Connect with us

Opini

Waktu Membongkar Sunyi Politik Somaliland Palestina

Published

on

Ilustrasi editorial peta Somaliland dan Palestina yang saling bertumpuk, dengan benang geopolitik global ditarik tangan tak terlihat, melambangkan politik sunyi dan relokasi tersembunyi.

Ada momen ketika dunia terasa bergerak terlalu cepat, tetapi kebenaran justru berjalan lambat, tertatih, seperti seseorang yang memikul beban berat sambil pura-pura baik-baik saja. Kita hidup di zaman ketika pernyataan pejabat, pengakuan negara, dan manuver diplomatik datang silih berganti seperti notifikasi di ponsel—ramai, gaduh, dan sering kali segera dilupakan. Namun politik global tidak bekerja secepat linimasa media sosial. Ia menyimpan ingatan. Ia menunggu waktu. Dan pada akhirnya, ia memperlihatkan benang merah yang dulu dianggap berlebihan, paranoid, atau sekadar opini.

Saya teringat tulisan saya di Vichara pada Maret 2025. Saat itu, sebagian orang mungkin menganggapnya terlalu jauh melompat, terlalu berani menyimpulkan, atau bahkan terlalu gelap memandang arah dunia. Tapi kritik memang tidak ditulis untuk menyenangkan hari ini. Kritik ditulis untuk mengganggu kenyamanan, untuk menaruh kerikil kecil di sepatu kekuasaan, agar langkahnya terasa ganjil. Kini, sekitar sepuluh bulan kemudian, situasi di Somaliland menghadirkan ironi yang getir: bukan karena kritik itu “terbukti” secara hitam-putih, melainkan karena pola yang dulu samar kini makin terbaca.

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi 💛

Kita semua tahu, apa yang diucapkan seorang presiden atau pejabat tinggi tidak selalu dimaksudkan untuk terjadi hari itu juga. Politik bukan saklar lampu. Ia lebih mirip menanak nasi dengan api kecil—perlahan, senyap, tapi pasti matang. Maka ketika laporan the Cradle mengangkat pengakuan Presiden Somalia tentang relasi Israel–Somaliland dan dugaan barter politik yang melibatkan isu Palestina, kegelisahan lama itu kembali berdenyut. Bukan sebagai kejutan, melainkan sebagai pengingat: sesuatu sedang bergerak sejak lama, dan kita baru sekarang melihat bayangannya di dinding.

Dalam laporan-laporan itu, Somaliland tampil bukan sekadar sebagai wilayah yang mencari pengakuan, tetapi sebagai ruang tawar. Sebuah halaman kosong di meja geopolitik, tempat kepentingan besar bisa ditulis ulang. Pengakuan Israel atas Somaliland bukan peristiwa yang berdiri sendiri; ia hadir dalam lanskap global yang telah lama memperlakukan Palestina sebagai masalah yang harus “dipindahkan”, bukan diselesaikan. Relokasi, pemukiman ulang, atau istilah lain yang terdengar teknokratis—semuanya berangkat dari logika yang sama: menggeser manusia, bukan menghentikan ketidakadilan.

Di sinilah kritik yang saya tulis sebelumnya menemukan resonansinya. Bukan karena semua detailnya kini menjadi fakta resmi, tetapi karena arahnya tidak berubah. Palestina terus diperlakukan sebagai variabel dalam rumus politik global. Ketika Timur Tengah terasa terlalu panas, terlalu sensitif, terlalu penuh sejarah, maka mata kekuasaan menoleh ke tempat lain. Afrika. Tanduk Afrika. Somaliland. Wilayah yang jauh dari sorotan publik Indonesia, tetapi dekat dengan jalur pelayaran strategis dan kepentingan militer global. Kita semua tahu bagaimana cara kerja ini: cari ruang yang sunyi, lalu isi dengan agenda besar.

Kata kunci “Somaliland Palestina” kini tidak lagi terdengar seperti kombinasi yang dipaksakan. Sepuluh bulan lalu, ia mungkin terasa spekulatif. Hari ini, ia terdengar masuk akal—dan justru itu yang mengerikan. Karena ketika sesuatu mulai terdengar masuk akal, biasanya ia sudah lama dipersiapkan. Politik global jarang bergerak secara spontan. Ia diuji melalui wacana, dibocorkan lewat media, disampaikan lewat klaim yang bisa dibantah sewaktu-waktu. Jika reaksi dunia lemah, langkah berikutnya diambil. Jika reaksi keras, narasi diubah. Begitu seterusnya.

Saya rasa di titik ini, kita perlu jujur pada diri sendiri. Dunia internasional tidak lagi terkejut oleh penderitaan Palestina. Ia hanya mencari cara baru untuk mengelolanya. Dalam bahasa halus: stabilisasi kawasan. Dalam praktiknya: memindahkan masalah ke pinggiran. Somaliland, dengan statusnya yang belum diakui luas, menjadi kandidat sempurna. Ia membutuhkan legitimasi. Israel menawarkan pengakuan. Di tengah itu, nasib manusia kembali menjadi kartu tawar. Sinis? Ya. Tapi bukankah sejarah modern penuh dengan transaksi semacam ini?

Di Indonesia, kita akrab dengan istilah “angin politik”. Kita sering mendengar orang berkata, “Tunggu saja, nanti kelihatan arahnya.” Dan benar, arah itu kini mulai terlihat. Tidak lurus, tidak terang, tapi cukup jelas bagi mereka yang mau memperhatikan. Kritik di Vichara bukan ramalan mistis. Ia berangkat dari pembacaan kepentingan, dari pola lama yang terus diulang dengan wajah baru. Dan pola itu kini menemukan konteks barunya di Somaliland.

Yang menarik, sebagian orang masih menuntut satu hal: bukti final, keputusan resmi, dokumen tertandatangani. Seolah tanpa itu, kritik tidak sah. Padahal, jika kita menunggu semua itu, maka fungsi kritik sudah terlambat. Ia berubah menjadi catatan kaki sejarah. Analisis politik tidak bekerja seperti berita kriminal yang menunggu barang bukti. Ia bekerja seperti alarm asap—berbunyi sebelum api membesar. Dan alarm yang berbunyi terlalu dini sering kali dimarahi, bukan disyukuri.

Kata kunci Somaliland Palestina kembali berputar dalam benak saya ketika membaca ulang laporan-laporan terbaru. Ada ironi yang sulit diabaikan. Dunia berbicara tentang solusi dua negara, tentang hukum internasional, tentang kemanusiaan. Namun di saat yang sama, skenario pemindahan manusia tetap dibicarakan, meski dengan bahasa yang lebih rapi. Seperti menata ulang furnitur, padahal yang dipindahkan adalah kehidupan.

Saya tidak menulis ini untuk mengatakan, “Lihat, saya benar.” Itu terlalu dangkal. Saya menulis ini karena benang merah itu kini makin jelas, dan kejelasan itu seharusnya membuat kita gelisah, bukan puas. Jika sepuluh bulan cukup untuk memperlihatkan arah, bagaimana sepuluh tahun ke depan? Apakah Palestina akan terus menjadi isu yang bisa dinegosiasikan ke mana saja, selama ada wilayah yang bersedia dan kekuatan yang berani?

Kita di Indonesia mungkin jauh dari Somaliland, tetapi kita tidak jauh dari logika ini. Kita paham bagaimana wilayah, identitas, dan pengakuan bisa diperdagangkan. Kita tahu rasanya menjadi objek, bukan subjek. Maka membaca situasi Somaliland hari ini seharusnya bukan sekadar empati jauh, tetapi cermin. Cermin tentang bagaimana dunia memperlakukan yang lemah, dan bagaimana kritik sering kali datang lebih cepat daripada pengakuan resmi.

Pada akhirnya, waktu memang membongkar banyak hal. Ia tidak selalu membuktikan, tetapi ia memperjelas. Kritik yang ditulis Maret 2025 kini tidak berdiri sendirian. Ia ditemani oleh laporan, pernyataan, dan kegelisahan global yang semakin sulit disangkal. Somaliland Palestina bukan lagi sekadar frasa. Ia adalah pertanyaan terbuka tentang masa depan keadilan global. Dan pertanyaan itu, sayangnya, belum menemukan jawaban yang menenangkan.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer