Analisis
Jejak Jihad di Tubuh Negara Baru Suriah
Ada ironi yang selalu muncul ketika sebuah negara mencoba bangkit dari perang: ia ingin terlihat seperti negara, tetapi ia terpaksa berdiri di atas puing-puing aktor yang membuat perang itu berlangsung. Suriah, setelah tumbangnya rezim sebelumnya, tampaknya sedang menari di atas ironi itu. Seragam-seragam baru dipamerkan, struktur kementerian diumumkan, dan jargon “profesionalisme militer” diperdengarkan seperti iklan yang terlalu sering diputar. Tetapi sebagaimana kita tahu dalam hidup sehari-hari: cat baru tidak mengubah kayu lapuk. Dan laporan Institute for the Study of War (ISW) menunjukkan bahwa di Suriah, militer dibangun bukan dari kayu segar — tetapi dari balok-balok lama yang pernah menyala dalam api jihadisme.
Saya menyebutnya balok lama bukan sebagai metafora sembarangan. Karena grafik ISW menunjukkan — sebuah bagan struktur kepemimpinan Kementerian Pertahanan Suriah — secara telanjang menunjukkan fakta yang selama ini coba dipoles oleh narasi politik: bahwa posisi-posisi puncak kementerian itu kini diisi oleh figur yang berasal dari jaringan Hayat Tahrir al Sham (HTS), al-Fateh al-Mubin, dan kelompok-kelompok bersenjata lain yang selama bertahun-tahun beroperasi sebagai bagian dari ekosistem jihadisme di Suriah Barat Laut.

Perhatikan pola warnanya. Komando tertinggi — dari panglima, kepala staf, hingga menteri pertahanan — ditandai warna yang merujuk pada HTS. Struktur operasi udara negara baru ini juga berada di tangan figur yang latar belakangnya berasal dari jaringan yang sama. Bahkan urusan-urusan teknis seperti logistik, administrasi, dan pendidikan militer diisi oleh para komandan dari kelompok yang dulu menjadi bagian dari koalisi jihad atau faksi bersenjata anti-Kurdi yang beroperasi dalam bayang-bayang ideologis. ISW tidak menulis itu sebagai opini. Mereka menandainya sebagai fakta organisasi.
Inilah titik penting yang sering terlewat: HTS bukan sekadar milisi oposan.
Ia adalah evolusi langsung dari Jabhat al-Nusra — kelompok yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai cabang resmi al-Qaeda di Suriah. Banyak perubahan nama, banyak deklarasi “moderasi”, tetapi bagaimanapun, jaringan yang sekarang duduk di meja kementerian adalah jaringan yang dibentuk melalui struktur komando, ideologi, dan kultur jihadisme. Apakah seseorang berubah? Mungkin. Apakah sebuah organisasi berubah hanya karena melepas nama lama? Kita semua tahu jawabannya.
ISW dalam laporannya tentang struktur tentara baru Suriah menggunakan istilah yang terdengar teknis, agak kaku: reflagging. Tetapi reflagging pada dasarnya adalah proses “tempel bendera baru” di atas struktur lama. Unit tetap sama. Komandan tetap sama. Kultur tempur tetap sama. Yang berubah hanyalah casing. Negara kemudian mengaku memiliki divisi-divisi militer baru — padahal yang mereka lakukan adalah menempelkan label “Divisi X”, “Brigade Y”, “Komando Z” pada kelompok-kelompok yang sebelumnya beroperasi sebagai milisi jihad atau faksi bersenjata sektarian.
Dan grafik tersebut memperlihatkan reflagging itu dalam bentuk yang paling jelas. Kementerian Pertahanan Suriah kini dipenuhi:
- Figur dari jaringan HTS,
- Komandan dari al-Fateh al-Mubin,
- Pejabat dari operasi ruang komando yang dipimpin HTS,
- Elemen SNA anti-Kurdi yang dikategorikan ISW sebagai bagian dari Fajr al-Hurriya,
- hingga perwakilan dari Ahrar al-Sham dan Jaysh al-Nasr.
Apa yang dulu adalah mozaik faksi bersenjata, kini menjadi aparatur negara.
Secara teori, mungkin pemerintah baru ingin menyatukan kekuatan bersenjata demi stabilitas. Tetapi kita juga tahu, stabilitas yang dibangun dengan menggabungkan milisi-milisi yang cenderung ekstrem bukanlah stabilitas. Ia lebih mirip kompromi sementara yang menumpuk bom waktu di bawah struktur negara.
Dalam laporan ISW, beberapa jabatan strategis bahkan berasal dari entitas yang sedang dikenai sanksi internasional. Dan alih-alih menjauhkan diri dari figur yang bermasalah — sesuatu yang dilakukan negara jika ingin membangun kredibilitas — pemerintah Suriah justru memberikan posisi formal kepada mereka. Ini bukan sekadar tanda kompromi politik; ini tanda bahwa negara baru sedang hidup dari oksigen jaringan yang dulu hidup dari perang.
Kita sering mendengar retorika “pragmatisme”. Bahwa negara pascakonflik harus realistis: siapa yang memegang senjata, dialah yang memegang peran. Retorika itu mungkin benar pada minggu pertama setelah perang. Tetapi ketika akhirnya negara berdiri, ketika kementerian dibentuk, ketika seragam dibagikan, warganya berhak bertanya: mengapa mereka yang memimpin negara adalah orang-orang yang sama yang memimpin perang?
Dan grafik ISW menjawab pertanyaan itu tanpa perlu komentar tambahan:
karena negara tidak dibangun dari nol. Negara dibangun dari struktur HTS.
Saya teringat pembicaraan dengan seorang teman beberapa tahun lalu. Ia berkata, “Masalah Suriah bukan hanya perang. Masalah Suriah adalah siapa yang akan memegang kekuasaan setelah perang — dan apakah mereka akan berbeda dari mereka yang membuat negara hancur.” Kini, ketika kita melihat struktur kementerian pertahanan Suriah yang baru, tampaknya jawaban itu sudah di depan mata: tidak berbeda. Hanya memakai seragam yang berbeda.
Apa implikasinya?
Pertama, legitimasi negara dipertanyakan oleh minoritas.
Kurdi melihat ini sebagai ancaman langsung. Druze menganggap ini alarm dini. Komunitas pesisir melihatnya sebagai pengulangan masa lalu dalam bentuk baru. Ketika kementerian pertahanan dipimpin oleh figur yang berasal dari kelompok yang pernah berperang melawan etnis atau komunitas tertentu, bagaimana negara bisa meminta kepercayaan dari mereka? Itu bukan paranoia. Itu insting bertahan hidup.
Kedua, struktur negara menjadi sandera loyalitas pribadi.
ISW menulis bahwa beberapa posisi diberikan kepada komandan asing yang sangat bergantung pada perlindungan politik Sharaa. Ini artinya negara tidak sedang membangun institusi — negara sedang membangun lingkar kekuasaan.
Ketiga, negara membangun masa depan dengan fondasi ideologi yang belum dibongkar.
HTS mungkin mengatakan mereka telah berubah, tetapi perubahan itu tidak pernah diuji oleh mekanisme negara. Tidak ada reformasi ideologi. Tidak ada demobilisasi budaya kekerasan. Tidak ada penyaringan profesional. Yang ada hanyalah rebranding.
Seperti seseorang yang ganti nama di Facebook agar mantan tidak bisa menemukan dirinya. Semua yang lain — foto, komentar lama, lingkar pertemanan — tetap sama.
Pada akhirnya, grafik ISW itu bukan hanya bagan birokrasi.
Ia adalah radiografi dari tubuh negara baru Suriah: tulang-tulangnya berasal dari faksi jihadis, otot-ototnya dari milisi, darahnya dari jaringan yang tumbuh di bawah ideologi yang tidak pernah benar-benar mati. Seragam baru hanya menutupi permukaan. Tapi struktur dalamnya tetap struktur yang sama.
Negara tidak dibangun dari eks jihadis karena pilihan moral.
Negara dibangun dari eks jihadis karena itu satu-satunya struktur yang tersisa — dan itulah akar dari masalah Suriah sekarang. Karena fondasi menentukan masa depan. Dan fondasi negara ini, sebagaimana ISW perlihatkan dengan sangat jujur, adalah fondasi yang dulu hidup dari jihadisme.
Negara seperti itu bisa berdiri. Tapi apakah ia bisa bertahan?
Itu pertanyaan yang jawabannya — seperti debu yang belum mengendap di Idlib — masih mengambang di udara.

Pingback: Setahun Pemerintahan Al-Sharaa: Transisi Suriah Berdarah