Connect with us

Opini

Mandat PBB yang Diam-Diam Menyelamatkan Israel

Published

on

“Ilustrasi editorial yang menampilkan sosok-sosok diplomat besar tanpa wajah duduk melingkar di meja PBB, tangan-tangan mereka menekan sebuah kota kecil yang mewakili Gaza. Di bawah meja, bayangan panjang berbentuk bendera Israel tampak mengikat kaki-kaki meja, sementara di kejauhan terlihat siluet para pejuang Palestina yang terdesak oleh cahaya sorotan internasional.”

Langit Gaza mungkin tampak tenang dalam foto-foto yang dibagikan kantor berita internasional, tetapi semua orang tahu, ketenangan itu palsu. Seperti jeda napas sebelum seseorang pingsan. Ada sesuatu yang janggal, sesuatu yang terasa getir ketika Dewan Keamanan PBB—lembaga yang seharusnya menjadi penengah dunia—mengangkat palu dan menyetujui rancangan resolusi Amerika Serikat tentang Gaza. Dua belas bulan tragedi, dua tahun penderitaan, puluhan ribu kematian, dan justru di titik inilah PBB memutuskan untuk menginstal sebuah “Board of Peace” yang dipromotori Jared Kushner dan Tony Blair. Nama yang lebih cocok menghiasi brosur konferensi investasi, bukan kertas mandat pemerintahan sebuah wilayah yang baru saja digerus perang. Dan saya rasa siapa pun yang masih memiliki sedikit intuisi politik bisa merasakan absurditas itu menggelayut di udara.

Kita semua tahu, tidak ada keputusan internasional yang lahir di ruang steril. Ia selalu membawa bau wacana, kepentingan, dan tekanan. Dalam kasus Gaza, bau itu menusuk, pekat dengan aroma kepanikan Israel yang mencari jalan keluar terhormat setelah dua tahun perang yang tak pernah benar-benar berhasil mematahkan perjuangan rakyat Gaza. Resolusi PBB ini, menurut hemat saya, lebih mirip pelampung emas yang dilemparkan kepada Israel ketika mereka mulai terseret arus opini global dan krisis moral internal. Sementara ribuan warga Gaza masih mencari anggota keluarga di bawah reruntuhan, dunia justru sibuk merapikan tepi kertas resolusi yang secara halus, namun tegas, menuliskan satu pesan inti: selamatkan Israel dari kegagalan strategisnya. Itulah ironi terbesar yang, entah bagaimana, mesti kita telan.

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi 💛

Amerika Serikat tentu memahami bahwa perang yang terlalu lama akan menelanjangi kepompong legitimasi moral Israel. Dunia mulai muak. Laporan-laporan investigatif, dari rumah sakit yang dibom hingga bantuan yang ditahan, perlahan merusak narasi lama “hak untuk membela diri”. Maka, apa yang dilakukan AS dengan resolusi ini bukan sekadar diplomasi; itu operasi penyelamatan reputasi. Dan ketika PBB mengangkat tangan menyetujui rancangan itu—13 negara mendukung, China dan Rusia hanya abstain—maka teranglah bahwa komunitas internasional siap bergeser dari sekadar penonton menjadi instrumen formal yang menekan kelompok perlawanan Gaza, atas nama “stabilisasi”. Kata kunci utama dalam seluruh drama ini memang resolusi PBB tentang Gaza. Dan ironisnya, resolusi itu lebih sering menyentuh keinginan Israel ketimbang kebutuhan rakyat Gaza.

Dalam narasi resmi, pembentukan International Stabilization Force (ISF) terdengar manis, nyaris lembut. Sebuah pasukan multinasional yang akan memastikan keamanan, mengawasi rekonstruksi, dan “melucuti kelompok bersenjata”. Namun mari kita bicara jujur, tanpa baju basa-basi. Melucuti kelompok bersenjata adalah tujuan yang sejak awal gagal dicapai Israel meski mereka mengerahkan tank, jet tempur, dan pasukan elit. Kini, tugas itu dilimpahkan ke pasukan internasional yang diberi legitimasi PBB. Itulah inti penyelamatan itu. Dalam konteks geopolitik, hal ini bahkan lebih halus dan efektif: Israel tak perlu lagi menanggung beban moral jika terjadi gesekan. Dunia yang akan menanggungnya. Sebuah outsourcing peperangan yang nyaris tak tersamar.

Hamas merespons dengan kemarahan yang terukur, sebuah kemarahan yang bukan tanpa alasan. Mereka menilai resolusi itu sebagai upaya memotong wilayah Palestina, memisahkan Gaza dari Tepi Barat, dan menempatkan warga Gaza di bawah perwalian internasional. Bagi mereka, ini bukan perdamaian; ini pemangkasan martabat. Dan sejujurnya, sulit menampik argumen itu. Ketika resolusi PBB tentang Gaza menyetujui mekanisme internasional yang mengelola perbatasan, sumber daya, dan keamanan, bukankah itu definisi baru kolonialisme gaya abad 21? Kolonialisme yang memakai helm biru dan kata-kata mulus seperti “stabilitas” dan “rekonstruksi”?

Saya rasa, kita sedang menyaksikan babak baru perang Gaza: bukan lagi pertarungan antara Israel dan Hamas, melainkan pertarungan antara kelompok perlawanan dan komunitas internasional yang memegang mandat formal. Ini semacam perang struktural, perang legal, perang di mana satu pihak dilabeli sebagai “gangguan terhadap resolusi PBB”, sementara pihak lain—yang memiliki rekam jejak panjang pelanggaran HAM—diberi ruang untuk mengatur ulang papan catur. Di dunia nyata, label-legitimasi jauh lebih mematikan daripada tank. Ia mengubah narasi, menggiring opini, dan perlahan menghapus simpati terhadap rakyat Gaza. Dalam analisis geopolitik, ini adalah transformasi: Gaza bukan lagi konflik, tetapi “masalah stabilitas internasional”. Istilah itu saja sudah cukup untuk menggeser posisi moral isu Palestina.

Di Indonesia, kita yang terbiasa menyaksikan birokrasi yang memelintir aturan demi kenyamanan elite tentu bisa memahami bagaimana sesuatu yang tampak administratif sebenarnya memuat keputusan-keputusan politis yang sangat beracun. Resolusi ini pun begitu. Kertasnya dingin, bahasanya formal, tetapi konsekuensinya panas dan berdarah. Saya ingat betul bagaimana warga kita sering terjebak dalam regulasi yang katanya “demi ketertiban”, tetapi dalam praktiknya hanya memuluskan langkah para pemegang kuasa. Sama persis dengan apa yang terjadi di Gaza hari ini, hanya saja skalanya global.

Maka ketika saya menyebut “Mandat PBB yang diam-diam menyelamatkan Israel”, itu bukan satire belaka. Itu refleksi dari bagaimana dunia bekerja. Konflik Gaza kini memasuki fase di mana bukan hanya senjata yang berbicara, tetapi juga struktur hukum internasional yang kabur batasnya antara perdamaian dan penataan ulang dominasi. Sementara itu, Gaza tetap Gaza—retak, hancur, dan dibiarkan tanpa suara. Resolusi PBB tentang Gaza mungkin akan dicatat sebagai upaya rekonstruksi, tetapi sejarah akan mengingatnya sebagai lembaran yang memindahkan beban perang Israel ke pundak komunitas internasional.

Akhirnya, kita harus bertanya: apakah dunia benar-benar menginginkan perdamaian? Atau hanya ingin sebuah keheningan yang nyaman, sebuah situasi tanpa gangguan, sebuah ketertiban yang rapi—meski rapi karena suara perlawanan telah dibungkam? Gaza terlalu sering menjadi panggung bagi kepentingan global, tetapi kali ini, panggungnya berubah menjadi laboratorium politik di mana rakyatnya menjadi objek. Dan kita yang membaca dari jauh hanya bisa menyaksikan bagaimana kata-kata dalam dokumen internasional dapat menyelamatkan satu negara, sambil pelan-pelan menenggelamkan suara bangsa lain.

Sumber:

2 Comments

2 Comments

  1. Pingback: Dukungan Semu Rusia–China terhadap Palestina

  2. Pingback: Membongkar Peran Gelap Barat di Perang Gaza

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer