Opini
Krisis Otoritas NU dan Retaknya Kepemimpinan
Saya selalu merasa ada ironi tersendiri ketika melihat konflik di tubuh Nahdlatul Ulama berhamburan ke ruang publik—bukan ironi yang lembut, tapi ironi yang mengiris tipis dan meninggalkan jejak perih. Kita berbicara tentang NU, rumah besar para kiai, tempat adab pernah menjadi mata air keteduhan. Tetapi hari ini, kita dipaksa menyaksikan bagaimana organisasi yang dibangun di atas khidmah justru berguncang oleh perdebatan yang makin keras, makin prosedural, dan makin jauh dari wajah lembut yang dulu saya kenal lewat cerita masa kecil. Ada absurditas yang tak bisa disembunyikan lagi: NU sedang berkonflik seperti layaknya institusi politik modern, tetapi para penghuninya tetap berharap masalah selesai dengan cara-cara pesantren. Dua logika ini bertabrakan, dan kita semua tahu tabrakan seperti ini jarang berakhir tenang.
Sejak kecil, sekitar era 80-an, saya mendengar cerita ayah tentang kiai sepuh di kampung. Baginya, tidak ada persoalan yang tidak bisa dilerai seorang kiai. Orang ribut soal batas tanah? Datang ke kiai. Pengurus masjid berselisih? Datang ke kiai. Anak muda berkelahi? Datang ke kiai. Semua patuh. Semua tunduk. Semua selesai. Di mata masyarakat, kiai bukan hanya guru spiritual; dia adalah wasit pamungkas—pengadil yang tak perlu palu, hakim yang tak perlu pasal. Kewibawaannya bukan dari jabatan struktural, tapi dari ketenangan yang memancar seperti mata air. Dan saya kira, NU bertahan selama puluhan tahun bukan karena struktur organisasinya kuat, melainkan karena poros moral itu berdiri kokoh di tengah-tengahnya.
Tapi kini, ketika saya membaca pernyataan-pernyataan yang berseliweran tentang konflik PBNU, saya melihat sesuatu yang berubah. Sangat berubah. Kewibawaan struktural kini makin lantang, sementara kewibawaan karismatik para kiai tampak tercerai-berai. Gus Yahya sering mengutip AD/ART, menyebut prosedur, menegaskan konstitusionalitas. Itu bukan hal buruk—organisasi modern memang butuh fondasi legal. Tetapi di sisi lain, para kiai yang mengkritik tidak berbicara dengan bahasa yang sama. Mereka bicara tentang adab, tentang tradisi, tentang ruh pesantren. Dua bahasa ini tidak bertemu di satu meja. NU struktural berhadap-hadapan dengan NU tradisional. Keyakinan legal-rasional beradu dengan keyakinan karismatik. Dan tidak ada jembatan yang benar-benar dihormati bersama.
Saya rasa di sinilah akar keretakan itu: NU kehilangan wasitnya. Kehilangan kiai pamungkas yang dulu mampu meredam angin sebelum berubah menjadi badai. Jika dulu satu nama saja cukup untuk menghentikan silang pendapat, kini tidak ada lagi figur yang suaranya mampu mengikat dua kubu yang sedang saling mencurigai. Para kiai sepuh masih ada, tentu saja, tetapi karisma mereka tak lagi tunggal dalam persepsi publik. Ada yang dianggap dekat dengan satu kubu. Ada yang dianggap tidak mengikuti dinamika dengan cukup intens. Ada yang muncul setelah konflik terlanjur panas. Akibatnya, suara mereka tidak lagi otomatis menjadi pemutus. NU kini bergerak seperti kapal besar tanpa kompas moral yang disepakati; semua percaya diri memegang peta, tetapi tidak ada yang benar-benar dipercaya menjadi nakhoda nilai.
Inilah mengapa konflik yang tampak sederhana menjadi begitu keras. Kubu struktural merasa sedang menjaga marwah organisasi. Kubu tradisional merasa sedang menyelamatkan ruh pesantren. Dan yang paling mengkhawatirkan, keduanya merasa paling benar. Ketika dua kepercayaan absolut berhadapan, kompromi menjadi hal paling sulit dilakukan. Kita menyaksikan bagaimana masing-masing kubu ngotot bukan karena rakus jabatan, tetapi karena merasa ada masalah besar di balik layar. Yang satu yakin persoalan internal harus diberesi dan tidak boleh menyeret NU ke arah yang keliru. Yang satu lagi khawatir bahwa membuka persoalan itu justru merusak kehormatan NU. Dua ketakutan. Dua kepentingan moral. Dua logika penyelamatan yang saling menafikan.
Di titik ini, saya kira pertanyaan masyarakat mulai mengeras: apakah NU akan pecah? Apakah ini awal dari dua organisasi? Saya masih percaya NU tidak akan pecah struktural. Tradisi pesantren terlalu kuat untuk dirobek begitu saja. Tetapi apakah NU bisa mengalami perpecahan kultural? Oh, sangat mungkin. Sebenarnya itu sudah mulai tampak. Ada NU struktural, NU kultural, NU profesional, NU digital, NU tradisionalis. Semua berjalan dalam orbitnya sendiri, dan masing-masing merasa mewakili semangat asli Nahdlatul Ulama. Kita tak perlu menunggu gedung di PBNU benar-benar retak; retakan identitas jauh lebih berbahaya, karena ia tidak terlihat, tapi menyebar diam-diam seperti akar yang menjalar di bawah tanah.
Krisis ini—kalau kita mau jujur—bukan hanya soal konflik elite. Ini tentang transformasi otoritas dalam NU. Sosiolog mungkin akan menyebutnya “pergeseran dari legitimasi karismatik ke legitimasi legal-rasional.” Saya menyebutnya sebagai kehilangan pusat moral. Dulu, otoritas NU bersifat tunggal-sumber: seorang kiai sepuh sebagai poros. Kini otoritas NU bersifat multi-sumber: legalitas struktural satu sisi, moralitas para kiai sisi lain, serta opini publik santri muda yang membentuk NU digital yang tak kalah vokal. Masing-masing sumber merasa sah, dan ketika otoritas menjadi banyak, konflik menjadi kenyataan yang sulit dihindari. NU tidak hanya berdebat tentang keputusan; mereka berdebat tentang siapa yang paling sah membuat keputusan.
Masyarakat di bawah, para santri di pesantren kecil, kini kebingungan. Mereka tumbuh dengan ajaran sederhana bahwa santri tidak berebut pangkat, tidak ngotot mempertahankan kehormatan diri, tidak membuka aib orang lain. Tetapi yang mereka lihat hari ini justru sebaliknya: tokoh-tokoh yang mereka hormati saling silang pernyataan, saling menafsirkan legitimasi, saling mempertanyakan moral kubu lain. Mereka bertanya-tanya, apa arti jabatan dunia bagi seorang santri? Apa yang lebih besar dari menyelamatkan umat agar tidak pecah? Sejak kapan NU menjadi arena argumentasi terbuka di media nasional?
Tetapi tentu saja, dunia berubah. NU hari ini bukan NU 1926, bukan pula NU era ayah saya di tahun 80-an ketika keputusan moral terasa seperti turunnya air dari sumber mata air yang jernih. NU kini mengelola jaringan pendidikan raksasa, dana besar, relasi internasional, kedekatan dengan negara, dan kompleksitas administratif. Semua ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan karisma. Struktur diperlukan. Tetapi struktur tanpa karisma menghasilkan kekakuan. Karisma tanpa struktur menghasilkan kekacauan. Dan NU hari ini, sayangnya, berdiri tepat di tengah-tengah dua ekstrem itu, tanpa panduan tunggal yang mampu membuatnya bergerak selaras.
Konflik PBNU hari ini hanyalah gejala dari retaknya poros otoritas itu. Jika tidak ditemukan kembali titik temu—bukan titik kompromi, tetapi titik nilai—NU akan terus bergejolak. Mungkin tidak pecah, mungkin tidak runtuh, tetapi pasti terus berguncang. Dan kita tahu, guncangan moral jauh lebih berbahaya daripada guncangan struktural. Struktur bisa diperbaiki; kepercayaan yang retak sulit dipulihkan.
Saya kira NU membutuhkan satu hal yang dulu dimiliki tetapi kini hilang: pusat moral yang dihormati bersama. Tidak perlu satu figur. Bisa saja berbentuk forum kiai pamungkas, sebuah majelis independen yang tidak dikuasai struktur tetapi dihormati struktur. NU butuh titik di mana adab lebih tinggi dari argumentasi, di mana keheningan para ulama lebih utuh daripada suara bising media. NU terlalu besar untuk dijalankan hanya dengan logika menang-kalah. NU adalah rumah besar, bukan arena perebutan. Dan rumah besar hanya bisa kokoh bila pilar moralnya kembali ditegakkan.
Kalau tidak, konflik ini bukan yang terakhir. Ia hanya pembuka. Pembuka dari bab panjang tentang organisasi yang bergerak tanpa poros. Organisasi yang melaju di rel yang sama tetapi dengan kereta yang berbeda arah. Organisasi yang dulu mempersatukan umat, tetapi kini harus berjuang agar tidak terbelah oleh tafsir tentang dirinya sendiri.
Dan di tengah semua itu, saya selalu teringat satu hal kecil dari cerita ayah: dulu, semua persoalan selesai hanya dengan satu kalimat seorang kiai. Kini, seribu pernyataan pun tidak cukup meredakan satu konflik. Betapa jauhnya kita melangkah dari rumah asal yang sederhana itu.
Judul SEO: Krisis Otoritas NU dan Retaknya Kepemimpinan
Meta Description: Analisis kritis konflik NU dan retaknya otoritas kiai serta struktur organisasi dalam krisis kepemimpinan.
Tag: konflik NU, PBNU, otoritas kiai, NU struktural, NU tradisional
Alt Text: papan nama PBNU di pintu dengan retakan halus
Caption: Ilustrasi papan nama PBNU yang retak sebagai simbol konflik internal organisasi
Sumber:
- https://www.detik.com/jatim/berita/d-8229537/pbnu-gus-yahya-tidak-lagi-berstatus-sebagai-ketua-umum
- https://www.cnnindonesia.com/nasional/20251126141443-20-1299647/beredar-surat-soal-gus-yahya-bukan-lagi-ketum-pbnu
- https://khazanah.republika.co.id/berita/t6bx4t484/katib-pbnu-sebut-gus-yahya-sudah-dicopot-dari-ketum-sarankan-diam-part2
- https://www.liputan6.com/news/read/6221713/gus-yahya-kumpulkan-pengurus-wilayah-di-markas-pbnu-usai-dicopot-banser-siaga-di-luar-gedung?page=3
- https://nasional.kompas.com/read/2025/11/26/15564101/miftachul-akhyar-pimpin-pbnu-usai-gus-yahya-tak-jabat-ketum?page=2
