Opini
Tak Ada Kata Menyerah di Rafah
Di bawah reruntuhan Rafah, di antara labirin gelap yang kini disebut “krisis terowongan,” ada napas-napas yang masih menolak padam. Bukan sekadar para pejuang bersenjata, tapi manusia yang menggenggam sisa harga diri di tengah tanah yang nyaris tak tersisa. Dunia menyebut mereka terjebak. Israel menyebutnya krisis. Namun bagi mereka, ini bukan tentang jalan buntu — ini tentang mempertahankan arti hidup ketika segala yang lain telah dirampas.
Hamas, melalui sayap militernya, Brigade Al-Qassam, telah menegaskan satu kalimat yang menggema seperti doa di tengah debu: “Tidak ada kata menyerah dalam kamus kami.” Kalimat itu keluar bukan dari ruang nyaman atau mimbar politik, tapi dari bawah tanah, dari ruang sempit yang mungkin hanya seukuran tubuh manusia. Di sanalah kata-kata itu punya bobot yang tak bisa diukur dengan logika diplomasi.
Israel dan sekutunya menamai ini “tawaran damai.” Amnesty, mereka menyebutnya. Sebuah kompromi yang katanya akan menghentikan penderitaan. Tapi mari jujur sejenak: apakah penyerahan diri pernah menghentikan penjajahan? Apakah menyerah berarti bebas? Dunia tahu jawabannya, tapi memilih bungkam, karena kebungkaman kini lebih mudah daripada keberpihakan.
Sekitar dua ratus pejuang Palestina kini terkepung di terowongan Rafah, di bawah kota yang telah hancur oleh bom dan ketamakan. Mereka bukan sekadar tentara. Mereka adalah simbol dari sesuatu yang lebih tua dari perang — dari hak untuk berkata tidak di hadapan ketidakadilan. Barat menyebutnya ekstremisme. Tapi bagi rakyat Gaza, itulah sisa dari kemanusiaan yang belum bisa mereka kubur.
Ada yang berkata, mereka bodoh. Bahwa perlawanan hanya memperpanjang penderitaan. Bahwa yang bijak adalah mundur, menerima, memulai “rekonstruksi.” Tapi apa yang hendak direkonstruksi jika akar kehancurannya tetap ditanam? Apa gunanya membangun sekolah baru jika setiap anak tumbuh di bawah bayang penjajah yang sama?
Kita semua tahu, perdamaian yang ditawarkan tanpa keadilan hanyalah jeda di antara dua kekerasan. Dan dalam setiap “gencatan senjata,” yang benar-benar berhenti hanyalah detak jantung anak-anak Gaza, bukan peluru. Maka ketika Al-Qassam menolak tunduk, itu bukan hasrat untuk mati — itu penolakan untuk hidup tanpa martabat.
Washington, lewat laporan Axios, menekan Tel Aviv agar membuka jalan “solusi.” Mereka ingin para pejuang keluar dari terowongan, menyerahkan senjata, dan ditampung oleh pihak ketiga seperti Mesir atau Qatar. Sebagai imbalannya: amnesti. Tapi tawaran itu ibarat mengulurkan tangan sambil menancapkan pisau di punggung. Sebab yang ditawarkan bukan kebebasan, melainkan penyerahan atas hak paling mendasar — hak untuk menolak dijajah.
Ada ironi yang getir di sini. Dunia berteriak soal hak asasi, tapi selalu memintanya berhenti di gerbang Gaza. Mereka memuja Nelson Mandela, tapi mencela setiap orang yang berani melawan apartheid versi baru di tanah Palestina. Mereka membangun tugu untuk kemanusiaan, sambil menutup mata terhadap reruntuhan rumah yang hancur karena “operasi militer yang sah.”
Saya rasa, “tak menyerah” di Rafah bukan sekadar strategi militer. Itu bahasa eksistensial — semacam sumpah sunyi yang menegaskan bahwa manusia masih bisa memilih kehormatan di tengah kepungan maut. Dan bukankah itu yang membuat kita tetap disebut manusia?
Namun di balik retorika perlawanan itu, ada paradoks yang terus menggantung: dunia menuntut rakyat Gaza untuk bersikap rasional, sementara yang merampas hidup mereka bertindak seolah tak terikat hukum mana pun. Mereka diminta sabar, tapi tak diberi waktu untuk bernapas. Mereka disuruh berhenti melawan, tapi tak pernah ditawari hidup yang layak. Inilah absurditas yang membuat setiap kata “damai” terdengar seperti lelucon yang pahit — damai bagi siapa, dan di atas tulang siapa?
Israel kini mengklaim telah “menguasai Rafah,” tapi sejarah tak pernah berpihak pada angka-angka statistik. Kemenangan sejati bukan pada wilayah yang diduduki, melainkan pada keyakinan yang bertahan. Dari Vietnam hingga Aljazair, dari Aceh hingga Afrika Selatan — semua penindasan punya masa kedaluwarsa. Tapi selama itu berlangsung, dunia akan selalu mencoba menukar martabat dengan keamanan, keberanian dengan kepatuhan.
Dan mungkin, justru karena itulah Rafah menjadi semacam metafora tentang dunia modern kita — di mana setiap bentuk keteguhan dianggap ancaman, dan setiap penolakan terhadap dominasi disebut terorisme. Padahal yang benar-benar ditakuti oleh kekuasaan bukanlah senjata, tapi tekad yang tak bisa dikalahkan oleh logika ketakutan. “Tak menyerah” bukan slogan perang, tapi peringatan: bahwa selama ada satu jiwa yang menolak tunduk, penjajahan tak akan pernah tenang.
Ada sesuatu yang absurd ketika negara penjajah bisa memonopoli makna damai. Damai, bagi mereka, berarti diam. Dan diam, di Gaza, berarti mati. Maka jangan heran jika yang masih hidup memilih berbicara dalam bahasa batu dan terowongan.
Bagi saya, Rafah kini bukan lagi sekadar kota di peta. Ia adalah simbol tentang bagaimana dunia menoleransi ketidakadilan asal tidak mengganggu kenyamanan. Ia adalah cermin: kita bisa melihat siapa yang masih punya nurani, dan siapa yang sudah kehilangan wajahnya sendiri.
Kita mungkin tak berada di Rafah, tapi kita juga hidup di dunia yang serupa — dunia yang terus menuntut kita menyerah pada sistem yang menindas dalam diam. Maka ketika mereka berkata “tak ada kata menyerah,” itu bukan hanya pesan untuk Israel. Itu teguran untuk kita semua yang perlahan terbiasa pada ketidakadilan.
Di akhir hari, mungkin Rafah akan hancur sepenuhnya. Terowongan bisa runtuh, tubuh bisa tak ditemukan, tapi ide tentang kebebasan tak bisa dikubur. Setiap anak Gaza yang tumbuh di reruntuhan itu akan mewarisi satu kalimat yang sederhana namun abadi: tak ada kata menyerah.
Dan mungkin, di situlah letak kemenangan yang tak bisa direnggut oleh siapa pun.
