Nasional
F-35: Monumen Kegagalan Ambisi Militer Amerika
Langit yang dulu dijanjikan penuh kejayaan kini dipenuhi gema janji kosong. Dua puluh lima tahun, dua triliun dolar, dan beribu rapat di ruang tertutup Pentagon—semuanya untuk sebuah pesawat yang tak pernah benar-benar terbang sebagaimana dibayangkan. F-35, yang semula digadang sebagai simbol supremasi udara, kini lebih layak disebut karya seni dari kebodohan sistemik: indah di presentasi PowerPoint, mahal di laporan keuangan, tapi rapuh di kenyataan
Ironinya, kegagalan ini bukan datang dari musuh asing, melainkan dari jantung industri pertahanan Amerika sendiri. Laporan terbaru Government Accountability Office (GAO) dan analisis Responsible Statecraft menunjukkan apa yang selama ini hanya dibisikkan: F-35 tidak akan pernah mencapai kemampuan tempurnya yang dijanjikan. Kalimat birokratis “reducing the scope of Block 4” terdengar lembut, tapi maknanya tegas—Amerika Serikat resmi mengakui bahwa sebagian besar mimpi tentang jet ini dikubur diam-diam.
Bagaimana mungkin negara dengan anggaran militer terbesar di dunia, dengan universitas teknologi dan industri paling maju, justru gagal menghasilkan satu pesawat yang benar-benar siap tempur? Jawabannya sederhana tapi pahit: karena F-35 bukan dirancang untuk efisiensi perang, melainkan untuk kelangsungan ekonomi korporasi pertahanan. Lockheed Martin, sang raksasa senjata, tahu persis cara mengubah proyek gagal menjadi mesin uang.
Dalam dunia yang lebih jujur, proyek semacam ini sudah lama dihentikan. Tapi di Amerika, setiap kegagalan besar cukup diganti namanya agar terlihat seperti kemajuan. Dari “pengembangan dasar” berubah jadi “fase modernisasi.” Dari “masalah teknis” menjadi “penyesuaian kemampuan.” Dari “pemborosan dana” menjadi “investasi strategis.” Dan dengan satu permainan istilah, miliaran dolar terus mengalir tanpa pertanggungjawaban.
Saya rasa kita semua bisa belajar sesuatu dari cara mereka menyembunyikan kebusukan dengan retorika. Seperti tukang cat yang menutupi dinding retak dengan lapisan warna baru, Pentagon menutupi kegagalannya dengan istilah manis agar publik tak melihat bahwa pondasinya sudah rapuh. Padahal, di balik nama besar F-35, terdapat realitas getir: pesawat ini tidak memenuhi standar yang dijanjikan dalam hal electronic warfare, navigasi, hingga integrasi senjata.
Yang lebih lucu—kalau boleh saya sebut begitu—adalah bagaimana sekutu-sekutu Amerika ikut menanggung malu. Inggris, Norwegia, Italia, dan 16 negara lainnya telah membeli pesawat ini dengan keyakinan bahwa mereka mendapatkan teknologi masa depan. Kini mereka tahu, masa depan itu datang terlambat, dan dalam kondisi setengah rusak. Setiap negara membayar miliaran dolar hanya untuk menyadari bahwa “kemajuan” yang dijanjikan Washington hanyalah brosur pemasaran bersayap baja.
Kita bisa menyebutnya apa saja: kebodohan kolektif, kapitalisme militer, atau sekadar keserakahan sistemik. Tapi satu hal pasti—F-35 telah menjadi simbol kegagalan militer Amerika modern. Sebuah proyek yang menggabungkan ambisi politik, kesombongan teknologi, dan kerakusan industri dalam satu tubuh logam yang berat terbang tapi ringan manfaat.
Dan ya, harga totalnya mencengangkan: 2 triliun dolar AS, atau sekitar Rp 32.000 triliun. Angka itu setara dengan lebih dari sepuluh kali APBN Indonesia. Bayangkan jika dana sebesar itu digunakan untuk membangun rumah sakit, riset energi terbarukan, atau pendidikan global—bukan untuk sebuah jet yang masih bermasalah bahkan saat cuaca terlalu panas.
Lockheed Martin dan Pentagon menjual ilusi: bahwa satu pesawat bisa memenuhi kebutuhan semua cabang militer dan bahkan sekutu. Tapi dalam praktiknya, ini seperti mencoba membuat satu jenis sandal untuk semua ukuran kaki di dunia. Akibatnya? Tak ada yang benar-benar pas, tapi semua sudah terlanjur beli.
Kegagalan F-35 juga menyingkap wajah lain dari hegemoni Amerika: ketergantungan dunia terhadap industri senjatanya. Negara-negara sekutu membeli bukan karena butuh, tapi karena takut tak dianggap bagian dari “aliansi demokrasi.” Mereka membeli perlindungan politik, bukan keunggulan teknologi. Tapi apa jadinya ketika jaminan itu terbukti palsu? Ketika mesin yang dijanjikan sebagai pelindung justru menjadi beban?
Ada ironi besar di sini. Amerika yang sering menertawakan produk Tiongkok karena “cepat rusak” kini harus menelan kenyataan bahwa produk mereka sendiri gagal di level yang lebih mahal. Bedanya, Tiongkok tak pernah menjual produknya dengan jargon moral dan janji penyelamat dunia. Amerika melakukannya—dan gagal dengan gaya.
Saya teringat pepatah lama: “Senjata terbaik adalah yang tak perlu digunakan.” Tapi di tangan kapitalisme militer, pepatah itu berubah menjadi: “Senjata termahal adalah yang tak bisa digunakan.” F-35 adalah manifestasi sempurna dari paradoks ini. Ia bukan alat perang, melainkan proyek pekerjaan tetap bagi birokrat, insinyur, dan lobi politik di Washington.
Yang menyedihkan, publik Amerika sendiri terperangkap dalam kabut propaganda. Mereka membayar pajak untuk mendanai pesawat yang bahkan pilotnya enggan terbangkan karena risiko malfungsi. Mereka diajari percaya bahwa ini demi keamanan nasional, padahal yang aman hanyalah laba Lockheed Martin.
Dunia kini menyaksikan kejatuhan mitos bahwa teknologi Barat selalu unggul. Dalam perang modern, yang dibutuhkan bukan sekadar jet canggih, tapi strategi dan kejujuran politik. F-35 mungkin masih akan tampil di parade militer dan video promosi dengan musik heroik, tapi kita tahu, di balik sayapnya tersimpan cerita pahit tentang kesombongan yang gagal menembus kenyataan.
Jika suatu hari F-35 tercatat dalam buku sejarah, saya yakin ia tak akan dikenang sebagai pesawat tempur, melainkan sebagai tugu peringatan keserakahan militer-industrial complex Amerika. Sebuah proyek yang membuktikan bahwa kekuatan tanpa akal sehat adalah senjata paling mematikan—bukan bagi musuh, tapi bagi diri sendiri.
Kita, di negeri yang masih berjuang dengan dana terbatas untuk riset pertahanan dan teknologi, seharusnya belajar dari sini. Bahwa kekuatan sejati bukan soal anggaran, tapi visi. Bukan soal siluman di radar, tapi kejujuran dalam merancang arah masa depan. Karena, pada akhirnya, bangsa yang sibuk berperang melawan akal sehatnya sendiri hanya akan kalah bahkan sebelum pertempuran dimulai.
Dan mungkin, jika langit bisa bicara, ia akan berbisik pelan di telinga para pembuat F-35: “Kalian ingin menaklukkan udara, tapi justru jatuh karena ambisi kalian sendiri.”
