Opini
Genosida Diperdagangkan, Dunia Membeli Dengan Tenang
Ada sesuatu yang terasa ganjil, nyaris absurd, ketika berita tentang pembantaian massal, reruntuhan kota, dan jerit warga sipil hidup berdampingan dengan kabar kontrak senjata bernilai miliaran dolar dan kesepakatan energi yang dirayakan sebagai “tonggak sejarah”. Dunia seolah sedang menyetel dua kanal sekaligus: satu menayangkan tragedi kemanusiaan di Gaza, kanal lain memutar iklan keberhasilan bisnis dan diplomasi. Keduanya berjalan bersamaan, tanpa rasa bersalah. Di titik inilah kegelisahan itu muncul—bukan hanya tentang Israel dan apa yang dilakukannya, tetapi tentang dunia yang memilih menepuk tangan sambil menutup mata.
Laporan tentang kesepakatan Arrow 3 antara Jerman dan Israel menampar logika moral paling dasar. Lebih dari 6,7 miliar dolar digelontorkan Berlin untuk sistem pertahanan paling mutakhir, tepat ketika Gaza dibombardir dan lebih dari 80.000 nyawa melayang dalam dua tahun agresi. Ini bukan sekadar transaksi militer; ini adalah pernyataan politik. Jerman, dengan seluruh beban sejarahnya, memilih membaca “tanggung jawab moral” sebagai cek kosong bagi negara Israel, bukan sebagai komitmen universal untuk melindungi manusia dari pemusnahan. Ironisnya, slogan “tidak boleh terulang” justru dipakai untuk membenarkan pengulangan tragedi, kali ini dengan korban yang berbeda.
Arrow 3 sendiri sering dipuji sebagai mahakarya teknologi: pencegat eksosferik, hit-to-kill, presisi tinggi, bahkan kemampuan anti-satelit. Semua terdengar canggih, nyaris futuristik. Namun di balik istilah teknis itu, ada satu kenyataan pahit: teknologi ini lahir dari pengalaman perang yang terus-menerus, diuji di atas wilayah dan tubuh yang nyata. Kita semua tahu, “pengalaman tempur” yang dibanggakan industri senjata Israel berarti satu hal—darah manusia Palestina yang dijadikan laboratorium hidup. Jerman membeli teknologi itu, dan sekaligus membeli cerita bahwa semua ini demi “keamanan”.
Dari Eropa kita melompat ke Teluk. Terungkapnya Uni Emirat Arab sebagai pembeli misterius kontrak Elbit Systems senilai 2,3 miliar dolar memperlihatkan wajah normalisasi yang lebih telanjang. Bukan lagi sekadar foto jabat tangan atau pembukaan jalur penerbangan, melainkan integrasi militer dan industri pertahanan. Kerahasiaan kontrak, larangan publikasi, dan sikap bungkam perusahaan bukan kebetulan. Semua pihak sadar, kerja sama ini sulit dipertahankan di hadapan publik Arab yang setiap hari melihat anak-anak Gaza terkubur di bawah puing.
Namun elite tetap melaju. Pabrik pengawasan Israel berdiri di Abu Dhabi, proyek “Peace Railway” dipromosikan sebagai simbol masa depan, sementara kata “damai” kehilangan maknanya. Damai bagi siapa? Bagi logistik, bagi perdagangan, bagi arus barang dari India ke Eropa. Bukan bagi warga Gaza yang bahkan tidak punya rel kereta untuk melarikan diri dari bom. Normalisasi ini bukan tentang rekonsiliasi, melainkan tentang efisiensi. Palestina hanyalah gangguan yang harus dikelola, bukan luka yang harus disembuhkan.
Lalu ada Mesir, tetangga Gaza, mediator gencatan senjata, sekaligus mitra energi Israel. Kesepakatan gas senilai 34,7 miliar dolar—yang oleh Netanyahu disebut terbesar dalam sejarah Israel—menunjukkan bagaimana ketergantungan struktural bekerja. Israel memperoleh miliaran dolar pemasukan negara, yang secara terbuka diklaim akan memperkuat keamanan dan masa depan generasi mereka. Mesir memperoleh pasokan energi, tetapi kehilangan sebagian daya tawarnya. Di sini, diplomasi berubah menjadi barter sunyi: stabilitas ditukar dengan ketergantungan, moral ditunda demi kilowatt dan meter kubik gas.
Kita semua tahu, di Indonesia, bagaimana rasanya ketika harga energi naik dan pemerintah bicara soal “kepentingan nasional”. Kita diajari untuk memahami, bersabar, dan menerima. Sekarang bayangkan skala regionalnya. Gaza dibakar, tetapi gas tetap mengalir. Seperti rumah tetangga yang terbakar hebat, sementara kita sibuk memperbaiki instalasi listrik agar AC tetap menyala. Ada rasa bersalah samar, tapi tidak cukup kuat untuk mematikan saklar.
Yang lebih mengganggu adalah peran Amerika Serikat. Tekanan Washington agar kesepakatan gas ini disetujui menyingkap strategi lama: energi sebagai alat geopolitik. Dengan mengikat Mesir dan Israel dalam kepentingan ekonomi jangka panjang, AS berharap menciptakan stabilitas versi mereka. Stabilitas yang rapi di atas kertas, tetapi rapuh secara moral. Di sini, genosida di Gaza menjadi latar belakang yang tidak nyaman, seperti noda di karpet mahal—terlihat, tetapi dibiarkan.
Jika kita rangkai semuanya—Jerman dengan Arrow 3, UEA dengan Elbit, Mesir dengan gas—muncullah satu pola yang jelas. Di tengah tuduhan genosida Gaza, Israel tidak diisolasi. Sebaliknya, ia diintegrasikan lebih dalam ke sistem global. Industri senjatanya mencetak rekor, sektor energinya merayakan kontrak terbesar, dan legitimasi politiknya diperkuat oleh mitra-mitra strategis. Dunia tidak menghentikan Israel; dunia berinvestasi padanya.
Di sinilah ironi paling pahit. Negara-negara yang gemar berkhotbah tentang rules-based order, hukum internasional, dan hak asasi manusia, justru menjadi pelanggan setia. Mereka berbicara tentang etika di podium, lalu menandatangani kontrak di ruang tertutup. Seperti pedagang yang menjual payung sambil berharap hujan tak pernah berhenti. Semakin parah krisis, semakin laku dagangannya.
Saya rasa, kita perlu jujur menyebut ini apa adanya: genosida Gaza bukan kegagalan sistem internasional, melainkan produk sampingannya. Sistem ini bekerja dengan baik untuk mereka yang berada di puncak—mengalirkan modal, teknologi, dan pengaruh—sementara korban menjadi statistik yang bisa dinegosiasikan. Selama Israel tetap berguna secara strategis dan ekonomis, tuduhan genosida akan diperlakukan sebagai gangguan reputasi, bukan alarm darurat.
Bagi pembaca di negeri ini, yang mungkin merasa jauh dari Berlin, Abu Dhabi, atau Tel Aviv, relevansinya tetap dekat. Kita hidup di dunia yang sama, di mana prinsip sering kalah oleh kepentingan. Kita menyaksikan bagaimana nyawa bisa diperingkat, bagaimana penderitaan bisa diukur dengan nilai kontrak. Dan di situlah pilihan moral kita diuji: apakah kita ikut terbiasa, ikut diam, atau setidaknya menolak untuk menganggap ini normal.
Pada akhirnya, tulisan ini bukan sekadar tentang Israel atau genosida Gaza. Ini tentang dunia yang memilih membeli ketenangan semu dengan harga kemanusiaan. Tentang bagaimana pembantaian bisa berjalan seiring dengan pesta bisnis. Dan tentang kita, yang masih punya pilihan untuk merasa tidak nyaman, untuk marah, untuk tersenyum getir sambil berkata: ada yang sangat salah di sini. Jika kita kehilangan rasa itu, mungkin bukan hanya Gaza yang hancur—melainkan juga nurani kita sendiri.
Sumber:
