Analisis
Trump, Doktrin Monroe, Venezuela, dan Bayang-Bayang Perang Besar
Ada sesuatu yang terasa ganjil, nyaris absurd, ketika abad ke-21 dipaksa berjalan mundur ke abad ke-19. Dunia yang katanya sudah lelah pada kolonialisme, pemaksaan kedaulatan, dan intervensi telanjang, tiba-tiba kembali mendengar satu frasa tua diucapkan dengan percaya diri: Doktrin Monroe. Bukan oleh sejarawan. Bukan oleh akademisi. Melainkan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, saat menjelaskan penangkapan Nicolás Maduro dan rencana Amerika “menjalankan” Venezuela. Di titik itu, kegelisahan global tidak lagi bersifat teoritis. Ia menjadi nyata, keras, dan berbau mesiu.
Doktrin Monroe, yang sejak awal menegaskan bahwa Belahan Barat adalah zona eksklusif kepentingan Amerika Serikat, menemukan bentuknya yang paling telanjang dalam tindakan Donald Trump terhadap Venezuela dan penangkapan Nicolás Maduro. Dengan merujuk doktrin abad ke-19 itu, Trump pada dasarnya mengatakan bahwa kehadiran dan pengaruh Rusia serta Tiongkok di Caracas bukan sekadar masalah diplomatik, melainkan pelanggaran langsung atas “aturan rumah” Amerika.
Penangkapan Maduro bukan lagi dibingkai sebagai isu hukum atau narkoterorisme semata, melainkan sebagai penegakan klaim geopolitik: siapa pun yang mengizinkan musuh strategis AS berakar di Amerika Latin akan diperlakukan sebagai ancaman, bukan sebagai negara berdaulat. Dalam logika ini, Doktrin Monroe berubah dari pagar pelindung menjadi palu pemukul—pembenaran historis untuk menyingkirkan rezim yang dianggap membangkang, sekaligus pesan keras bahwa Washington siap menggunakan kekuatan langsung untuk memastikan tidak ada kekuatan besar lain yang bermain di “halaman belakangnya.”
Saya rasa, kita semua tahu bahwa ini bukan sekadar soal Venezuela. Bukan pula hanya tentang Maduro yang dijatuhkan. Yang sedang dipertaruhkan adalah aturan main dunia, dan siapa yang berhak menulis ulangnya.
Langkah Trump di Venezuela adalah peristiwa geopolitik yang terlalu besar untuk dibaca sebagai operasi keamanan atau penegakan hukum narkoterorisme. Ini adalah deklarasi kekuasaan. Sebuah pernyataan bahwa Amerika Serikat tidak lagi merasa perlu menyamarkan kepentingannya dengan bahasa demokrasi yang halus. Energi, dominasi, dan preeminensi disebut apa adanya. Tanpa basa-basi. Tanpa rasa malu.
Di sinilah Doktrin Monroe kembali relevan, atau lebih tepatnya, kembali diseret ke panggung sejarah dengan wajah yang jauh lebih kasar. Awalnya, pada 1823, doktrin ini dirumuskan untuk menolak campur tangan Eropa di Belahan Barat. Sebuah pagar geopolitik defensif. Namun sejarah menunjukkan, pagar itu perlahan berubah menjadi tongkat. Lalu cambuk. Kini, di tangan Trump, ia menjelma menjadi palu godam.
Trump menggunakan Doktrin Monroe bukan karena ia romantis pada sejarah Amerika, melainkan karena doktrin ini menyediakan legitimasi naratif yang sempurna untuk satu tujuan: menyingkirkan Rusia dan Tiongkok dari halaman belakang Amerika. Dengan satu kalimat, Washington berkata kepada dunia, “Wilayah ini milik kami. Kalian silakan cari panggung lain.”
Bagi Rusia, dampaknya bersifat strategis sekaligus psikologis. Venezuela selama ini adalah simbol. Sebuah bukti bahwa Moskow masih mampu menancapkan pengaruh di dekat perut Amerika Serikat. Kehadiran kapal perang Rusia di Karibia, latihan militer bersama, investasi Rosneft—semua itu bukan soal keuntungan ekonomi semata, melainkan politik simbolik. Penangkapan Maduro menghancurkan simbol itu dalam satu malam. Pesannya kejam: Rusia tidak mampu melindungi sekutunya sendiri.
Saya melihat ini sebagai pukulan reputasional yang jauh lebih berbahaya daripada kerugian finansial. Investor bisa rugi. Utang bisa dinegosiasi. Tapi hilangnya aura kekuatan sulit dipulihkan. Negara-negara Global South yang selama ini bermain dua kaki—sedikit ke Barat, sedikit ke Timur—akan bertanya dengan nada sinis: jika Maduro saja bisa diambil, apa jaminan bagi kami?
Respons Rusia kemungkinan besar tidak akan frontal di Amerika Latin. Moskow belajar dari sejarah. Mereka tahu Belahan Barat adalah garis merah Amerika. Balasan Rusia, saya kira, akan muncul di tempat lain: Ukraina, Timur Tengah, Afrika, atau melalui eskalasi hibrida—siber, disinformasi, tekanan energi. Venezuela mungkin “hilang”, tetapi rasa dendam geopolitik jarang benar-benar menguap.
Tiongkok berada dalam posisi yang berbeda, dan justru lebih cemas. Beijing tidak kehilangan simbol militer seperti Rusia, tetapi kehilangan sesuatu yang lebih vital: rasa aman struktural. Venezuela adalah bagian dari arsitektur energi Tiongkok. Minyak murah, pinjaman dibayar minyak, dan akses mineral strategis adalah fondasi industrial Beijing. Ketika Trump mengatakan Amerika akan “mengelola” minyak Venezuela, itu terdengar seperti ancaman langsung terhadap ketahanan energi Tiongkok.
Namun ketakutan terbesar Beijing bukan minyak. Bukan coltan. Melainkan preseden. Penangkapan kepala negara berdaulat oleh Amerika Serikat adalah mimpi buruk bagi siapa pun yang hidup dari asumsi stabilitas. Di Beijing, pertanyaan yang beredar bukan “mengapa Maduro”, tetapi “siapa berikutnya”. Venezuela menjadi laboratorium geopolitik. Jika model ini berhasil, mengapa tidak diterapkan di tempat lain?
Saya rasa, di sinilah bayangan Taiwan muncul. Tidak sebagai target langsung, tetapi sebagai kalkulasi ulang. Tindakan Trump mengikis satu pilar lama hubungan internasional: keyakinan bahwa kedaulatan negara adalah benteng terakhir. Ketika benteng itu ditembus, dunia menjadi jauh lebih berisik. Lebih curiga. Lebih mudah panik.
Lalu muncul pertanyaan yang paling sering diajukan, dengan nada setengah berbisik namun penuh kecemasan: apakah ini pertanda Perang Dunia Ketiga? Jawaban jujurnya: tidak dalam bentuk yang kita kenal dari buku sejarah. Tidak dengan parit, tank berhadap-hadapan, dan deklarasi perang resmi. Tetapi kita sedang meluncur ke sesuatu yang mungkin lebih berbahaya: perang tanpa nama, tanpa garis depan yang jelas, dan tanpa jeda emosional.
Langkah Trump di Venezuela mempercepat fragmentasi dunia. Ia mendorong Rusia dan Tiongkok untuk semakin sinis terhadap aturan internasional yang selama ini mereka anggap sudah bias. Jika hukum internasional hanya berlaku untuk yang lemah, maka yang kuat akan memilih jalan sendiri. Ini bukan resep perdamaian. Ini resep perlombaan eskalasi.
Trump mungkin merasa sedang mengembalikan kejayaan Amerika. Dalam jangka pendek, mungkin iya. Energi terkendali, pesaing terdesak, sekutu diam. Tetapi sejarah mengajarkan satu hal pahit: kekuasaan yang terlalu terang sering kali membutakan pemiliknya sendiri. Doktrin Monroe yang dihidupkan kembali bukan sekadar alat, ia adalah cermin. Ia memperlihatkan dunia seperti apa Amerika ingin dilihat—dan lebih penting lagi, seperti apa dunia akan merespons.
Dari Jakarta, dari belahan dunia yang sering hanya menjadi penonton, kita membaca peristiwa ini dengan campuran marah dan getir. Kita tahu pola ini. Dulu bernama kolonialisme. Kini bernama stabilitas. Aktornya berganti, logikanya tetap sama. Dunia tidak sedang menuju kiamat esok hari. Tetapi jarum jam konflik global jelas bergerak lebih cepat. Dan ketika jarum itu bergerak, biasanya tidak pernah peduli siapa yang berdiri terlalu dekat.
Sumber:
- https://apnews.com/article/monroe-doctrine-venezuela-trump-western-hemisphere-maduro-e5581d71ea15f2fb02461e74ac6b08ca
- https://www.telegraph.co.uk/world-news/2026/01/03/venezuela-regime-change-russia-china-impact/
- https://www.thetimes.com/world/latin-america/article/trump-venezuela-oil-russia-china-maduro-d7xn87rrg
