Opini
Afrika Berdarah dalam Bayang-Bayang Teluk
Ada sesuatu yang terasa janggal ketika kita membaca berita tentang Afrika hari ini. Kekerasan seolah datang silih berganti, konflik tampak seperti tak pernah selesai, dan korban selalu rakyat biasa—petani, perempuan, anak-anak—yang namanya jarang tercatat. Kita semua tahu narasi yang paling sering dipakai: konflik internal, negara lemah, elite lokal rakus, etnis bertikai. Penjelasan itu terdengar rapi, mudah dicerna, dan—jujur saja—terlalu nyaman. Laporan Critical Threats yang Anda kirim justru membuat kegelisahan itu mengeras: apa yang terjadi di Afrika bukan kisah tentang kegagalan Afrika semata, melainkan tentang bagaimana darah Afrika mengalir dalam permainan kekuasaan yang pusatnya sering kali berada jauh dari benua itu sendiri.
Saya rasa penting untuk mengatakan ini sejak awal, tanpa basa-basi: peran Uni Emirat Arab dan Arab Saudi tidak bisa dipisahkan dari situasi berdarah yang menimpa Afrika hari ini. Bukan sebagai penyebab tunggal, tentu tidak. Tetapi sebagai aktor eksternal yang ikut mengatur tempo, memperpanjang napas konflik, dan dalam beberapa kasus, membuat kekerasan menjadi sesuatu yang “bermanfaat” secara geopolitik. Laporan tersebut menangkap itu dengan bahasa analitis, tetapi di balik tabel, peta, dan istilah strategis, ada kenyataan pahit yang sulit disangkal.
Konflik di Sudan menjadi contoh paling telanjang. Ketika Critical Threats menyebut dugaan tindakan genosida oleh Rapid Support Forces (RSF) di el-Fasher, kita sedang berbicara tentang pembunuhan massal, pengusiran sistematis, dan kehancuran komunitas sipil. Ini bukan kekerasan spontan. Ini kekerasan yang terorganisir, berulang, dan berkelanjutan. Pertanyaannya sederhana: bagaimana mungkin sebuah milisi bisa mempertahankan kapasitas kekerasan sebesar itu tanpa sokongan eksternal? Di sinilah peran Uni Emirat Arab muncul—tidak sebagai narator cerita, tetapi sebagai tangan yang ikut menulis alurnya.
UEA, menurut laporan tersebut, tidak berdiri di pinggir lapangan. Ia memilih sisi. Dukungan terhadap RSF—baik langsung maupun tidak—memberi kelompok itu oksigen politik dan material. Saya tidak sedang mengatakan Abu Dhabi menarik pelatuk senjata. Tetapi kita semua tahu, senjata yang terus terisi dan logistik yang terus mengalir membuat pelatuk itu jauh lebih mudah ditekan. Dalam logika konflik, dukungan seperti ini adalah pesan diam-diam: lanjutkan, dunia belum akan menutup pintu.
Di titik ini, ungkapan “Afrika berdarah” kehilangan kepolosannya. Darah itu bukan sekadar akibat pertikaian lokal, tetapi bagian dari mekanisme kekuasaan global. Afrika menjadi ladang di mana kekuatan eksternal menguji pengaruhnya, tanpa harus menanggung biaya moral secara langsung. Korbannya bukan warga Abu Dhabi, bukan elite Teluk, melainkan warga Darfur, el-Fasher, desa-desa yang namanya bahkan sulit kita ucapkan.
Arab Saudi hadir dengan wajah berbeda, dan di sinilah ironi mulai bekerja. Dalam laporan yang sama, Saudi digambarkan sebagai aktor yang berupaya mendorong diplomasi, menggalang pertemuan, dan menekan pihak-pihak yang dianggap memperpanjang konflik. Di atas kertas, peran ini terlihat mulia. Namun saya rasa kita perlu jujur: diplomasi Saudi bukanlah diplomasi tanpa kepentingan. Ia lahir dari kebutuhan menjaga stabilitas Laut Merah, jalur perdagangan, dan keamanan kawasan yang vital bagi ekonomi dan politik Riyadh.
Artinya, Saudi tidak sedang menyelamatkan Afrika karena panggilan moral semata. Ia sedang mengelola kekacauan agar tidak meluap ke wilayah yang mengganggu kepentingannya. Ini bukan kritik yang naif, melainkan pembacaan realistis. Dalam kerangka itu, Afrika tetap diperlakukan sebagai arena, bukan sebagai subjek yang suaranya setara. Kekerasan boleh dihentikan, asal tidak mengganggu peta kepentingan yang lebih besar.
Persaingan Saudi dan UEA di kawasan Laut Merah dan Afrika Timur menambah lapisan absurditas. Dua negara yang kerap dipersepsikan sejalan ternyata memainkan strategi berbeda, bahkan saling berseberangan. Laporan Critical Threats menangkap dinamika ini sebagai kompetisi pengaruh, tetapi dampaknya nyata di lapangan: aktor lokal terdorong memilih patron, konflik mendapat energi baru, dan perdamaian menjadi barang mahal. Dalam situasi seperti ini, perdamaian justru bisa terasa mengancam bagi mereka yang hidup dari konflik.
Kita bisa melihat pola ini bukan hanya di Sudan, tetapi juga di wilayah lain yang disinggung laporan tersebut. Afrika Timur dan Tengah bukan ruang kosong. Ia berada di persimpangan jalur perdagangan, sumber daya alam, dan kepentingan keamanan global. Ketika negara-negara Teluk masuk dengan modal besar, diplomasi aktif, dan—dalam beberapa kasus—dukungan militer terselubung, konflik lokal berubah menjadi konflik berlapis. Yang tadinya api kecil, disiram bensin geopolitik.
Saya sering merasa, membaca laporan seperti ini, ada ironi yang getir. Dunia internasional gemar berbicara tentang stabilitas, tetapi jarang mau bertanya stabilitas untuk siapa. Stabilitas bagi jalur dagang? Bagi investasi? Atau bagi warga yang setiap hari hidup di bawah bayang-bayang senjata? Ketika UEA mendukung aktor bersenjata dan Saudi berupaya mengelola konflik lewat diplomasi selektif, keduanya beroperasi dalam logika yang sama: Afrika penting sejauh ia relevan bagi kepentingan mereka.
Di sini kita perlu berhenti sejenak dan menolak narasi lama yang menyalahkan Afrika sepenuhnya. Ya, elite lokal punya tanggung jawab besar. Ya, konflik internal nyata adanya. Tetapi laporan ini mengingatkan kita bahwa konflik tersebut tidak dibiarkan berjalan sendiri. Ia dirawat, diarahkan, dan kadang dipelihara oleh tangan-tangan yang berada di luar benua. Menyebut ini bukan berarti menghapus agensi Afrika, melainkan menempatkan konflik dalam konteks yang lebih jujur.
Analoginya sederhana. Bayangkan sebuah rumah yang sudah retak. Retaknya mungkin karena pemilik rumah lalai. Tetapi ketika ada orang luar datang, memukul dinding yang sudah rapuh itu, lalu berkata “ini urusan internal,” kita tahu ada kebohongan di situ. Afrika hari ini adalah rumah yang retak, dan kekuatan eksternal—termasuk UEA dan Saudi—sering kali bukan tukang yang memperbaiki, melainkan tamu yang ikut mendorong dindingnya.
Laporan Critical Threats tidak berteriak, tetapi bisikannya cukup keras bagi siapa pun yang mau mendengar. Ia menunjukkan bahwa darah Afrika mengalir dalam sistem global yang memungkinkan kekerasan terjadi tanpa konsekuensi serius bagi pendukung eksternalnya. Selama dukungan itu dibungkus dalam bahasa keamanan, stabilitas, atau kepentingan regional, ia akan terus dianggap sah.
Saya rasa di sinilah posisi saya jelas: kita tidak bisa lagi membicarakan konflik Afrika tanpa menyebut peran negara-negara Teluk. Bukan untuk mencari kambing hitam, tetapi untuk menuntut tanggung jawab. Selama UEA bisa mendukung aktor bersenjata tanpa tekanan berarti, dan Saudi bisa mengelola konflik tanpa menyentuh akar ketidakadilan, Afrika akan terus berdarah—pelan, sistematis, dan sering kali tak terlihat.
Penutupnya sederhana, tapi tidak nyaman. Jika kita sungguh peduli pada Afrika, kita harus berhenti berpura-pura bahwa kekerasan di sana adalah tragedi lokal yang terisolasi. Ia adalah cermin dari dunia yang rela menukar nyawa manusia dengan stabilitas semu. Dan selama tangan-tangan dari Teluk terus bermain di balik layar, darah Afrika akan tetap menjadi bagian dari harga yang dianggap wajar.
