Analisis
Negara Islam Menyerang Islamnya Sendiri di Eropa
Ada momen-momen ketika sebuah dokumen kering, penuh bahasa birokrasi, tiba-tiba terasa seperti tamparan keras di wajah. Begitulah rasa yang muncul ketika sebuah surat resmi Parlemen Eropa—yang biasanya hanya dibaca segelintir orang—beredar luas di media sosial. Bukan karena desainnya, bukan karena bahasanya yang datar, tetapi karena isinya. Di sana, hitam di atas putih, tertulis dugaan bahwa Uni Emirat Arab, sebuah negara yang selama ini rajin memoles citra “Islam moderat”, terlibat dalam operasi disinformasi di Eropa yang justru menyasar kelompok Islam. Ironi ini terlalu telanjang untuk diabaikan.
Surat itu bukan gosip Telegram atau bisik-bisik aktivis. Ia adalah Priority Question resmi Parlemen Eropa yang ditujukan kepada Wakil Presiden Komisi Eropa merangkap Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa. Intinya sederhana tapi mengganggu: laporan investigasi Abu Dhabi Secrets mengungkap dugaan bahwa Alp Services, perusahaan asal Swiss, direkrut oleh otoritas keamanan UEA untuk menjalankan kampanye kotor. Targetnya bukan negara musuh, bukan kelompok ekstrem bersenjata, melainkan organisasi Muslim, akademisi, aktivis, dan warga Muslim Eropa yang dilabeli berbahaya, radikal, atau terhubung dengan jaringan terlarang. Dunia Islam tiba-tiba menjadi penonton dari sebuah drama di mana aktor utamanya adalah sesama “negara Islam”.
Isi surat itu, jika dibaca pelan-pelan, terasa seperti laporan cuaca tentang badai yang sedang berlangsung, tetapi ditulis seolah hanya hujan biasa. Disebutkan bahwa ribuan warga Eropa diduga menjadi sasaran kampanye fitnah, dengan teknik yang rapi: akun palsu, laporan rekayasa, asosiasi simbolik dengan ekstremisme. Bukan teriakan kasar, melainkan bisikan yang konsisten. Bukan propaganda murahan, melainkan smear campaign profesional. Dan yang membuatnya lebih pahit, kampanye ini diduga diarahkan untuk merusak reputasi Islam dan umatnya di ruang publik Eropa—ruang yang selama ini dianggap relatif aman.

Jawaban dari pihak Uni Eropa, melalui Josep Borrell, terasa dingin. Ia mengakui adanya temuan investigasi, mengulang frasa klasik tentang ancaman Foreign Information Manipulation and Interference, lalu berhenti di sana. Tidak ada kecaman eksplisit terhadap UEA. Tidak ada janji sanksi. Tidak ada komitmen penyelidikan mendalam yang terbuka. Bagi pembaca awam, respons ini mungkin terlihat wajar. Bagi yang terbiasa membaca bahasa kekuasaan, ini adalah cara halus mengatakan: “Kami tahu, tapi kami berhitung.”
Di sinilah kegelisahan itu mengeras. Kita semua tahu UEA bukan pemain pinggiran. Ia mitra ekonomi, mitra energi, mitra keamanan. Dan di atas semua itu, ia sering dipresentasikan sebagai wajah Islam yang “aman” bagi Barat. Tetapi apa arti keamanan jika ia dibangun dengan mengorbankan umat Islam lain? Apa arti moderasi jika yang dimoderasi adalah suara kritis, keberagaman tafsir, dan hak warga Muslim untuk hidup tanpa stigma?
Isu UEA di Eropa ini memaksa kita menelan kenyataan pahit: dunia Islam tidak lagi diikat oleh solidaritas moral, melainkan oleh kalkulasi kekuasaan. Identitas Islam, dalam konteks ini, bukan lagi ikatan etis, melainkan label fleksibel yang bisa dipakai atau dibuang sesuai kebutuhan politik. Ketika sebuah negara Islam merasa terancam oleh Islam politik—atau oleh apa pun yang ia definisikan sebagai ancaman—maka umat di luar wilayahnya pun bisa menjadi sasaran, bahkan di benua lain.
Sebagian orang mungkin bertanya, “Bukankah ini hanya soal keamanan?” Pertanyaan itu terdengar rasional, sampai kita menyadari bahwa keamanan yang dimaksud dibangun di atas generalisasi dan stigma. Dalam laporan tersebut, yang diserang bukan individu bersenjata, melainkan reputasi. Bukan tindakan kriminal, melainkan identitas. Islam, dalam narasi ini, diperlakukan seperti paket risiko yang harus dikelola, bukan iman yang harus dihormati. Saya rasa di sinilah garis etis itu dilanggar, dan dilanggar dengan sadar.
Lebih ironis lagi, Eropa—yang sering dikritik dunia Islam karena Islamofobia—justru menjadi panggung di mana negara Islam diduga ikut memperkuat kecurigaan terhadap umat Islam. Seperti tetangga yang ikut menambah gosip tentang keluarganya sendiri, demi terlihat baik di mata tuan rumah. Kita semua tahu rasanya, dan kita juga tahu betapa menjijikkannya sikap semacam itu. Tetapi dalam skala geopolitik, dampaknya jauh lebih luas dan lebih berbahaya.
UEA di Eropa bukan sekadar isu bilateral. Ia adalah preseden. Jika operasi semacam ini bisa dilakukan di jantung demokrasi Eropa, dengan segala mekanisme hukum dan medianya, lalu bagaimana dengan negara-negara lain? Bagaimana dengan wilayah yang sistem medianya lebih rapuh, yang ruang digitalnya penuh buzzer, yang aparat keamanannya punya kuasa luas atas narasi? Pertanyaan ini relevan bagi siapa pun, termasuk Indonesia. Kita mungkin merasa aman karena mayoritas Muslim, tetapi justru mayoritas sering kali paling rentan dipecah-belah.
Bayangkan logika ini diterapkan di konteks lokal. Cukup dengan label, cukup dengan laporan, cukup dengan narasi keamanan, sebuah kelompok Islam bisa dipinggirkan, dicurigai, bahkan dikriminalisasi. Tanpa perlu bukti keras. Tanpa perlu debat terbuka. Jika di Eropa saja hal ini bisa berlangsung dengan rapi, di tempat lain ia bisa lebih kasar, lebih cepat, dan lebih senyap. Ini bukan paranoia; ini pembacaan realistis terhadap cara kerja kekuasaan modern.
Saya rasa yang paling menyedihkan dari isu ini bukan hanya dugaan keterlibatan UEA, melainkan reaksi dunia Islam yang cenderung sunyi. Tidak ada gelombang kecaman. Tidak ada diskusi serius di tingkat antarnegara Muslim. Seolah-olah kita sudah terbiasa dengan gagasan bahwa negara boleh berbuat apa saja, selama dibungkus stabilitas. Seolah-olah ukhuwah hanyalah slogan acara seremonial, bukan prinsip yang hidup.
Kata kunci “UEA di Eropa” berulang kali muncul dalam perbincangan ini, dan ia akan terus muncul karena ia menandai sesuatu yang lebih besar: normalisasi perang informasi antarumat. Hari ini Eropa. Besok mungkin Asia. Lusa mungkin Timur Tengah sendiri. Ketika negara Islam mulai menyerang Islamnya sendiri melalui narasi, bukan senjata, maka kita sedang menyaksikan pergeseran medan konflik. Perang ini tidak terdengar, tetapi efeknya menetap lama di pikiran publik.
Di titik ini, sulit untuk tetap netral. Saya tidak percaya netralitas dalam situasi seperti ini adalah kebijaksanaan; sering kali ia hanya bentuk lain dari ketakutan. Jika dunia Islam tidak berani mengkritik praktik semacam ini, maka jangan heran jika umat merasa semakin jauh dari negara-negara yang mengklaim mewakili mereka. Jurang itu sudah terbuka, dan laporan ini hanya memperlebar celahnya.
Akhirnya, isu UEA di Eropa memaksa kita bercermin. Bukan hanya pada UEA, bukan hanya pada Eropa, tetapi pada diri kita sendiri sebagai umat. Apakah kita akan terus membiarkan Islam direduksi menjadi variabel keamanan? Apakah kita akan terus diam ketika stigma diproduksi secara sistematis? Atau kita akan mulai menuntut akuntabilitas, bahkan dari mereka yang berbagi label “Islam” dengan kita?
Jawaban atas pertanyaan itu akan menentukan masa depan dunia Islam. Bukan di meja diplomasi mewah, melainkan di ruang publik yang hari ini sedang diperebutkan dengan narasi, laporan, dan surat-surat resmi yang tampak biasa, tetapi menyimpan bom moral di dalamnya.
