Opini
400 Juta Dolar untuk Mega Proyek Pencitraan Israel
Malam itu saya duduk menatap layar, mencoba memahami bagaimana sebuah negara yang mengaku membela diri bisa menghabiskan angka yang bahkan sulit diucapkan tanpa menarik napas panjang: empat ratus juta dolar—atau sekitar Rp 6,2 triliun hanya untuk mengatur bagaimana dunia melihatnya. Angka itu tidak muncul dari film distopia atau laporan fiktif; itu muncul dari serangkaian dokumen tentang proyek pencitraan Israel. Dan tiba-tiba, absurditas itu menetes di ujung lidah: perang ini tidak hanya memakan korban jiwa, tetapi juga memakan kebenaran, menelannya hidup-hidup, lalu memuntahkannya dalam bentuk iklan berbayar, bot otomatis, dan influencer yang dibayar tujuh ribu dolar per unggahan—sekitar Rp 108 juta. Sebuah caption seharga satu motor baru.
Saya rasa banyak dari kita pernah bertanya: mengapa narasi di dunia maya begitu garang, begitu satu arah, begitu berisik dengan pembelaan yang terasa dibuat-buat? Mengapa setiap kali gambar kehancuran dari Gaza muncul, selalu ada gelombang tandingan yang menyebut semuanya hoaks, propaganda, atau dramatisasi? Kini jawabannya mulai terlihat. Dengan Project 545 senilai USD 145 juta—sekitar Rp 2,25 triliun—Israel tidak sedang mencoba meyakinkan publik; mereka sedang membeli opini, memborong ruang digital, mengakuisisi persepsi. Yang dijual bukan hanya perang, tetapi juga ingatan kolektif manusia. Andaikan ingatan bisa diperdagangkan di marketplace, mungkin harganya tidak jauh berbeda.
Transisi berikutnya membawa kita pada sesuatu yang lebih mencengangkan: upaya memengaruhi data pelatihan AI. Ini bukan lagi sekadar memberi makan algoritma dengan narasi tertentu; ini adalah usaha menyuntikkan bias ke dalam mesin yang akan membentuk cara generasi berikutnya memahami dunia. Bayangkan anak-anak Indonesia yang kelak bertanya pada AI tentang Gaza dan mendapat jawaban yang sudah diminyaki oleh kepentingan politik, dipoles oleh ratusan juta dolar, dimanipulasi agar tampak objektif padahal dibentuk dari strategi PR. Rasanya seperti membeli masa depan, mengatur ulang memori digital umat manusia. “ChatGPT bilang begitu,” seseorang mungkin berkata. Padahal yang membisikkannya—secara tidak langsung—adalah kampanye raksasa yang nilainya cukup untuk membangun ribuan rumah sakit di wilayah yang kini nyaris tidak punya rumah sakit sama sekali.
Kemudian ada program bot senilai USD 750.000—sekitar Rp 11,4 miliar—yang tugasnya membanjiri media sosial dengan pesan pro-Israel. Kita semua tahu polanya: akun tanpa wajah, kata-kata yang sama, komentar yang berulang, dan agresivitas yang terasa tidak wajar. Ia seperti bayangan yang mengikuti setiap percakapan online tentang Gaza, selalu muncul, selalu menyela, selalu mendorong narasi tertentu. Saya sering membayangkan bagaimana percakapan publik kita akan terlihat jika bot-bot itu dimatikan. Barangkali lebih banyak ruang untuk empati, lebih banyak keberanian untuk mengatakan kebenaran tanpa takut dihantam gelombang akun palsu yang bekerja lembur.
Dan jangan lupa program influencer: USD 1 juta—sekitar Rp 15,4 miliar—diperuntukkan hanya untuk satu hal: menyewa wajah-wajah populer agar tersenyum sambil memuji Israel. Ada sesuatu yang tragis sekaligus ironis ketika tragedi kemanusiaan disandingkan dengan unggahan estetika Instagram. Saat rumah-rumah runtuh di Gaza, seorang influencer mungkin sedang menata cahaya untuk memotret dirinya dengan teks “Israel stands for peace.” Saya tidak ingin menyalahkan influencer; uang sebesar USD 7.000 (Rp 108 juta) per unggahan memang bukan angka yang mudah ditolak. Tetapi tetap terasa getir: tragedi manusia dilawan dengan strategi pemasaran.
Israel juga menargetkan komunitas Kristen di AS—menghabiskan USD 4 juta (Rp 61,6 miliar)—untuk mempromosikan narasi bahwa Palestina bukan hanya sekutu Hamas, tetapi juga musuh Kekristenan. Saya bergidik membaca bagian itu. Sebab di Indonesia, kita sangat paham bagaimana mudahnya politik identitas bekerja. Satu frasa saja bisa memecah belah komunitas, bisa mengubah simpati menjadi permusuhan, bisa membuat mata lebih memilih menatap dogma ketimbang kenyataan. Bahwa sebuah negara berani memelintir identitas agama untuk menutupi kehancuran yang mereka ciptakan adalah refleksi dari betapa jauh mereka telah melangkah.
Lalu, puncaknya: USD 50 juta—sekitar Rp 770 miliar—dipakai untuk memasang iklan di Google, X, dan platform lain, dengan tujuan menolak bukti bahwa Gaza mengalami kelaparan. Ketika badan pangan internasional sudah memastikan bahwa famine benar-benar terjadi, masih ada pemerintah yang memutuskan bahwa solusi terbaik adalah membeli iklan. Bayangkan: orang-orang di Gaza tidak tahu apakah mereka akan makan hari ini, sementara di tempat lain ratusan juta dolar digunakan untuk meyakinkan publik bahwa mereka sebenarnya tidak lapar. Ini bukan lagi ironi; ini tragikomedi yang pahit, dan kita semua menjadi saksi yang tak bisa memalingkan pandangan.
Dan ketika angka-angka ini dirangkai, kita melihat sebuah gambaran yang mencemaskan: total biaya kampanye mencapai lebih dari USD 350 juta—sekitar Rp 5,39 triliun—dan itu baru angka yang tercantum dalam dokumen. Banyak bagian dari proyek pencitraan ini mungkin tidak pernah dipublikasikan. Tetapi cukup bagi kita untuk menyadari satu hal: sebuah negara tidak menghabiskan ratusan juta dolar untuk pencitraan kecuali reputasinya benar-benar runtuh.
Kita di Indonesia mungkin tidak terlibat langsung dalam konflik itu, tetapi kita merasakannya di ruang digital kita sendiri. Di Facebook, Twitter (X), Instagram, TikTok—bahkan di kolom komentar berita lokal—kita melihat pertarungan narasi yang tidak proporsional. Setiap gambar kehancuran dibalas dengan “itu editan.” Setiap laporan kemanusiaan dibalas dengan “itu propaganda.” Setiap air mata dibalas dengan “mereka pantas mendapatkannya.” Kini kita tahu mengapa. Ada mesin besar yang bekerja di balik layar, mengucurkan dana triliunan rupiah demi membuat dunia ragu pada apa yang mata mereka lihat dengan jelas.
Saya percaya opini publik tidak bisa dibeli selamanya. Bukti terlalu kuat, gambar terlalu nyata, dan suara korban terlalu keras untuk dikalahkan oleh iklan. Buktinya, survei terbaru menunjukkan bahwa enam dari sepuluh warga AS kini memandang Israel secara tidak menguntungkan. Artinya, meski Israel menggelontorkan ratusan juta dolar, mereka tetap kalah oleh satu hal yang tidak bisa dibeli: kebenaran.
Akhirnya, kita sampai pada pertanyaan yang lebih manusiawi: berapa harga nurani? Jika pencitraan perang bisa dibeli dengan USD 400 juta—sekitar Rp 6,16 triliun—maka apakah nilai sebuah kehidupan di Gaza lebih murah dari tarif influencer? Kita semua tahu jawabannya. Tetapi tampaknya ada pemerintah yang menganggap reputasi lebih pantas dilindungi daripada manusia.
