Connect with us

Analisis

Koalisi UEA–Saudi Runtuh, Lalu Apa?

Published

on

Ilustrasi editorial tentang runtuhnya koalisi UEA–Saudi di Yaman akibat konflik kepentingan dan perang proksi.

Ada sesuatu yang terasa ganjil, bahkan absurd, ketika dua negara Teluk yang selama hampir satu dekade tampil sebagai “penjaga stabilitas” Yaman kini justru saling menatap lewat moncong senjata—meski tangan mereka berusaha tetap bersih. Yaman, negeri yang sudah terlalu lama menjadi ladang eksperimen geopolitik, kembali dipaksa menanggung ironi sejarah: mereka yang datang membawa jargon koalisi kini bertarung satu sama lain, seolah lupa siapa musuh awalnya. Saya rasa, di titik inilah kegelisahan itu muncul. Bukan karena konflik baru, tetapi karena kebohongan lama akhirnya runtuh.

Koalisi UEA–Saudi runtuh di Yaman bukan karena satu insiden tunggal, melainkan karena akumulasi kepentingan yang sejak awal disatukan secara artifisial. Laporan tentang dorongan referendum kemerdekaan Yaman Selatan oleh kelompok separatis yang didukung Uni Emirat Arab memperlihatkan sesuatu yang selama ini hanya dibisikkan: visi Abu Dhabi tentang Yaman tidak pernah sepenuhnya sejalan dengan Riyadh. Ketika Southern Transitional Council berbicara tentang “jalan menuju kemerdekaan”, itu bukan sekadar retorika politik lokal. Itu deklarasi kepentingan regional yang menantang desain Saudi tentang Yaman yang bersatu.

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi 💛

Kita semua tahu, sejak awal perang Yaman, koalisi ini dibangun di atas musuh bersama, bukan cita-cita bersama. Houthi dijadikan lem perekat. Iran dijadikan momok. Tapi begitu ancaman utama itu membeku dalam kebuntuan, perbedaan tujuan yang dulu disapu ke bawah karpet kini muncul ke permukaan. Koalisi UEA–Saudi runtuh di Yaman karena tak ada lagi ilusi yang bisa dipelihara. Yang tersisa hanyalah pertanyaan: siapa menguasai apa, dan untuk berapa lama.

Serangan Saudi terhadap milisi yang didukung UEA di Yaman selatan menandai titik balik yang tak bisa diputar ulang. Dalam bahasa yang lebih jujur, itu adalah pengakuan bahwa “sekutu” telah berubah menjadi penghalang. Saudi tidak sedang salah sasaran. Mereka tahu betul siapa yang diserang. Milisi itu bukan aktor liar, bukan kelompok tanpa patron. Ia adalah perpanjangan tangan kebijakan Emirat. Ketika bom jatuh, pesan politiknya jelas: Riyadh menolak peta Yaman versi Abu Dhabi.

Di sinilah ironi itu menjadi telanjang. Koalisi UEA–Saudi runtuh di Yaman justru ketika kedua negara sama-sama mengklaim ingin stabilitas. Tapi stabilitas versi siapa? Bagi Saudi, stabilitas berarti Yaman tetap satu, meski rapuh, agar tidak melahirkan entitas baru yang sulit dikendalikan di perbatasannya. Bagi UEA, stabilitas berarti kontrol atas pelabuhan, jalur laut, dan aktor lokal yang patuh—meski itu berarti memecah negara. Dua definisi ini tidak kompatibel. Seperti dua orang yang sepakat membangun rumah, tapi satu ingin pondasi, yang lain ingin balkon.

Ada semacam satir pahit di sini. Koalisi yang dulu menjual narasi penyelamatan Yaman kini justru berkontribusi pada fragmentasinya. Ketika referendum kemerdekaan Yaman Selatan diangkat sebagai agenda politik, itu seperti menyiram bensin ke api konflik yang belum padam. Saudi bereaksi dengan cara yang mereka kenal: kekuatan militer. Dan di situlah koalisi UEA–Saudi runtuh di Yaman secara fungsional. Tidak ada lagi koordinasi. Tidak ada lagi tujuan bersama. Yang ada hanya benturan kepentingan bersenjata.

Sebagian orang mungkin masih berpegang pada pernyataan resmi bahwa hubungan Riyadh dan Abu Dhabi “baik-baik saja”. Tapi kita hidup di dunia di mana realitas lapangan sering lebih jujur daripada konferensi pers. Fakta bahwa Saudi dan UEA kini saling meniadakan agenda masing-masing di Yaman adalah bukti bahwa koalisi ini telah kolaps di medan tempur. Koalisi UEA–Saudi runtuh di Yaman bukan karena emosi sesaat, melainkan karena struktur aliansinya memang rapuh sejak awal.

Yang membuat situasi ini semakin getir adalah dampaknya bagi Yaman sendiri. Negara itu kembali menjadi papan catur, sementara rakyatnya hanya bidak. Ketika Saudi dan UEA berebut pengaruh, yang hancur bukan hanya bangunan atau wilayah, tetapi juga sisa harapan bahwa konflik ini akan berakhir dengan solusi politik yang utuh. Kita sering bicara tentang “perang proksi” seolah itu istilah teknis yang steril. Padahal, di baliknya ada kehidupan nyata yang terus tergilas.

Ke depan, hubungan UEA–Saudi akan memasuki fase yang dingin dan penuh kehati-hatian. Mereka tidak akan berpisah secara dramatis, karena kepentingan ekonomi dan stabilitas Teluk menuntut kerja sama minimum. Namun, jangan berharap kehangatan lama kembali. Koalisi UEA–Saudi runtuh di Yaman telah meninggalkan luka strategis yang sulit disembuhkan. Kepercayaan adalah barang mahal di politik internasional, dan di Yaman, kepercayaan itu sudah habis terpakai.

Saya rasa, yang akan kita lihat adalah hubungan transaksional: kerja sama di satu meja, saling menekan di meja lain. Yaman hanyalah panggung paling nyata dari pergeseran itu. Di tempat lain, rivalitas ini bisa muncul dalam bentuk yang lebih halus, tapi tetap tajam. Ini bukan akhir hubungan, tetapi akhir dari ilusi kebersamaan. Dan mungkin, di situlah pelajaran paling pahitnya: koalisi yang dibangun tanpa kesepahaman visi hanya menunggu waktu untuk runtuh.

Pada akhirnya, koalisi UEA–Saudi runtuh di Yaman karena ia dibangun bukan di atas empati terhadap Yaman, melainkan ambisi masing-masing. Ketika ambisi itu bertabrakan, yang runtuh bukan hanya aliansi, tetapi juga narasi moral yang selama ini mereka jual ke dunia. Pembaca boleh marah, boleh sinis, atau hanya tersenyum getir. Tapi satu hal jelas: Yaman sekali lagi menjadi saksi bagaimana kekuasaan lebih setia pada kepentingan daripada janji.

Sumber:

1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: Perang Saudi vs UEA di Yaman Tanpa Deklarasi

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer