Connect with us

Analisis

AS Perang Melawan Dunia Multipolar

Published

on

Ilustrasi editorial perang melawan dunia multipolar dan tekanan Amerika terhadap China Rusia BRICS

Pagi ini di dunia tidak lagi dibuka oleh kabar rutin. Ia dimulai dengan potongan peristiwa yang terasa seperti adegan film politik berbiaya mahal: seorang kepala negara dibawa pergi, hukum internasional dilipat tanpa rasa sungkan, dan kekuatan global memilih diam sambil mencatat. Tidak ada deklarasi perang, tidak ada rapat darurat yang benar-benar menentukan arah, tetapi ada perubahan yang terasa nyata. Sesuatu sedang dipaksa berjalan mundur, seolah tatanan lama menolak digeser oleh kenyataan baru yang tak bisa lagi disangkal.

Di tengah lanskap itulah dunia multipolar berdiri—bukan sebagai teori akademik atau jargon seminar internasional, melainkan sebagai sumber kegelisahan nyata bagi kekuatan lama. Banyak negara berbicara tentang keseimbangan baru, tentang dunia yang tidak lagi berpusat pada satu kekuasaan. Namun pada saat yang sama, satu aktor justru bergerak dengan arah berlawanan: mengganggu jalur, menekan simpul, dan memberi contoh keras. Apa yang terjadi di Venezuela tidak bisa dibaca sebagai insiden terpisah. Ia adalah bagian dari sebuah pola yang lebih besar, sebuah Perang Melawan Dunia Multipolar yang tidak diumumkan tetapi dijalankan dengan disiplin dingin.

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi đź’›

Venezuela, dalam cerita ini, bukan pusat konflik, melainkan panggung. Ia dipilih bukan karena keunikannya, tetapi karena kegunaannya. Negara ini cukup penting untuk memuat pesan strategis, namun cukup jauh untuk dieksekusi tanpa memicu benturan langsung antar kekuatan besar. Energi, simbol pembangkangan, dan posisi geopolitiknya menjadikannya alat yang efektif. Yang disasar bukan hanya stabilitas internalnya, melainkan makna politik di baliknya. Pesan itu tidak ditujukan ke Caracas, melainkan ke penonton yang jauh lebih luas.

Di sinilah Perang Melawan Dunia Multipolar menampakkan wajah aslinya. Amerika Serikat tidak sedang berusaha menaklukkan wilayah atau mengganti rezim demi idealisme demokrasi. Yang dilakukan adalah demonstrasi batas. Sebuah pengingat bahwa dunia boleh berbicara tentang tatanan baru, tetapi jalur menuju ke sana masih diawasi. Bahwa keluar dari orbit lama bukan sekadar keputusan ekonomi atau diplomatik, melainkan pilihan yang selalu disertai risiko nyata.

Audiens utama dari pesan ini tidak sulit ditebak. China, dengan kekuatan ekonominya dan jaringan perdagangannya yang kian luas, adalah sasaran strategis utama. Rusia, dengan daya tekan militer dan energi daratnya, diposisikan sebagai penantang yang harus terus dilemahkan. BRICS, sebagai simbol legitimasi kolektif dunia non-Barat, diperlakukan bukan sebagai forum netral, melainkan sebagai potensi sistem tandingan. Ketiganya tidak diserang secara langsung, tetapi diuji melalui contoh. Venezuela menjadi salah satu ujian itu.

Pola ini terasa familiar. China ditekan bukan karena agresi militer terbuka, tetapi karena keberhasilannya menawarkan alternatif ekonomi. Rusia ditekan bukan hanya karena konflik regional, tetapi karena penolakannya untuk tunduk pada peran pinggiran. BRICS dicurigai bukan karena apa yang telah mereka lakukan, tetapi karena apa yang mungkin mereka bangun. Dunia multipolar, dalam kacamata Washington, bukan ancaman karena kekuatannya hari ini, melainkan karena kemungkinan keberhasilannya esok hari.

Yang membuat strategi ini efektif adalah kesederhanaannya. Tidak perlu kemenangan spektakuler. Cukup menciptakan keraguan. Cukup menunjukkan bahwa aliansi alternatif tidak selalu datang dengan perlindungan nyata ketika krisis tiba. Tidak ada armada besar yang berlayar untuk Venezuela. Tidak ada intervensi yang benar-benar mengubah keadaan. Diam itu sendiri menjadi pesan. Dalam politik global, diam sering kali berbicara lebih keras daripada pernyataan resmi.

Perang Melawan Dunia Multipolar bekerja dengan logika psikologis. Dalam perdagangan, ketidakpastian adalah racun. Dalam diplomasi, keraguan adalah senjata. Amerika Serikat memahami hal ini karena sistem global yang ada hari ini dibangun bukan hanya dengan kekuatan militer, tetapi dengan kemampuan membaca ketakutan dan harapan negara lain. Dunia tidak perlu diyakinkan bahwa sistem lama sempurna; cukup diyakinkan bahwa keluar darinya berbahaya.

Bagi negara-negara di Asia Tenggara, Afrika, dan Amerika Latin, situasi ini terasa seperti berdiri di persimpangan yang licin. Dunia multipolar menawarkan peluang tawar yang lebih luas, pilihan mitra yang beragam, dan ruang bernapas yang lebih besar. Namun Perang Melawan Dunia Multipolar mengingatkan bahwa setiap langkah menjauh dari pusat lama akan selalu diawasi. Tekanannya bisa berupa sanksi, delegitimasi, atau sekadar dibiarkan jatuh sendirian. Indonesia dan banyak negara lain tidak berada di luar dinamika ini, betapapun kita ingin percaya pada posisi aman yang netral.

Ironinya, semakin keras upaya menahan dunia multipolar, semakin jelas pula bahwa tatanan lama sedang kelelahan. Arus ekonomi, teknologi, dan pengaruh budaya telah menyebar terlalu jauh untuk dikurung kembali. Namun pengakuan atas perubahan itu belum datang. Yang muncul justru fase paling berbahaya dalam sejarah global: masa transisi ketika perubahan tidak bisa dihentikan, tetapi juga belum diterima. Di fase inilah tekanan menjadi pilihan utama.

Pada akhirnya, Perang Melawan Dunia Multipolar bukan soal siapa yang menang hari ini. Ia adalah pertarungan tentang waktu. Tentang siapa yang mampu menunda pergeseran, dan siapa yang harus menanggung biaya penundaan itu. Venezuela hanyalah satu pesan di antara banyak pesan lain yang akan menyusul. Dunia menyaksikannya dengan campuran marah, takut, dan kelelahan, sambil diam-diam menghitung risiko masing-masing.

Mungkin inilah pelajaran paling pahit dari fase global saat ini. Dunia multipolar tidak lahir sebagai janji pembebasan yang rapi, melainkan sebagai proses yang berantakan dan mahal. Perang Melawan Dunia Multipolar tidak akan dikenang sebagai perang besar dengan monumen dan parade, tetapi sebagai rangkaian keputusan dingin yang mengubah arah sejarah perlahan. Dan ketika semuanya akhirnya mengendap, kita mungkin akan sadar bahwa yang paling terluka bukan hanya negara-negara di pinggiran, melainkan keyakinan lama bahwa satu kekuatan bisa menentukan arah dunia sendirian, selamanya.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer