalu mengapa Washington menulis seolah-olah negara Palestina tinggal menunggu tanda tangan? Ini seperti menjanjikan kue yang dapurnya sudah disegel. Sebuah pertunjukan yang menghibur publik internasional tapi tak punya resep nyata.
Lebih licik lagi, proposal ini membentuk pemerintahan teknokrat sementara dengan pengawasan internasional. Kedengarannya netral. Padahal, inilah cara elegan untuk menjadikan Gaza semacam protektorat—wilayah yang diatur oleh “dunia”, yang kebetulan didominasi kepentingan Amerika dan sekutunya. Gaza mungkin akan tampak merdeka di peta, tetapi kekuasaannya tetap di tangan “penjaga keamanan” global. Ini seperti memberi kunci rumah kepada tetangga lalu berkata, “Silakan tinggal, tapi jangan pindahkan furnitur tanpa izin.”
Dan siapa yang muncul di balik layar? Jared Kushner, arsitek “Deal of the Century” yang ditolak banyak pihak, dan Tony Blair, yang namanya lengket dengan invasi Irak 2003. Kedua sosok ini bukanlah figur polos. Rekam jejak mereka adalah catatan tentang bagaimana diplomasi bisa dibungkus rapi untuk menutupi kepentingan minyak, senjata, dan dominasi. Apakah kita benar-benar percaya mereka tiba-tiba jatuh cinta pada keadilan bagi Palestina? Saya sulit menahan tawa getir.
Agenda tersembunyi itu makin kentara ketika kita membaca poin “deradikalisasi” penduduk Gaza. Istilah yang terdengar akademis, tetapi sering berarti: membentuk pikiran sesuai standar pihak pemenang. Di Indonesia, kita tahu betul bagaimana istilah semacam ini bisa meluas maknanya. Hari ini “deradikalisasi”, besok bisa berarti “patuh pada penguasa.” Tak ada yang lebih politis daripada mencoba mengatur isi kepala orang lain.
Lalu ada janji bantuan: 600 truk per hari. Angka besar, seperti pamer kekayaan. Tapi bantuan yang seluruh distribusinya dikontrol lembaga internasional dan Gaza Humanitarian Foundation yang dibentuk dengan bantuan AS? Itu bukan kebaikan tulus. Itu mekanisme kontrol. Seperti memberi air di tengah kemarau sambil menggenggam kran erat-erat. “Kami beri, kami cabut,” begitu kira-kira.
Kita di Indonesia tentu paham rasanya janji manis yang menutupi kepentingan asing. Kita pernah merasakan bagaimana investasi atau pinjaman yang tampak menyelamatkan ternyata menjadi cara mengatur kebijakan dalam negeri. Analogi sederhana: tetangga datang menawarkan bantuan memperbaiki atap bocor, tetapi tiba-tiba dia punya kunci rumah dan memutuskan warna cat dinding. Itulah wajah proposal ini.
Apakah ini berarti kita menolak seluruh upaya damai? Tentu tidak. Tidak ada orang waras yang ingin perang terus berkobar. Tapi perdamaian sejati tidak lahir dari syarat timpang. Tidak datang dari proposal yang menuntut rakyat Gaza menanggalkan senjata sementara pelanggaran Israel dibiarkan tanpa sanksi tegas. Perdamaian sejati lahir dari pengakuan hak, penghapusan blokade, dan kesetaraan, bukan dari kertas 21 poin yang gemerlap tetapi hampa.
Lebih dari itu, proposal ini berpotensi mengaburkan memori kolektif dunia. Ketika pembicaraan damai menjadi headline, perhatian publik bisa bergeser dari fakta genosida yang baru saja terjadi. Luka segar bisa terbungkus kata “rekonsiliasi”, seolah darah yang belum kering hanyalah catatan kaki. Ini cara paling halus untuk mengendalikan narasi: menenggelamkan penderitaan dalam pesta diplomasi.
Saya rasa, proposal ini lebih mirip sandiwara diplomasi. Sebuah panggung untuk menenangkan kemarahan dunia, menutup wajah muram Israel, dan memoles citra Amerika Serikat yang tercoreng oleh keberpihakan terang-terangan. Sementara di balik panggung, rencana besar tetap sama: menjaga pengaruh, menundukkan Gaza, dan menunda kemerdekaan Palestina entah sampai kapan.
Kita bisa saja tersenyum pahit membaca setiap baris dokumen itu. Karena kita tahu, kata “damai” di sini lebih dekat ke kata “diam”. Diam di bawah bayang-bayang kekuatan yang sama yang membiarkan Gaza hancur. Diam di bawah janji yang selalu bisa dicabut sewaktu-waktu. Diam, sambil berharap dunia lupa.
Dan itulah agenda tersembunyi yang sebenarnya tak terlalu tersembunyi: mempertahankan status quo dengan selubung perdamaian. Sebuah permainan lama yang terus diulang, hanya ganti aktor dan nomor pasal. Gaza tidak butuh permainan itu. Dunia pun seharusnya tidak. Tapi selama kertas rapi itu masih dipuja sebagai solusi, kita tahu, panggung akan terus berdiri, lampu akan terus menyala, dan keadilan tetap menunggu di balik tirai.

Pingback: Rencana Trump di Gaza: Penjajahan Baru Terselubung