Connect with us

Opini

Saat WNI ISIS Pulang Diam-Diam, Negara Kehilangan Kendali

Published

on

Kamp pengungsi Suriah dengan tenda padat dan keluarga terkait ISIS

Malam di kamp-kamp Suriah selalu terasa seperti jeda yang terlalu panjang—sunyi, tapi tidak pernah benar-benar tenang. Di balik tenda-tenda kusam yang berdiri seperti ingatan yang ditolak, ada satu kemungkinan yang terus bergerak pelan: seseorang pulang. Bukan dengan pesawat resmi, bukan dalam daftar negara, tapi lewat jalur yang tak terlihat. Dan di situlah kegelisahan ini bermula. Bukan tentang siapa yang pergi, melainkan tentang siapa yang kembali tanpa kita sadari.

Laporan dari Deutsche Welle tentang keputusan Australia menerima kembali warga yang terkait ISIS seperti membuka cermin yang kurang nyaman bagi banyak negara, termasuk Indonesia. Australia memilih menghadapi risiko di dalam negeri. Mereka sadar, menunda bukan solusi. Sementara itu, kita masih terlihat berdiri di ambang pintu, ragu antara membuka atau menutup, seolah waktu akan menyelesaikan semuanya. Saya rasa, justru di titik keraguan itulah masalah membesar.

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi 💛

Kasus WNI ISIS Suriah tidak lagi sesederhana hitungan angka. Bukan lagi soal ratusan orang yang masih berada di kamp seperti Al-Hol atau Al-Roj. Ini soal pergerakan manusia yang mulai keluar dari sistem pengawasan. Ketika data menyebut ada yang masih tertahan, dan sebagian lain sudah tidak lagi berada di kamp, kita sebenarnya sedang melihat satu pola yang lebih dalam: kontrol negara mulai terlepas, perlahan, tanpa suara.

Di sinilah ironi bekerja dengan cara yang hampir elegan. Pemerintah, di bawah Joko Widodo, pernah menegaskan tidak akan memulangkan eks ISIS demi keamanan nasional. Sebuah keputusan yang secara politik terasa aman. Publik tenang. Narasi tegas. Tapi dunia nyata tidak tunduk pada narasi. Orang bisa bergerak tanpa izin negara. Dan batas negara, kita semua tahu, sering kali lebih kuat di pidato daripada di lapangan.

Masalahnya bukan lagi apakah mereka dipulangkan. Masalahnya adalah kemungkinan mereka pulang sendiri. Tanpa prosedur. Tanpa pengawasan. Tanpa kita tahu. Dan ketika itu terjadi, negara tidak hanya kehilangan kontrol, tapi juga kehilangan kesempatan untuk mengelola risiko sejak awal.

Di titik ini, logika “menolak demi keamanan” mulai terlihat rapuh. Ia seperti pagar tinggi di depan rumah, tapi tanpa fondasi di bawah tanah. Kita menjaga apa yang terlihat, tapi lupa bahwa ancaman bisa datang dari arah yang tidak kita jaga. WNI ISIS Suriah yang kembali secara ilegal justru menjadi variabel yang paling sulit diprediksi—tidak tercatat, tidak terpantau, tapi tetap ada.

Bandingkan dengan pendekatan yang lebih realistis. Australia tidak naif. Mereka tahu risiko tetap ada. Tapi mereka memilih risiko yang bisa diawasi. Mereka menerima, memproses hukum, dan memasukkan individu ke dalam sistem. Ini bukan soal lunak atau keras, tapi soal kendali. Lebih baik menghadapi ancaman yang terlihat daripada membiarkannya berkembang dalam bayangan.

Indonesia, di sisi lain, tampak masih berharap bahwa masalah ini akan berhenti di luar wilayahnya. Seolah-olah dengan tidak memulangkan, maka persoalan selesai. Padahal sejarah kita sendiri sudah menunjukkan sebaliknya. Setelah konflik di Timur Tengah dan Afghanistan, banyak individu kembali tanpa terdeteksi, dan sebagian menjadi bagian dari jaringan yang kemudian melahirkan tragedi seperti Bom Bali 2002. Kita pernah kecolongan. Dan yang lebih mengkhawatirkan, kita tampak tidak belajar cukup dalam.

Saya tidak sedang mengatakan bahwa memulangkan semua adalah solusi. Itu terlalu sederhana. Tapi menolak tanpa strategi juga bukan pilihan yang bijak. Apalagi ketika laporan terbaru menunjukkan bahwa sebagian dari WNI ISIS Suriah sudah keluar dari kamp dan tidak lagi berada dalam sistem yang jelas. Ini bukan lagi potensi. Ini sudah proses yang berjalan, diam-diam, tanpa headline besar.

Di sinilah kita perlu mengubah cara pandang. Ancaman terbesar bukan pada mereka yang kembali melalui jalur resmi, tapi pada mereka yang kembali tanpa terdeteksi. Mereka yang tidak tercatat. Tidak masuk radar. Tapi bisa bergerak, beradaptasi, bahkan mungkin membangun kembali koneksi lama. Ini yang dalam studi keamanan sering disebut sebagai aktor berisiko tinggi dengan visibilitas rendah—sunyi, tapi berbahaya.

Masalah menjadi lebih rumit ketika kita berbicara tentang anak-anak. Banyak dari WNI ISIS Suriah adalah anak-anak yang tidak pernah memilih untuk berada di sana. Mereka lahir di konflik, tumbuh dalam ideologi yang keras, dan kini terjebak dalam ketidakjelasan identitas. Menolak mereka sepenuhnya mungkin terasa mudah secara politik, tapi sulit dipertahankan secara moral. Kita sedang berbicara tentang generasi yang bisa menjadi korban kedua—pertama oleh perang, kedua oleh kebijakan.

Namun menerima mereka juga bukan perkara ringan. Indonesia memang memiliki program deradikalisasi melalui BNPT, tetapi kapasitasnya untuk menangani kompleksitas lintas generasi seperti ini masih menjadi pertanyaan. Ini bukan sekadar soal ideologi, tapi trauma, pendidikan, identitas, dan masa depan.

Di tengah semua ini, diskursus publik kita sering terjebak pada pilihan yang terlalu sederhana: keamanan atau kemanusiaan. Seolah-olah keduanya tidak bisa berjalan bersamaan. Padahal justru di situlah ujian sebenarnya. Negara yang kuat bukan yang menolak risiko sepenuhnya, tapi yang mampu mengelola risiko dengan cerdas.

Saya rasa kita terlalu lama melihat isu WNI ISIS Suriah sebagai sesuatu yang jauh. Sesuatu yang terjadi “di sana”. Padahal perlahan, ia sudah bergerak mendekat, bukan melalui jalur resmi, tapi melalui celah-celah yang kita abaikan. Dan ketika itu terjadi, kita tidak lagi punya kemewahan untuk bersikap reaktif.

Kita harus siap. Atau setidaknya, mulai jujur bahwa kita belum siap.

Karena realitasnya sederhana, meski tidak nyaman: dunia tidak menunggu kita. Ia bergerak dengan atau tanpa keputusan kita. Dan dalam pergerakan itu, orang-orang juga bergerak—melintasi batas, menghindari sistem, kembali tanpa mengetuk pintu.

Di akhir semua ini, ada satu ironi yang sulit diabaikan. Kita begitu khawatir pada kepulangan yang resmi, sehingga tanpa sadar membuka ruang bagi kepulangan yang tidak resmi. Kita menutup pintu, tapi lupa jendela. Kita menolak yang terlihat, tapi membiarkan yang tak terlihat tumbuh.

Dan seperti banyak pelajaran yang sering kita abaikan, ancaman terbesar jarang datang dengan suara keras. Ia datang diam-diam. Lalu menetap.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer