Opini
Ketika Tentara Inggris Terlibat Genosida di Gaza
Ada saat-saat dalam sejarah ketika absurditas begitu terang hingga terasa seperti sinar lampu yang disorot tepat ke mata: membutakan, memaksa kita berkedip, tetapi menyingkap sesuatu yang tidak bisa lagi diabaikan. Saya membayangkan suasana itu muncul ketika pemerintah Inggris, dengan nada datar seolah mengumumkan jadwal bus kota, mengakui bahwa tentara mereka mengikuti pelatihan di Israel setelah operasi militer yang telah menewaskan puluhan ribu warga Palestina dan menjerumuskan Gaza ke dalam kedalaman tragedi yang bahkan lembaga internasional menyebutnya sebagai “kasus genosida yang plausible”. Kita semua tahu gaya bicara pejabat: kalem, terkendali, dan penuh jargon. Tapi seperti kata pepatah lama, bagaimana pun Anda membungkusnya, kebenaran tetap menguar: keterlibatan tentara Inggris dalam genosida di Gaza bukan sekadar opini liar, tetapi konsekuensi logis dari tindakan yang sudah mereka akui sendiri. Dan inilah pangkal kegelisahan saya.
Saya rasa sebagian orang di negeri ini masih ingin percaya bahwa institusi-institusi Barat memiliki kompas moral yang kokoh. Bahwa hukum internasional lebih dari sekadar ornamen diplomasi. Bahwa ketika dunia melihat kehancuran besar—seratus ribu orang terbunuh menurut studi Max Planck Institute, kota yang berubah jadi debu, dan pengadilan internasional mengeluarkan perintah penangkapan bagi para pemimpin Israel—paling tidak negara sekutu seperti Inggris akan mengambil langkah mundur, menarik napas, dan berkata: sudah cukup. Tapi kenyataannya? Langkah mereka justru maju. Pelan, rapi, dan penuh formalitas, namun tetap maju. Menurut pengakuan Al Carns, “fewer than five” tentara Inggris mengikuti program pendidikan militer di Israel. Frasa itu terdengar seperti trik retorika kecil: angka diminimalkan, konteks diredam, seolah lima orang tidak mungkin mengandung makna politik. Padahal satu saja cukup untuk membuat moralitas negara dipertanyakan.
Ironinya, frasa “fewer than five” justru menegaskan bahwa pemerintah tahu isu ini sensitif. Frasa seperti itu biasanya dipakai untuk menghindari transparansi, bukan untuk memperjelas. Dan jujur saja, kita semua tahu bahwa dalam diplomasi Barat, sensitivitas biasanya muncul hanya ketika sebuah tindakan menyentuh wilayah yang tidak nyaman: wilayah yang beraroma pelanggaran hukum, hipokrisi, dan risiko keterlibatan dalam kejahatan internasional. Maka ketika seorang jenderal Inggris, Charlie Herbert, menyebut hubungan ini “absolutely extraordinary”, saya percaya ia sudah menggunakan kata paling sopan dari kamus militernya. Karena maknanya jelas: ini tidak normal. Ini tidak pantas. Dan dalam bahasa kita sehari-hari, ini adalah keterlibatan tentara Inggris dalam genosida di Gaza, titik.
Hal yang membuat situasi ini semakin absurd adalah bahwa Inggris bukan sekadar mempertahankan hubungan militer; mereka memperluasnya. Pesawat pengintai RAF terbang di atas Gaza sejak awal perang, membantu mengumpulkan data dalam operasi yang penuh tuduhan kejahatan perang. Industri pertahanan Inggris tetap mengekspor komponen vital bagi jet tempur F-35, jet yang menjatuhkan bom—yang kemudian menghancurkan rumah—yang kemudian menghancurkan tubuh manusia ke keadaan tak dapat dikenali. Dan di tengah semua itu, Elbit Systems UK hampir mendapatkan kontrak dua miliar poundsterling untuk melatih enam puluh ribu tentara Inggris per tahun. Saya tidak tahu apa istilah yang tepat untuk menjelaskan semua ini dalam bahasa yang sopan. Namun dalam bahasa sehari-hari masyarakat kita, ini sederhananya: ikut serta. Terlibat. Mengalirkan bahan bakar ke mesin yang sedang bekerja menghancurkan sebuah populasi.
Seseorang mungkin berkata bahwa kerja sama militer bukan bukti keterlibatan langsung. Bahwa hukum internasional memiliki standar tinggi sebelum kata “complicity” benar-benar bisa diterapkan. Tapi bukankah kita sudah terlalu sering melihat bagaimana standar itu tiba-tiba menjadi sangat fleksibel ketika negara kuat yang melanggar? Bukankah kita sudah terlalu sering mendengar kalimat seperti “review sedang berlangsung”, “penilaian risiko terus diperbarui”, “hubungan strategis tetap penting”, dan segala bentuk bahasa administratif yang dipakai untuk membungkam kenyataan? Padahal ICJ sudah memperingatkan sejak awal bahwa risiko genosida itu nyata. ICC bahkan telah mengeluarkan surat perintah penangkapan bagi Netanyahu dan Gallant. Rasanya mustahil untuk tidak melihat bahwa Inggris memilih tetap berada di samping Israel, bukan di sisi hukum internasional.
Di Indonesia, kita sering mengeluhkan bagaimana kekuasaan bekerja secara halus. Tapi melihat ini, saya merasa dunia Barat pun ternyata piawai memainkan seni eufemisme politik. Yang membedakan hanyalah aksen. Saat mereka mengatakan “educational staff course”, kita bisa membacanya sebagai “pelatihan militer”. Saat mereka berkata “strategic partnership”, kita bisa menerjemahkannya menjadi “mengokohkan hubungan meski ada dugaan genosida”. Dan ketika mereka berkata “extraordinary”, kita tahu yang dimaksud sebenarnya: keterlibatan yang memalukan.
Saya membayangkan bagaimana artikel ini dibaca oleh mereka yang percaya bahwa Inggris—negara yang sering mempromosikan demokrasi dan HAM—akan bersikap berbeda. Ada kegetiran di sana, tapi juga semacam pembebasan. Sebab mengakui kenyataan, betapa pun pahit, adalah langkah pertama untuk memutus siklus kebohongan. Dan kejujuran itu penting, terutama ketika berbicara tentang genosida di Gaza. Kata “genosida” sendiri telah muncul enam, tujuh, delapan kali dalam dokumen resmi, laporan lembaga, hingga pernyataan pengadilan internasional. Dunia sudah menggunakannya. Kenapa kita harus ragu menyebutnya?
Saya tahu bahwa sebagian orang menganggap istilah keterlibatan tentara Inggris terlalu keras. Tapi saya rasa yang keras bukanlah istilah itu—melainkan kenyataan di lapangan. Bombardir yang menewaskan puluhan ribu orang. Kota yang digiling habis. Anak-anak yang hidup dalam trauma permanen. Fakta bahwa semua itu terjadi sementara negara-negara besar tetap menyalurkan dukungan militer, intelijen, teknologi, dan peralatan. Dan kita diminta percaya bahwa semua keterlibatan itu hanyalah kebetulan? Bahwa itu bukan dukungan struktural terhadap operasi Israel? Tentu saja tidak.
Di akhir tulisan ini, saya hanya ingin mengatakan satu hal: bahasa harus digunakan untuk menyingkap, bukan menutupi. Dan ketika laporan resmi sendiri menunjukkan bahwa Inggris mengirim personel untuk dilatih di Israel selama genosida sedang berlangsung, kita tidak perlu lagi bermain metafora. Kebenaran itu sederhana, gamblang, dan mungkin menyakitkan bagi sebagian orang: keterlibatan tentara Inggris dalam genosida di Gaza bukan lagi tuduhan, melainkan kesimpulan dari rangkaian tindakan yang sudah ditelanjangi fakta.
Dan mungkin, justru karena itulah dunia harus terus bersuara—agar sejarah tidak kembali mengulang momen ketika negara kuat berpura-pura buta, sementara tragedi terbesar abad ini berlangsung di depan mata.
