Opini
Israel dan Kuburan Sunyi Jurnalisme Dunia
Ada sesuatu yang terasa ganjil, bahkan absurd, ketika angka kematian jurnalis dibaca seperti laporan cuaca: dingin, rutin, dan cepat dilupakan. Tahun 2025 mencatat rekor kelam, dan Palestina—khususnya Gaza—menjadi pusatnya. Dalam laporan yang Anda kirim, disebutkan bahwa 56 jurnalis tewas, dan Israel muncul sebagai aktor paling dominan dalam kematian para pembawa kabar itu. Angka itu bukan sekadar statistik. Ia adalah lonceng kematian bagi nurani dunia, yang sayangnya berdentang di ruang hampa.
Saya rasa kegelisahan itu muncul bukan hanya karena jumlahnya, tetapi karena normalisasi yang menyertainya. Kita semua tahu, setiap kali jurnalis terbunuh di Palestina, narasi yang beredar hampir selalu sama: “tidak sengaja”, “kerusakan kolateral”, atau “risiko zona konflik”. Kalimat-kalimat itu terdengar seperti mantra yang diulang agar dunia tenang, agar rasa bersalah bisa disimpan rapi di laci diplomasi. Padahal, di balik frasa dingin itu, ada tubuh-tubuh yang tak lagi bernapas, kamera yang terdiam, dan catatan yang terhenti di tengah kalimat.
Israel, dalam laporan tersebut, bukan sekadar disebut sebagai pihak yang terlibat, melainkan sebagai aktor paling banyak membunuh jurnalis pada 2025. Ini penting ditegaskan sejak awal. Bukan untuk sensasi, bukan untuk provokasi murahan, tetapi untuk kejujuran intelektual. Jika kita masih ragu menyebut pelaku ketika data sudah bicara, maka barangkali masalahnya bukan pada datanya, melainkan pada keberanian kita membaca realitas.
Di Palestina, jurnalis bukan hanya pencatat peristiwa. Mereka adalah saksi hidup yang berdiri di antara puing-puing, rumah sakit yang runtuh, dan antrean jenazah. Mereka mengenakan rompi “PRESS”, membawa kamera, bukan senjata. Namun, satu per satu mereka gugur. Ironisnya, setiap kematian itu selalu diikuti pernyataan resmi yang terdengar rapi, seolah kematian bisa disapu bersih dengan kata “unintended”. Dalam hukum internasional, ketidaksengajaan yang berulang bukan lagi ketidaksengajaan. Ia berubah menjadi pola. Dan pola adalah bukti.
Kita bisa membayangkannya dengan analogi sederhana. Jika sebuah pabrik terus-menerus mencemari sungai dan setiap kali berkata “kami tidak bermaksud meracuni warga”, pada titik tertentu alasan itu tak lagi bisa diterima. Begitu pula di Gaza. Ketika jurnalis terus terbunuh oleh serangan Israel, dengan pola waktu dan metode yang serupa, maka dalih tak sengaja berubah menjadi ironi pahit. Ironi yang menertawakan akal sehat.
Laporan tersebut menjadi penting karena ia tidak berdiri sendiri. Ia selaras dengan temuan organisasi pers internasional lain yang mencatat bahwa konflik di Palestina adalah yang paling mematikan bagi jurnalis di 2025. Namun, alih-alih menjadi alarm keras, fakta ini justru tenggelam dalam hiruk-pikuk politik global. Seolah-olah dunia lebih nyaman membicarakan stabilitas geopolitik ketimbang nyawa manusia yang hilang satu per satu.
Ada sindiran halus yang tak bisa diabaikan: jurnalisme sering dipuji sebagai pilar demokrasi, tetapi ketika para jurnalis itu mati, pilar tersebut runtuh tanpa upacara. Kita menyukai berita, tapi tidak selalu peduli pada pembawanya. Di Palestina, ironi ini mencapai puncaknya. Jurnalis dibutuhkan untuk melihat, tetapi keberadaan mereka justru dianggap ancaman. Maka, senyaplah kamera. Senyap pula suara.
Israel, sebagai negara dengan militer modern dan sistem intelijen canggih, sulit meyakinkan publik bahwa kematian puluhan jurnalis adalah murni kecelakaan. Kita semua tahu, presisi adalah kata kunci yang sering dibanggakan. Namun, presisi itu seolah menghilang ketika yang menjadi korban adalah jurnalis Palestina. Di titik ini, kritik bukan hanya sah, tetapi perlu. Diam berarti ikut merawat kebohongan.
Konteks lokal membuat keganjilan ini terasa lebih dekat. Bayangkan jika di Indonesia, wartawan yang meliput bencana atau konflik lokal tewas puluhan orang dalam setahun, dan negara hanya berkata “maaf, tidak sengaja”. Kita pasti marah. Kita akan menuntut penyelidikan, pertanggungjawaban, dan keadilan. Mengapa standar itu tiba-tiba berubah ketika yang mati adalah jurnalis Palestina dan pelakunya Israel?
Saya rasa kita perlu jujur mengakui bahwa ada hierarki empati di dunia ini. Nyawa sebagian orang terasa lebih murah. Laporan tentang jurnalis Palestina sering dibaca cepat, lalu ditutup. Tidak ada konsekuensi nyata. Padahal, jurnalisme yang dibungkam hari ini akan melahirkan kebohongan yang lebih besar esok hari. Dan kebohongan, seperti kita tahu, selalu punya umur panjang.
Kata kunci utama dalam diskusi ini adalah jurnalis Palestina. Mereka bukan angka, bukan statistik, melainkan manusia dengan keluarga, mimpi, dan profesi yang menuntut keberanian luar biasa. Jurnalis Palestina bekerja di bawah bayang-bayang maut, bukan karena mereka nekat, tetapi karena dunia perlu tahu apa yang terjadi. Ketika mereka dibunuh, bukan hanya mereka yang mati, tetapi juga hak publik untuk mengetahui kebenaran.
Dalam laporan tersebut, Israel tampil sebagai aktor dominan dalam kematian jurnalis Palestina sepanjang 2025. Fakta ini seharusnya mengguncang. Namun, yang terjadi justru sebaliknya: dunia menguap. Kritik sering dilabeli bias, dan empati dicurigai sebagai agenda politik. Di sinilah satir realitas bekerja dengan kejam: membela jurnalis dianggap politis, sementara membunuh mereka bisa dibungkus bahasa netral.
Transisi dari data ke renungan membawa kita pada satu pertanyaan mendasar: apa arti kebebasan pers jika jurnalis terus dibunuh tanpa konsekuensi? Kita mungkin tersenyum getir membaca pernyataan dukungan internasional, resolusi, atau kecaman yang tak pernah berujung pada perubahan nyata. Semua itu terdengar seperti doa yang dibacakan tanpa iman.
Saya tidak menulis ini untuk bersikap netral. Netralitas dalam situasi seperti ini terasa seperti kemewahan moral. Ketika jurnalis Palestina dibunuh dan Israel terus berlindung di balik dalih yang sama, kritik tajam bukan pilihan, melainkan kewajiban. Kita perlu menyebut pelaku, menyebut pola, dan menolak normalisasi.
Pada akhirnya, laporan yang Anda kirim bukan hanya dokumen, melainkan cermin. Ia memantulkan wajah dunia yang nyaman dengan ironi. Israel, dengan segala kekuatan militernya, tercatat sebagai aktor paling banyak membunuh jurnalis pada 2025. Dan alasan “tidak sengaja” itu, sekali lagi, tak bisa diterima. Jika dunia terus menerima, maka kuburan sunyi jurnalisme akan semakin luas. Dan suatu hari, kita mungkin menyadari bahwa yang mati bukan hanya para jurnalis, tetapi juga kebenaran itu sendiri.

Pingback: Israel dan Penjara Tanpa Tembok Berbasis Teknologi