Connect with us

Analisis

Latihan Damai di Laut, Dunia Mendidih

Published

on

Ilustrasi editorial ketegangan laut global antara Amerika Serikat dan negara-negara BRICS di tengah latihan militer maritim.

Ada sesuatu yang terasa ganjil ketika dunia berbicara tentang “latihan perdamaian” di tengah laut yang kian sesak oleh kapal perang. Kita diminta percaya bahwa semua ini normal, prosedural, dan direncanakan sejak lama. Namun realitas di lapangan berkata lain. Ketika Afrika Selatan, bersama Rusia, China, dan Iran, menggelar latihan laut bertajuk Will for Peace 2026, dunia tidak sedang dalam keadaan tenang. Dunia sedang tegang, curiga, dan—jujur saja—lelah dengan ironi. Saya rasa kita semua bisa merasakan kegelisahan itu, bahkan sebelum membaca laporan apa pun.

Latihan BRICS ini, mau tidak mau, lahir di tengah rangkaian tindakan Amerika Serikat yang sulit disebut defensif. Penyitaan kapal tanker berbendera Rusia dengan dalih sanksi Venezuela, penangkapan kapal-kapal lain di Karibia, hingga pernyataan agresif terkait Greenland dan manuver geopolitik lainnya, membentuk latar yang tidak netral. Dalam konteks seperti ini, mengatakan bahwa latihan BRICS sama sekali tidak terkait dengan AS terdengar seperti menyangkal hujan sambil berdiri basah kuyup. Secara formal mungkin benar, secara politik hampir mustahil dipercaya.

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi 💛

Di sinilah absurditas realitas global kita bekerja. Pernyataan publik bisa ditata rapi, dikemas diplomatis, dan disiarkan dengan nada menenangkan. Namun militer tidak bekerja dengan bahasa siaran pers. Militer membaca waktu, lokasi, formasi, dan siapa berdiri di samping siapa. Latihan BRICS yang digelar setelah serangkaian aksi keras AS di laut bukanlah kebetulan yang netral; ia adalah sinyal. Dan dalam dunia geopolitik, sinyal jarang dianggap angin lalu.

Latihan BRICS, atau jika ingin lebih jujur disebut latihan laut BRICS Plus, jelas bukan sekadar agenda teknis. Kehadiran destroyer dari China dan Iran, korvet dari Rusia dan Uni Emirat Arab, serta pengamat dari negara lain, menunjukkan bahwa ini bukan latihan kecil untuk mengisi kalender. Ini adalah demonstrasi kapasitas, walau masih terbatas. Bagi Amerika Serikat, yang selama puluhan tahun memandang lautan sebagai ruang pengaruh hampir eksklusif, pemandangan seperti ini tidak mungkin dibaca sebagai hal biasa.

Saya rasa di sinilah letak masalah utamanya. Bukan pada niat yang diucapkan, tetapi pada persepsi yang terbentuk. Dalam kondisi geopolitik saat ini, latihan BRICS hampir pasti dipandang sebagai ancaman oleh AS. Bukan karena BRICS telah menjadi aliansi militer formal, melainkan karena pola yang terlihat: negara-negara yang secara terbuka atau laten berselisih dengan Washington kini berlatih bersama di laut terbuka. Dalam logika keamanan Amerika, itu cukup untuk menyalakan lampu kuning—bahkan merah muda menuju merah.

Menariknya, pihak Afrika Selatan bersikeras bahwa latihan ini tidak ditujukan kepada siapa pun, bahwa AS bukan musuh, dan bahwa fokusnya adalah keamanan maritim. Pernyataan ini sah secara diplomatik, tetapi rapuh secara geopolitik. Dunia hari ini bukan dunia yang menilai sesuatu dari niat baik yang diucapkan, melainkan dari korelasi tindakan. Ketika AS menyita kapal Rusia, Rusia berlatih dengan China dan Iran. Ketika AS memperketat tekanan maritim, negara-negara BRICS menunjukkan bahwa mereka juga punya opsi selain tunduk atau diam.

Latihan BRICS, dalam kacamata ini, lebih menyerupai bahasa balasan yang sopan namun tegas. Tidak ada tembakan, tidak ada deklarasi perang, hanya kapal-kapal yang berlayar bersama. Tetapi pesan yang dibawa jelas: kami ada, kami berkoordinasi, dan kami tidak sendirian. Ini bukan ancaman terbuka, tetapi juga bukan basa-basi. Dan di sinilah eskalasi mulai bekerja, bukan melalui ledakan, melainkan melalui tafsir.

Amerika Serikat sendiri sebenarnya tidak asing dengan logika ini. Selama puluhan tahun, AS menggelar latihan bersama NATO di dekat wilayah Rusia atau China, dengan dalih kesiapsiagaan dan interoperabilitas. Dunia diminta memahami bahwa itu bukan provokasi. Kini, ketika latihan BRICS digelar jauh dari pantai AS, dengan dalih serupa, standar persepsi mendadak berubah. Ironis, tapi begitulah geopolitik bekerja: apa yang sah bagi satu pihak, sering kali dianggap ancaman ketika dilakukan pihak lain.

Saya rasa kita perlu jujur mengakui bahwa latihan BRICS ini memang berisiko memperpanas situasi. Bukan karena niatnya pasti agresif, tetapi karena ia terjadi dalam atmosfer yang sudah jenuh oleh ketegangan. Seperti memasak air yang hampir mendidih; menambahkan api kecil saja sudah cukup membuatnya meluap. Dalam kondisi seperti ini, setiap latihan militer, setiap patroli, setiap penyitaan kapal, menjadi bagian dari rantai eskalasi yang saling menguatkan.

Klaim Amerika Serikat tentang adanya “aliansi militer” antara Rusia, China, Iran, dan Korea Utara mungkin berlebihan jika dipahami sebagai pakta formal. Namun sebagai deskripsi arah, ia tidak sepenuhnya kosong. Yang sedang terbentuk bukan NATO versi timur, melainkan jaringan koordinasi longgar yang lahir dari rasa tertekan bersama. Latihan BRICS menjadi salah satu manifestasi paling kasat mata dari kecenderungan ini, terutama di domain maritim yang selama ini didominasi Barat.

Bagi negara-negara Global South, termasuk Indonesia, situasi ini terasa seperti menonton dua truk besar melaju berlawanan di jalan sempit. Kita tidak duduk di kabin salah satu truk, tetapi kita berdiri di pinggir jalan. Getaran dan debunya tetap terasa. Latihan BRICS dan respons AS bukan sekadar isu jauh di Afrika Selatan atau Karibia; ia menyentuh stabilitas jalur laut global, harga energi, dan ruang manuver negara-negara non-blok.

Latihan BRICS juga memperlihatkan bagaimana konsep non-blok semakin diuji. Afrika Selatan, seperti banyak negara lain, berusaha mengatakan bahwa mereka tidak memihak. Namun dalam dunia yang makin terpolarisasi, tidak memihak sering kali dibaca sebagai memihak secara implisit. Ketika latihan dilakukan bersama Rusia, China, dan Iran, persepsi itu terbentuk dengan sendirinya, terlepas dari niat Pretoria. Dan persepsi, sekali lagi, adalah mata uang utama dalam geopolitik.

Saya rasa yang paling berbahaya dari situasi ini bukanlah latihan itu sendiri, melainkan kemungkinan salah tafsir. Laut adalah ruang yang rawan insiden. Kapal yang terlalu dekat, radar yang terkunci, drone yang jatuh—semua bisa terjadi tanpa rencana. Dalam iklim saling curiga, insiden kecil bisa dibaca sebagai provokasi besar. Latihan BRICS, dalam konteks ini, bukan pemicu tunggal, tetapi bagian dari lanskap yang memudahkan eskalasi.

Pada akhirnya, kita dihadapkan pada kenyataan pahit: dunia sedang bergerak menjauh dari ilusi stabilitas lama, tetapi belum menemukan keseimbangan baru. Latihan BRICS adalah gejala, bukan sebab tunggal. Tindakan keras AS di laut juga demikian. Keduanya saling memberi justifikasi, saling memperkuat narasi masing-masing. Dan di tengah semua itu, publik global diminta percaya bahwa semua masih terkendali.

Saya pribadi sulit sepenuhnya percaya. Bukan karena kiamat pasti datang besok, tetapi karena sejarah mengajarkan bahwa eskalasi jarang dimulai dari niat jahat yang diumumkan. Ia tumbuh dari kebiasaan saling menguji batas, dari latihan yang disebut damai, dari penyitaan yang disebut hukum. Latihan BRICS mungkin tidak dimaksudkan sebagai ancaman, tetapi dalam kondisi saat ini, ia hampir pasti dibaca demikian. Dan selama persepsi itu bertahan, dunia akan terus mendidih, meski permukaannya tampak tenang.

Judul SEO

Latihan BRICS dan Eskalasi Ancaman Global

Meta Description

Analisis opini tajam tentang latihan BRICS, persepsi ancaman AS, dan risiko eskalasi geopolitik global di tengah ketegangan laut internasional.

Tag

Latihan BRICS, geopolitik global, ancaman AS, eskalasi militer, keamanan maritim

Alt Text Gambar

Latihan laut BRICS dengan kapal perang di perairan Afrika Selatan

Caption Gambar

Kapal perang negara BRICS dalam latihan maritim di tengah meningkatnya ketegangan global

 

https://x.com/SprinterPress/status/2010450440341893248

https://www.rt.com/news/630806-south-africa-russia-china/

 

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer