Connect with us

Opini

Ketika Jurnalis Dunia Gagal Membela Sesamanya

Published

on

https://vichara.id/opini/perang-terhadap-jurnalis-haruskah-kita-diam/

Bau debu dan mesiu masih menempel di udara Gaza, tapi suara yang paling menyakitkan bukan berasal dari dentuman bom—melainkan dari hening newsroom di belahan dunia lain. Di sana, para jurnalis mengetik naskah, menulis headline, dan membahas rating, sementara rekan-rekan mereka di Gaza dibunuh satu per satu di bawah tenda pengungsian. Empat puluh empat di antaranya tewas di tempat yang mestinya paling aman. Dua ratus tujuh puluh wartawan gugur sejak Oktober 2023. Dan saya bertanya-tanya: apakah profesi ini masih punya hati?

Dulu, setiap kali seorang jurnalis tewas di medan liputan, dunia pers bergetar. Saat Jamal Khashoggi dibunuh, redaksi besar menurunkan halaman depan hitam. Saat Charlie Hebdo diserang, ribuan jurnalis turun ke jalan meneriakkan Je Suis Charlie. Tapi ketika jurnalis Gaza terbunuh di depan kamera, dunia pers hanya berbisik: “Kami prihatin.” Tak ada demonstrasi global. Tak ada solidaritas besar-besaran. Tak ada satu pun redaksi utama yang menurunkan layar hitam untuk Gaza.

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi 💛

Seolah nyawa wartawan di Timur Tengah nilainya tak sebanding dengan wartawan di Eropa. Seolah kamera yang merekam penderitaan Palestina tak layak mendapat penghormatan yang sama seperti kamera yang meliput di Paris. Ini bukan hanya ketimpangan empati; ini pengkhianatan kelas dalam profesi yang mestinya menolak segala bentuk diskriminasi.

Laporan Sindikat Jurnalis Palestina jelas: tidak ada aktivitas militer di sekitar tenda wartawan yang dibombardir Israel. Artinya, ini bukan kecelakaan. Ini pesan: “Kami akan membungkam siapa pun yang menyaksikan.” Tapi pesan yang lebih menyakitkan datang dari luar Gaza—dari sesama jurnalis di luar sana yang memilih diam. Diam yang panjang. Diam yang sopan. Diam yang disebut “netral.”

Saya rasa, inilah ironi terbesar jurnalisme modern: profesi yang menulis tentang keberanian, tapi takut ketika kebenaran mengancam kenyamanan politik. Banyak media besar masih menulis dengan kalimat steril: “Israel says it was targeting militants.” Kalimat pasif yang tampak netral, padahal menghapus pelaku. Mengganti pembunuhan dengan eufemisme. Membunuh untuk kedua kalinya—kali ini lewat bahasa.

Apakah jurnalis dunia sudah cukup membela rekan mereka di Gaza? Jawaban jujurnya: belum. Bahkan jauh dari cukup. Solidaritas profesi yang dulu membanggakan kini terfragmentasi, tertahan oleh redaksi, oleh kepentingan politik pemilik media, oleh rasa takut kehilangan akses liputan. Kita sedang menyaksikan generasi jurnalis yang lebih takut kehilangan visa ke Tel Aviv daripada kehilangan integritas di mata sejarah.

Di beberapa negara Barat, wartawan yang menunjukkan empati pada Gaza justru dibungkam. Ada yang dicopot dari liputan, ada yang dikeluarkan dari redaksi, ada yang dikriminalisasi karena menggunakan istilah “genosida.” Bayangkan, jurnalis yang membela jurnalis dibungkam oleh medianya sendiri. Profesi ini seolah memakan anaknya sendiri—mereka yang berani bersuara dianggap terlalu “emosional,” terlalu “tidak objektif.” Padahal, apa artinya objektivitas jika digunakan untuk menutupi kekejaman?

Saya sering berpikir, mungkin para jurnalis Gaza lebih jujur daripada kita semua. Mereka tak punya privilese untuk menulis dari jauh. Mereka menulis dengan napas yang tersisa, dengan anak-anak mereka di tenda, dengan ancaman rudal di atas kepala. Mereka tahu setiap laporan bisa menjadi laporan terakhir. Tapi justru dari sanalah muncul bentuk tertinggi dari jurnalisme: kesaksian. Bukan sekadar berita, tapi keberanian untuk menulis meski tahu tulisan itu mungkin berakhir bersama tubuh penulisnya.

Dan sementara mereka menulis dengan darah, kita di luar sana sibuk berdebat tentang “standar editorial.” Tentang kata mana yang pantas: “serangan” atau “pembantaian.” Tentang apakah boleh menyebut “pendudukan.” Tentang keseimbangan narasi yang tidak menyinggung pembaca. Di meja redaksi yang nyaman, penderitaan di Gaza diperlakukan seperti dilema linguistik, bukan tragedi kemanusiaan.

Ada satu hal yang harus diakui dengan jujur: jurnalisme global gagal berdiri sebagai komunitas moral. Kita lebih sibuk menjaga reputasi korporasi media daripada menjaga integritas profesi. Padahal, solidaritas jurnalis sejati tak mengenal batas negara atau agama. Ketika satu kamera hancur karena rudal, semua kamera di dunia seharusnya terguncang. Tapi hari ini, getarannya hanya terasa di Gaza. Di luar sana, newsroom berjalan seperti biasa. Headline terus berganti. Rating tetap jadi prioritas.

Di Indonesia pun, gema solidaritas itu terdengar sayup. Ada jurnalis yang menulis, ada yang berempati, tapi belum ada pergerakan kolektif yang lantang menegaskan bahwa pembunuhan jurnalis adalah serangan terhadap profesi kita sendiri. Kita menyebut diri “pejuang kebenaran,” tapi sering kali lebih sibuk mengurusi konten viral daripada menulis surat terbuka untuk rekan yang mati ditembak.

Mungkin inilah saatnya profesi ini berhenti bersembunyi di balik jargon “independensi.” Karena yang kita butuhkan bukan hanya independensi dari tekanan politik, tapi keberanian untuk berpihak pada kemanusiaan. Tidak ada jurnalisme sejati tanpa nurani. Tidak ada kebebasan pers tanpa solidaritas. Jika jurnalis tidak bersatu melawan pembunuhan terhadap rekan mereka sendiri, bagaimana mungkin publik percaya bahwa mereka akan berani membela kebenaran rakyat?

Dan ironinya, setiap kali dunia memuji jurnalisme investigatif atau liputan human interest, jarang ada yang bertanya: siapa yang membayar harga tertinggi agar berita itu sampai ke mata kita? Di Gaza, jawabannya sederhana—mereka yang tak lagi bernapas. Sementara di newsroom yang nyaman, banyak yang masih berdebat soal “tone” pemberitaan. Seakan tragedi bisa diukur dengan sensitivitas pasar.

Saya percaya, sejarah tak akan melupakan keberanian para jurnalis Gaza. Tapi sejarah juga tak akan memaafkan kebisuan jurnalis dunia. Karena di tengah ledakan rudal dan reruntuhan, bukan hanya suara manusia yang dibungkam—melainkan hati nurani profesi yang seharusnya menjadi saksi.

Dan kelak, ketika daftar nama wartawan Gaza dibacakan dalam peringatan tahunan kebebasan pers, saya harap dunia pers punya cukup keberanian untuk mengakui: bahwa yang mati di sana bukan hanya mereka, tapi juga sebagian dari martabat jurnalisme itu sendiri.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer