Opini
Jerman Mulai Meragukan Moral Politik Barat
Di banyak sudut kota Eropa hari ini, layar-layar raksasa masih menyala terang memantulkan pidato tentang demokrasi, kemanusiaan, dan tanggung jawab sejarah. Namun di waktu yang sama, jutaan orang menatap layar ponsel mereka dengan perasaan ganjil: mengapa kata-kata tentang moralitas terdengar begitu megah, sementara gambar-gambar dari Gaza justru memperlihatkan dunia yang terasa dingin, selektif, dan nyaris kehilangan nurani? Ada kegelisahan yang tumbuh perlahan di dalam tubuh politik Jerman. Bukan kegelisahan yang meledak keras, melainkan jenis keresahan yang bergerak diam-diam seperti retakan tipis di kaca—nyaris tak terdengar, tetapi cukup untuk membuat seluruh bangunan terlihat rapuh.
Laporan terbaru yang menunjukkan mayoritas warga Jerman menganggap pemerintah mereka tidak memiliki strategi jelas terkait konflik Timur Tengah sebenarnya bukan sekadar hasil survei biasa. Itu alarm. Bahkan mungkin pengakuan kolektif bahwa negara yang selama ini mengklaim diri rasional, stabil, dan matang secara politik ternyata mulai tampak limbung ketika berhadapan dengan perang Gaza dan eskalasi regional. Saya rasa ironi terbesar justru ada di sini: negara yang gemar mengajari dunia soal moralitas politik kini mulai dicurigai rakyatnya sendiri sebagai negara yang kehilangan kompas moral.
Lebih ironis lagi, ketidakpercayaan itu muncul di tengah pidato-pidato megah tentang nilai kemanusiaan universal. Kata-katanya indah. Sangat indah. Tetapi publik Jerman tampaknya mulai lelah mendengar kalimat yang terlalu licin. Mereka melihat kontradiksi yang telanjang. Ketika Rusia menyerang Ukraina, Eropa berbicara keras tentang hukum internasional. Tetapi ketika Gaza luluh lantak, bahasa itu tiba-tiba berubah menjadi diplomasi yang gugup, hati-hati, dan penuh jeda. Seolah penderitaan manusia harus melewati sensor geopolitik terlebih dahulu sebelum boleh disebut tragedi.
Dan publik tidak bodoh. Itu poin pentingnya.
Selama bertahun-tahun, pemerintah Jerman hidup nyaman dengan keyakinan bahwa posisi mereka terhadap Israel tidak boleh diganggu gugat karena sejarah Holocaust. Narasi itu begitu kuat hingga kritik terhadap Israel sering diperlakukan seperti benda terlarang di ruang publik. Tetapi perang Gaza mengubah semuanya. Untuk pertama kalinya, generasi muda Jerman mulai memisahkan antara rasa hormat terhadap korban Holocaust dan kritik terhadap tindakan pemerintah Israel hari ini. Dua hal yang selama ini sengaja dicampuradukkan agar kritik terasa tabu.
Kita semua tahu, di banyak negara Barat, politik sering bekerja seperti iklan sabun. Kemasan moralnya harum, tetapi isinya kadang hanya strategi pasar kekuasaan. Dan sekarang, warga Jerman mulai mencium aroma yang berbeda. Mereka mulai bertanya: kalau hak asasi manusia memang universal, mengapa penerapannya terasa musiman? Mengapa kemarahan politik Eropa begitu cepat saat korbannya orang Eropa, tetapi begitu hati-hati ketika korbannya warga Palestina?
Pertanyaan-pertanyaan itu kini tumbuh bukan hanya di kampus atau media alternatif, tetapi di tengah masyarakat umum. Itu yang membuat situasi ini penting. Ketika publik mulai mempertanyakan fondasi moral negara, maka krisisnya bukan lagi sekadar politik luar negeri. Ini sudah menyentuh identitas nasional.
Laporan kedua tentang mayoritas warga yang memperkirakan koalisi pemerintah Jerman bisa runtuh sebelum 2029 memperlihatkan bahwa persoalannya jauh lebih dalam daripada Gaza semata. Konflik Timur Tengah hanyalah pemantik yang memperlihatkan akumulasi rasa frustrasi publik terhadap elite politik. Inflasi, energi mahal, migrasi, perang Ukraina, dan kini Gaza—semuanya bertumpuk seperti panci tekanan yang lama dibiarkan mendidih.
Dan elite politik tampaknya masih sibuk berbicara dengan bahasa abad lama.
Mereka masih mengira publik bisa diarahkan hanya lewat konferensi pers dan slogan moral. Padahal dunia sudah berubah. Generasi muda hari ini tidak lagi hidup dalam monopoli narasi televisi negara. Mereka melihat perang secara real time di media sosial. Mereka menyaksikan tubuh anak-anak diangkat dari reruntuhan tanpa perlu menunggu editor media menentukan apakah gambar itu layak ditampilkan atau tidak. Akibatnya, jarak emosional antara Eropa dan Timur Tengah runtuh dalam hitungan detik.
Di sinilah pemerintah Jerman mulai terlihat tua. Bukan tua secara usia, tetapi tua secara cara berpikir.
Mereka masih memegang “peta lama” ketika publik sudah hidup di dunia baru. Pemerintah berbicara tentang aliansi NATO, stabilitas kawasan, dan hubungan strategis Barat. Sementara publik melihat penderitaan manusia yang terasa terlalu nyata untuk dibungkus jargon diplomatik. Akibatnya muncul benturan psikologis antara negara dan masyarakat. Yang satu berbicara bahasa geopolitik. Yang lain berbicara bahasa nurani.
Dan biasanya, ketika dua bahasa itu gagal bertemu, demokrasi mulai kehilangan kehangatan moralnya.
Saya rasa ini bukan sekadar perbedaan pendapat biasa. Ini krisis kepercayaan. Publik mulai merasa pemerintah tidak lagi mewakili kegelisahan mereka. Persis seperti penumpang bus yang mulai curiga bahwa sopirnya masih yakin berada di jalur benar, padahal semua orang di dalam kendaraan sudah merasa arahnya salah.
Yang menarik, perubahan opini publik ini justru memperlihatkan sisi rapuh politik Barat yang selama ini tampak sangat kokoh. Kita sering membayangkan Eropa sebagai kawasan stabil dengan institusi kuat dan demokrasi matang. Tetapi perang Gaza memperlihatkan bahwa stabilitas itu ternyata sangat bergantung pada kemampuan negara menjaga legitimasi moral. Ketika legitimasi itu retak, maka retakan politik mulai muncul ke mana-mana.
Partai-partai populis kanan di Jerman tentu membaca situasi ini dengan gembira. Mereka tahu rasa frustrasi publik adalah bahan bakar politik paling murah sekaligus paling efektif. Ketika warga kehilangan kepercayaan terhadap elite lama, maka kelompok anti-establishment akan tampil seperti pedagang yang datang membawa slogan sederhana di tengah kerumitan krisis. Dan sejarah berkali-kali menunjukkan, masyarakat yang lelah sering lebih mudah percaya pada jawaban yang terdengar tegas daripada jawaban yang benar-benar bijaksana.
Ironinya, elite Eropa mungkin merasa sedang menyelamatkan stabilitas global dengan terus menjaga garis politik pro-Israel dan pro-Amerika. Tetapi di dalam negeri mereka sendiri, kebijakan itu justru memperbesar polarisasi sosial. Masyarakat Muslim merasa dimarjinalkan. Generasi muda merasa dimanipulasi narasi moralnya. Sementara kelompok kanan memakai kekacauan itu untuk menebar ketakutan baru.
Lingkaran ini berbahaya. Sangat berbahaya.
Karena ketika publik kehilangan kepercayaan terhadap pemerintah, maka setiap krisis berikutnya akan terasa lebih besar. Bahkan pidato yang paling tulus pun akan terdengar seperti propaganda. Dan di era media sosial, kehilangan kepercayaan publik itu seperti kehilangan rem di jalan menurun.
Yang juga menarik adalah bagaimana perubahan ini memengaruhi posisi Jerman di mata dunia. Selama ini Jerman dikenal sebagai simbol disiplin politik dan kestabilan demokrasi Eropa. Tetapi sekarang dunia melihat sesuatu yang berbeda: sebuah negara yang mulai kebingungan menghadapi perubahan opini publik global. Di satu sisi ingin tetap menjadi penjaga moral Barat, di sisi lain takut kehilangan dukungan domestik akibat standar ganda yang makin sulit disembunyikan.
Dan publik dunia memperhatikan semuanya.
Bagi negara-negara Global South, situasi ini seperti konfirmasi panjang atas kecurigaan lama bahwa hukum internasional memang sering bekerja selektif. Ketika warga Jerman sendiri mulai mempertanyakan kebijakan pemerintahnya terhadap Gaza, maka citra moral Barat makin terkikis. Ini membuka ruang besar bagi kekuatan lain seperti China, Rusia, atau Iran untuk mengatakan: “lihat, bahkan rakyat mereka sendiri mulai tidak percaya.”
Tentu Jerman tidak akan runtuh besok pagi. Demokrasi mereka masih kuat. Institusinya masih bekerja. Tetapi sejarah sering menunjukkan bahwa perubahan besar dimulai dari krisis kepercayaan kecil yang dibiarkan tumbuh terlalu lama. Dan hari ini, retakan itu sudah terlihat.
Saya kira yang paling mengganggu bukanlah fakta bahwa publik Jerman mulai berbeda pendapat dengan pemerintahnya. Itu normal dalam demokrasi. Yang mengganggu adalah kenyataan bahwa pemerintah tampaknya terlambat menyadari dunia sudah berubah. Publik hari ini tidak lagi mudah diyakinkan oleh pidato moral yang bertentangan dengan gambar nyata di layar ponsel mereka.
Dan mungkin di situlah inti tragedinya.
Eropa selama ini membangun identitas politiknya sebagai mercusuar moral dunia. Tetapi kini cahaya itu mulai tampak redup justru dari dalam rumahnya sendiri. Bukan karena musuh datang menyerang, melainkan karena rakyatnya mulai bertanya dengan nada lirih namun tajam: apakah nilai-nilai yang selama ini dibanggakan itu benar-benar berlaku untuk semua manusia, atau hanya untuk manusia tertentu saja?
Pertanyaan itu sederhana. Tetapi kadang pertanyaan sederhana justru paling sulit dijawab oleh kekuasaan.
